Tubuh menjadi Lentur atau Fleksibel dengan Gerakan Yoga

gerakan yoga untuk tubuh lentur 2

 

Bagaimana membuat tubuh lentur dengan gerakan Yoga menjadi satu dari sekian banyak pertanyaan yang saya terima setiap kali mendengar kata Yoga. Saya tidak terlahir dengan bentuk tubuh yang lentur dan elastis. Dan saya tidak dibesarkan untuk menjadi sebagai seorang penari ataupun balerina. Tapi bisa dipastikan setelah berlatih bertahun-tahun didunia Yoga kelenturan tubuh saya pun berubah.

Saya melihat dari sekian banyaknya peserta Yoga. Dan saya mengambil kesimpulan bahwa tubuh lentur tidak ditentukan oleh jenis kelamin, bentuk tubuh, umur, ataupun berat badan. Jadi bisa dibilang fleksibilitas menjadi misteri yang harus dipecahkan oleh setiap pelaku untuk diri nya sendiri.

Ketika saya mencoba membuka kaki lebih lebar dari yang biasa saya bisa lakukan. Yang pasti kening saya pun mengkerut. Ada keraguan dalam pikiran saya. Kira-kira bisa nga sich saya melakukannya? Sekujur tubuh saya keringat dingin. Tapi saya tau ada batas dari diri saya yang ingin melakukan lebih dari yang bisa saya lakukan. Ini bukan tentang memaksakan diri. Tetapi tentang mendengar dan tau sampai dimana batas kemampuan kita sendiri.

Fleksibilitas lebih kepada pikiran bukan pada tubuh.

Dalam pelajaran Yoga, guru saya selalu menekankan kepada latihan fisik, mental, emosional. Ketiga hal ini haruslah balance atau seimbang. Kadang kala kita terlalu memaksakan diri kita hanya pada latihan fisik tanpa menyadari pikiran dan emosional kita. Jika pikiran dan emosional kita rileks otomatis tubuh pun fleksibel atau lentur. Mungkin sekilas itu terlihat terlalu mengada-ada. Tapi saya sudah membuktikan dan hal tersebut benar adanya.

Sepanjang latihan yoga, ada beberapa gerakan yang alurnya dapat mengarahkan perhatikan mental dan emosional kita kebagian yang meregangkan pikiran. Seperti contoh, pada setiap gerakan atau alur yoga para yogi diminta untuk mengatur nafas dan ritme tubuh sepanjang gerakan. Gerakan mengatur nafas atau ritme tubuh ini disebut dengan pranayama yoga. Dan saya rasa inilah yang membuat Yoga berbeda dengan olahraga pada umumnya.

Jika didalam tahapan ini mental dan emosional kita sudah stabil, otomatis tubuhpun sudah siap melakukan gerakan yang menuntut fleksibilitas yang lebih rumit.

 

Fokus pada proses bukan tujuan.

Saya rasa point ini berlaku untuk semua hal dalam kehidupan. Tetapi karena kita membahas mengenai Yoga, maka saya mencoba menjelaskan dari perspektif yoga. Sering sekali dalam kelas, saya dituntut untuk mengajarkan kepada teman-teman mengenai gerakan-gerakan yang lebih ektrim. Semisal headstand ataupun acro yoga yang menuntut tingkat kemampuan yang lebih tinggi.

Nah disini saya mesti bijaksana melayani permintaan dengan jawaban yang baik. Karena jika saya menuruti permintaan tersebut, sedangkan tubuh mereka belum siap untuk diberi gerakan-gerakan yang ektrim yang ada tubuh mereka shock dan terjadi cedera. Ujung-ujung nya membahayakan tubuh kita sendiri.

Kadang kala kita terlalu terikat pada suatu tujuan atau pose tertentu tanpa melihat kemampuan tubuh kita sendiri. Padahal tujuan sebenarnya dari yoga adalah menikmati pose demi pose dan melihat proses dari tubuh kita sendiri. Ketika saya memulai berlatih yoga, saya tau dengan persis bagaimana saya kesusahan untuk mencium lutut saya sendiri. Tapi selang bertahun-tahun saya dapat dengan mudah mencium lutut malah melebihi jangkauan lutut sekalipun. Dan saya menikmati proses tersebut minggu demi minggu dan bulan demi bulan.

 

gerakan yoga untuk tubuh lentur 1

 

Fleksilitas seperti membuka simpul.

Istilah ini saya dapat dari seorang Yogi terkenal yaitu Kino Macgregor.

Flexibility is like untying a knot. If you just pull and force it, you’ll end up making it worse. The body has its own time to release the tension, it will unwind when it’s ready, like a flower blooming, and not a moment before. Spring flowers don’t open in winter for a reason. The fall harvest isn’t ready in the spring for a reason. Your body has its rhythm and its reasons. The yoga practice is about tuning in, feeling, listening and respecting the intelligence of the body.

 

Fleksibilitas seperti membuka simpul. Jika kita menarik dan memaksanya, akan membuatnya semakin buruk. Tubuh memiliki waktu sendiri untuk melepaskan ketegangan, ia akan bersantai ketika sudah siap, seperti bunga yang mekar, dan tidak sesaat sebelumnya. Bunga musim semi tidak terbuka di musim dingin karena suatu alasan. Panen musim gugur belum siap di musim semi karena suatu alasan. Tubuh memiliki irama dan alasannya. Latihan yoga adalah menyetel, merasakan, mendengarkan, dan menghormati kecerdasan tubuh.

 

Menjadikan Tubuh Lentur dengan gerakan Yoga, dibutuhkan Komitmen dan Disiplin Yang Tinggi.

Melatih tubuh lentur dengan gerakan yoga menuntut disiplin yang tinggi. Kadang dalam perjalanan latihan, kita terganggu dengan lingkungan sekitar kita. Sudah berlatih dan berdisiplin dengan sungguh-sungguh ternyata hasil yang didapat tidak semaksimal yang kita harapkan. Justru teman atau orang disekitar kita lebih luwes dan lentur daripada kita. Yang ada membuat kita menjadi lebih stres dan frustasi.

Fleksibilitas menyangkut disiplin pikiran dan pengalaman tubuh. Jika tujuan utama hanya menyangkut pose atau asana. Saya yakin bahwa perjalanan saya akan Yoga pasti hanya seumur jagung. Lelah dan stres karena tujuan yang saya inginkan tidak tercapai. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Semakin saya menikmati proses tubuh, saya semakin bergairah dan lebih giat lagi berlatih. Karena saya merasakan perubahan tubuh saya menjadi lebih baik. Tubuh lentur dengan gerakan yoga membuat saya lebih mengenal kemampuan dan batasan yang bisa saya capai.

 

gerakan yoga untuk tubuh lentur 3

10 Replies to “Tubuh menjadi Lentur atau Fleksibel dengan Gerakan Yoga”

Tinggalkan Balasan