Tidak Jalan-jalan di Libur Lebaran, tidak masalah

Hal yang dikangenin selama masa pandemik Covid 19 alias Corona adalah Traveling atau jalan-jalan. Apalagi libur lebaran seperti ini rasanya nga pernah absen buat pergi ke luar kota. Kapan lagi punya waktu libur panjang tapi dipotong cuti nya sedikit, kalau bukan dimasa libur lebaran. Tapi melihat kondisi yang ada rasanya tidak jalan-jalan di libur lebaran menjadi tidak masalah.

Sebenarnya saya dan teman-teman sudah merencanakan berlibur ke Sumba di awal tahun. Agak ragu dan sedikit kuatir pada saat membeli tiket, ketika mendengar wabah ini mulai gempar. Akhirnya kamipun memutuskan menunda sambil melihat situasi sampai wabah berlalu.

Dalam hati, sumber wabahnya kan jauh. Nga mungkin dech sampai ke Indonesia yang mana penduduk kita kuat dan sehat. Secara kebiasaan kita sehari-hari bisa dibilang jauh dari kata bersih dan itupun kita bertahan akan kondisi yang ada. Kondisi tersebut membuat imun tubuh kita lebih kuat dan rentan terhadap penyakit.

Tapi koq yach makin kesini berita-berita yang kita dengar membuat hati cemas, stress. Apalagi ketika Pemerintah memberlakukan PSBB. Yang ada banyak Perusahaan yang bangkrut sehingga pemberhentian karyawan sepihak tidak terhindarkan. Dan itu semua membuat hati menjadi semakin nga menentu.

merindukan biru nya laut
Merindukan biru nya laut. Foto diambil dari Pexels.

Hal Positif dalam menanggapi wabah Corona

Tapi yach namanya musibah berjamaah, tidak ada yang bisa menduga dan juga tidak bisa diratapi terus menerus. Kita hanya bisa berserah kepada yang di atas dan tetap semangat mengisi hari-hari. Walaupun ketika dijalanin tidak semudah yang dibayangkan.

Sebagai manusia kita harus tetap berdiri tegak dan melihat semua dari sisi positif. Banyak kebiasaan-kebiasaan yang tadinya rutin kita lakukan, perlahan tapi pasti harus bisa diubah bahkan dihilangkan. Kita kembali belajar menerapkan hal baru dan menjadikannya kebiasaan baru atau istilah sekarang new normal.

Beberapa hal yang saya lihat cukup menarik dan positif selama masa pandemik Covid 19 adalah:

Menabung

Saya bukan ahli dalam financial planner. Pada kondisi normal sebelum masa Corona, saya selalu membiasakan diri menabung. Tapi yang namanya tuntutan sosial dan pergaulan, saya pasti tidak luput dari yang namanya belanja-belanja dan nongkrong di cafe.

Gimana tidak, wajar dong yach kita menikmati hidup setelah sebulan bekerja keras. Tetapi dengan kondisi saat ini, kita dituntut tidak keluar rumah. Yang berakibat pengeluaran untuk nongkrong, makan diluar dan belanja menjadi hal yang tidak perlu.

Bisa dibilang saya tidak terlalu hobi nge-mall. Jadi ketika dipaksa untuk tidak nge-mall rasanya bukan hal yang sulit buat saya. Begitu juga dengan jajan dan belanja. Tanpa ada wabah seperti ini pun saya selalu membiasakan diri memasak dan membawa bekal sendiri.

Tetapi yang membuat saya selalu jatuh bangun dalam persoalan keunangan pribadi adalah ketika promo tiket pesawat datang, mulai dech kalap. Rasanya guilty pleasure yang selalu membuat kantong bolong kayaknya ini dech. Tapi bersyukurlah dengan adanya masa-masa sulit seperti ini keinginan untuk membeli tiket dapat di rem dengan kencang.

Dengan hal-hal yang disebut diatas bisa dibilang bahwa tidak jalan-jalan selama libur lebaran akibat pandemik Covid 19 atau Corona menjadi tidak masalah atau sesuatu hal yang dapat dimaklumi.

tidak bisa mudik lebaran

Tidak jalan-jalan atau mudik di libur lebaran, tidak masalah. Foto dari pexels

Mengisi waktu dengan mengembangkan hobi

Memulai kebiasaan baru membuat kita kreatif menjadikan hari lebih menyenangkan. Yang tadinya kita tidak punya waktu untuk melakukan hobi, nah sekarang nich kita diberi kesempatan lebih serius dengan apa yang kita sukai.

Saya senang menghabiskan waktu membaca, menonton, berbenah-benah rumah dan yoga. Dengan menghabiskan hari melakukan hal-hal yang kita sukai membuat hari berjalan dengan cepat dan berkualitas.

Saya sangat senang membaca. Cerita saya akan hobi membaca pernah saya tulis juga. Masa kecil di kampung yang jauh dari hiruk pikuk keramaian, membuat saya harus puas dengan menikmati buku sebagai hiburan.

Begitu juga dengan olahraga, fotografi dan berbenah rumah. Bagi saya, aktivitas tersebut menyenangkan, berguna dan juga sehat.

Tapi ada juga hal atau aktivas yang sampai hari ini selalu saya lakukan tapi saya tidak terlalu mahir yaitu memasak. Memasak adalah pekerjaan yang selalu saya kerjakan tiap hari, tapi saya tidak terlalu senang melakukannya. Saya punya ekspektasi tinggi akan suatu hasil masakan yang sederhana tapi enak.

Ternyata memasak itu bukan keahlian yang cocok buat saya. Tiap kali memasak saya cukup frustasi hasil masakan tidak sesuai dengan bayangan saya. Padahal resep dan tahapan memasaknya benar-benar plek saya ikutin.

pemandangan kota di malam hari
Pemandangan kota di malam hari. Foto dari Pexels.

Mempelajari Hal-hal yang baru

Sampai hari ini saya masih berjuang menemukan hal baru apa yang mesti saya pelajari dan membuat saya enjoy. Hal baru yang saya pelajari selama masa pandemik Covid 19 antara lain belajar merajut, baking dan bertanam.

Untuk merajut, saya pernah ikut kursus. Dan selama masa pandemik saya coba mengulang pelajar melalui online mengikuti tutorial di youtube. Sudah menyiapkan benang dan alat rajut tapi ketika ketika ngikutin cuma bertahan 30 menit setelah itu saya nyerah.

Sedangkan untuk baking dan bertanam, nga beda jauh dengan merajut, itu semua tidak berhasil. Masa kecil saya sangat dekat dengan kebiasaan masak-memasak dan bertanam. Ibu saya cukup rajin membuat berbagai macam kue, tapi entah kenapa kemahiran ibu saya tidak menular kepada saya. Begitu juga dengan tanam menanam, rasanya apapun yang saya tanam berujung busuk atau mati.

Mempelajari hal baru masih menjadi PR buat saya di masa pandemik ini. Semoga diakhir wabah saya menemukan hal baru yang menyenangkan.

merindukan jalan-jalan
Jika kondisi normal, bisa jalan-jalan lagi seperti dahulu. Foto dari Pexels.

Mensyukuri Banyak Hal yang masih kita punya

Setelah merenungkan banyak hal selama masa pandemik ini, akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa segala sesuatu yang kita alami harus dapat kita syukuri. Termasuk tidak jalan-jalan di libur lebaran menjadi tidak masalah lagi.

Sebelum adanya wabah Corona, kita merindukan waktu luang yang banyak. Sering kali kita menjalani hari-hari dengan perasaan capek dan stress akibat macet ataupun pekerjaan yang menumpuk. Saat ini kita diberi kesempatan untuk beristirahat dan mengisi hari-hari dengan waktu yang tidak terbatas.

Saya masih dapat berinteraksi dan berada diantara orang-orang yang saya kasihi merupakan hal yang sangat saya syukuri akhir-akhir ini.

Tidak jalan-jalan di libur lebaran, tidak masalah. Semoga kita dapat melewati masa pandemik ini secepatnya. Dan sebelumnya saya ucapkan Selamat Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin buat teman-teman yang merayakan.

5 Replies to “Tidak Jalan-jalan di Libur Lebaran, tidak masalah”

  1. Mohon maaf lahir bathin ya Del… Sedih dan bosen juga sih di rumah terus, kadang saya keluar hanya untuk menghirup udara segar (dari balik masker) karena tinggal sendiri di kosan. Semoga cepet kelar… Kasian orang2 yg gak bisa makan kalo gak kerja di luar…

    1. Mohon maaf lahir dan batih mas. Tahun ini Lebaran berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yach. Tapi tidak mengurangi makna dari Lebaran itu sendiri. Amin. Semoga semua segera berlalu dan kita kembali normal seperti dulu lagi. Sehat-sehat yach mas.

  2. Mohon ma’af lahir dan bathin juga ma Adelina. Masa pandemi membuat ide mengisi waktu di rumah semakin memunculkan kreativitas ya.

    Aku termasuk yg merasa kegiatan memasak itu bagi orang2 kok bisa selesai cepat, hasilnya oke. Saya udah setengah hari rasanya di dapur, hasil masakannya ya begitu2 aja 😀 .

    Semoga wabah ini segera berakhir, grafiknya terus turun. Sehat-sehat terus, mba.

    1. Mohon maaf lahir dan batin mbak. Amin semoga wabah cepat berlalu dan kita selalu sehat yach mbak.

      Senang lihat orang yang punya talenta memasak yach. Mbak termasuk orang yang bisa memasak enak loh. Lihat foto hasil masakan mbak menggiurkan. hehehehehe…

Tinggalkan Balasan