Perjalanan

Asal-usul Danau Toba: Geologi vs Mitologi

Tulisan ini adalah hasil pengamatan dan penelitian yang dibuat oleh adik saya Ricky Andrian Tampubolon. Beliau adalah geologis yang pada saat menuliskan tulisan ini sedang menikmati liburan di Sumatera Utara.

Saking takjubnya dia akan keindahan Danau Toba, akhirnya dia pun tergerak untuk menuliskan asal usul Danau Toba dilihat dari segi Geologi dan Mitologi.

Perayaan HUT RI ke-71 di Danau Toba Sumatera Utara.

Tidak terasa, sebentar lagi Indonesia akan merayakan hari kemerdekaannya ke-71 di Danau Toba. Sepertinya perayaan nanti akan sangat megah.

Demikian kesimpulan yang saya dapat setelah membaca tulisan yang ada di koran. Tapi alangkah sayangnya, ketika saya baru saja berkunjung ke Danau Toba.

Ternyata masih banyak warga sekitar yang belum mengetahui bahwa daerah mereka akan menjadi tempat perayaan hari kemerdekaan.

“Kesedihan” ini juga saya rasakan kalau kita sebagai warga Indonesia, tidak mengenal kekayaan alam luar biasa yang kita punya di tanah air kita sendiri, yaitu Danau Toba.

Danau Toba dan Keindahannya.

Luar biasa sekali sebenarnya pemandangannya, dan begitu pula kisah di baliknya.

Ketika saya berdiri di tepi Danau Toba, saya mencoba meyakinkan diri saya sendiri bahwa hamparan air di depan saya itu bukan laut, melainkan danau.

Sungguh penuh khidmat sekali rasanya memandangnya, berpikir lagi  mengenai keberadaan saya sendiri di bumi ini, siapa manusia.

Dan menyadari betapa kecilnya ternyata saya di antara bukit-bukit yang mengapit danau yang luas ini.

Hari pun senja, saatnya saya kembali ke kamar dan tidur dengan lelap.

danau toba 1

Source : Dokumentasi pribadi

Dari Danau Toba ke Tambora.

Saya kembalikan angan ke masa lalu, saya mengingat betapa pentingnya Indonesia dalam perubahan tatanan kehidupan di bumi.

Contohnya saja, pergerakan tektonik lempeng Australia menghantam Asia sampai bisa ke posisinya sekarang.

Dimana Indonesia, 3 juta tahun yang lalu tertutup sirkulasi air laut (Western Pacific Warm Pool) dan kemudian berubah arah ke utara, daerah Jepang.

Lalu apa yang terjadi? Global climate change dan aridifikasi (pengurangan curah hujan) di Africa, dan mendorong migrasi manusia sebelum kita keluar dari Africa.

Belum lagi, letusan Gunung Tambora tahun 1816, membuat tahun tanpa musim panas, bahkan di Eropa dan Amerika, menyebabkan gagal panen besar-besaran dan kelaparan di mana-mana.

Maria Shelley menulis “Frankenstein”, tokoh horror, di masa-masa suram tersebut.

Danau Toba dari segi geologi.

Diantara dua kisah itu, adalah letusan Toba yang sangat dahsyat, ketika 74.000 tahun yang lalu  28.000 km3 magma keluar menandakan erupsi terbesar di periode Kuarter1 (± 2.5 juta tahun yang lalu).

Populasi manusia mengalami “bottleneck”, diperkirakan hanya sekitar 10.000 orang yang bertahan di Bumi, dan mereka adalah manusia yang tinggal equator Afrika2.

Sulfur dalam jumlah yang besar keluar dan menutupi atmosfer, dan 6 tahun lamanya terjadi “volcanic winter”, dan kemudian diikuti 1000 tahun lamanya “ice age”2.

Semua flora dan fauna di Sumatera Utara mengalami kepunahan  massal karena tertutup ignimbrite (produk vulkanisme), dan begitu pula kepunahan parsial di SE Asia1.

Kalau kita melihat dari kejauhan, terdapat kumpulan gunung-gunung berjejer di tepi barat Pulau Sumatra.

Mereka disebut sebagai Bukit Barisan, membuat bentukan Pulau Sumatra tidak simetris. Ini adalah hasil dari tunjaman lempeng India-Australia di bawah Lempeng Asia.

Itu sebabnya sepanjang zona ini terdapat banyak sesar-sesar aktif dan gempa-gempa sampai sekarang. Di daerah Sumatra, kumpulan bukit ini disebut sebagai “Batak Tumor”.

Bentuknya seperti tumor ini sebenarnya adalah gumpalan magma silika dalam jumlah yang besar berkumpul dalam waktu yang sangat lama.

Sekitar 1.2 juta tahun yang lalu dan kemudian meletus atau dimuntahkan dalam jumlah yang dahsyat dan waktu yang singkat pada 74.000 tahun yang lalu.

Sekarang, Danau Toba adalah danau volkanik terbesar di dunia dengan ukuran 75×30 km.

danau toba 2

Sumber : disini 

Setelah letusan yang dahsyat itu, kaldera yang terisolasi oleh tebing-tebing yang curam.

Terisi oleh air hujan dengan kecepatan 750 mm/tahun, juga adanya lapisan-lapisan akuifer dan surface runoff membuat Danau Toba terisi seperti sekarang1.

danau toba 3

Source : Chesner (2011).

Bagaimana dengan Pulau Samosir?

Bayangkan saja, sekitar 33.000 tahun yang lalu Pulau Samosir tersebut masih di bawah level danau1, artinya tidak ada pulau sama sekali.

Lalu dengan pengangkatan 1.8 cm/tahun, Pulau Samosir yang dulunya di bawah danau, lalu terangkat secara perlahan-lahan ke atas sampai sekarang karena tunjaman lempeng.

Proses yang sama yang membuat Bukit Barisan seperti sekarang.

Kalau dipikir-pikir, 1.8 cm mungkin adalah jumlah yang kecil bagi manusia, tapi kalau angka tersebut dikalikan dengan puluhan ribu tahun.

Maka dia akan bisa menjadi sangat besar, ya seperti Pulau Samosir yang kita lihat sekarang.

danau toba 4

Source : Chesner (2011).

Mitologi Danau Toba.

Saya kembali teringat ketika masih kecil, saya sering didongengkan mitologi tentang terbentuknya danau toba.

Ya, tentang seorang petani sederhana bernama Toba yang menangkap ikan, yang ternyata menjelma menjadi wanita cantik.

Singkat cerita, Toba menikahi wanita cantik ini dengan syarat tidak akan membocorkan rahasia bahwa istrinya adalah berasal dari ikan.

Syarat tersebut pun diiyakan oleh Toba dan mereka memiliki anak yang bernama Samosir.

Suatu waktu Toba mendapati Samosir menyantap lauk dengan rakus, dan Toba pun memarahi Samosir dan mengatakan dia adalah anak ikan.

Perkataan tersebut membuat Toba mengingkari janjinya di awal. Dan kemudian datanglah hujan begitu deras menerpa, dan menjadi banjir hingga menjadi Danau Toba.

Samosir, karena menuruti kata ibunya untuk mencari tempat yang tinggi, akhirnya selamat, dan kemudian menjadi Pulau Samosir.

Sekilas ini merupakan suatu cerita singkat yang menarik dan tentu ada pembelajaran yang bisa kita ambil, apalagi bagi anak-anak.

Bukan hanya ini saja, kita sudah begitu banyak mendengar mitologi tentang terjadinya suatu daerah.

Seperti amarah Sangkuriang yang membentuk Tangkuban Perahu, atau legenda Timun Mas di Jawa Timur, dan betapa banyak lagi.

Leluhur yang menulis cerita ini, dan kemudian menceritakannya ke generasi berikutnya, mungkin tidak mengerti rumitnya proses-proses alam yang terjadi.

Tetapi kita, dengan pengetahuan yang lebih maju dapat mengerti lewat ilmuwan-ilmuwan.

Yang telah menghabiskan banyak waktunya untuk dapat sampai ke pemahaman seperti ini, dan semestinya harus dapat diteruskan pula ke generasi berikutnya.

Harapan untuk Danau Toba saat Ini.

Lantas, apakah kita lebih baik dari leluhur kita? Mungkin kita bisa menjawab “iya” kalau kita dapat menjaga Danau Toba bersih .

Supaya lebih banyak orang yang dapat menikmati keindahannya, seperti leluhur kita yang meneruskan cerita dongeng tersebut.

Kalau Danau Toba tidak kita dapati bersih dan nyaman, siapa orang yang tertarik mendengar cerita itu?

Mungkin cerita itu akan tersimpan di rak-rak berdebu dan kemudian terlupakan.

Dan tentu bukan rahasia lagi, betapa Danau Toba mengalami pergumulan untuk mencapai kelestarian alaminya.

Bukan karena kerusakan alam, tetapi karena manusianya!

Padahal, danau tersebut dulu adalah gunung, Pulau Samosir dulu hanya terendam oleh danau. Puluhan ribu tahun lamanya,letusan dahsyat.

Kemudian terisi oleh air dan terangkat sampai akhinya seperti sekarang.

Leluhur kita (mungkin ribuan tahun sebelumnya), menikmatinya, hidup di sekitarnya.

Membuat kerajinan di sekitarnya berpuisi tentangnya, dan kemudian berdongeng dan menceritakan untuk anak-anak mereka.

Lalu kita, merusaknya.

Mari kita introspeksi diri bersama-sama. Semoga tahun ini menjadi suatu harapan baru untuk Danau Toba

Lestari kembali.

Selamat Hari Kemerdekaan.

Semoga dengan penjabaran mengenai Asal Usul Danau Toba Geologi vs Mitologi menambah wawasan dan kecintaan kita akan negeri kita Indonesia.

 

Sumber :

1Chesner, C.A., The Toba Caldera Complex, Quaternary International (2011), doi:10.1016/j.quaint.2011.09.025

2 http://www.bradshawfoundation.com/stanley_ambrose.php

 

43 Comments

  1. cumilebay.com 15 Agustus 2016
    • Adelina 15 Agustus 2016
      • cumilebay.com 21 Agustus 2016
  2. Nella (emaknya Benjamin) 15 Agustus 2016
    • Adelina 15 Agustus 2016
  3. udafanz 15 Agustus 2016
    • Adelina 15 Agustus 2016
  4. winnymarlina 15 Agustus 2016
  5. Inayah 16 Agustus 2016
    • Adelina 16 Agustus 2016
  6. jonathanbayu 16 Agustus 2016
    • Adelina 18 Agustus 2016
  7. Mirwan Choky 17 Agustus 2016
    • Adelina 17 Agustus 2016
  8. mayang_koto 18 Agustus 2016
    • Adelina 18 Agustus 2016
  9. ryan 18 Agustus 2016
    • Adelina 19 Agustus 2016
  10. Monda 19 Agustus 2016
    • ryan 19 Agustus 2016
      • Adelina 19 Agustus 2016
        • ryan 19 Agustus 2016
          • Adelina 20 Agustus 2016
  11. prih 20 Agustus 2016
    • Adelina 20 Agustus 2016
  12. alrisblog 20 Agustus 2016
    • Adelina 20 Agustus 2016
    • Adelina 20 Agustus 2016
  13. evrinasp 20 Agustus 2016
    • Adelina 20 Agustus 2016
  14. PejalanSenjaID 23 Agustus 2016
    • Adelina 23 Agustus 2016
  15. bersapedahan 23 Agustus 2016
    • Adelina 23 Agustus 2016
    • Ryan 26 Agustus 2016
      • Adelina 26 Agustus 2016
  16. Ceritaeka 23 Agustus 2016
    • Adelina 23 Agustus 2016
  17. samuel 23 Agustus 2016
    • Adelina 23 Agustus 2016
  18. Fahmi Anhar 26 Agustus 2016
    • Adelina 26 Agustus 2016

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: