Bandar Udara Komodo

bandar udara komodo 2

 

Artikel ini adalah cerita hari terakhir dimana saya dan teman-teman mengakhiri perjalanan trip Komodo . Selesai dari Goa Batu Cermin dari jam 10:30 sampai jam 12:30, kami pun makan siang yang mana dari perjalanan Nina sudah menelphone seorang teman untuk menyiapkan menu makanan yang nanti akan kami makan.

Jadi setelah sampai di warung makan, makanan sudah tersedia tanpa harus menunggu lagi makanan dimasak atau digoreng. Sehingga sesampainya di warung, makanan sudah tersedia dan langsung dimakan untuk menghemat waktu. Butuh waktu singkat untuk menghabiskan makanan, kami langsung berangkat lagi menuju tempat yang menjual oleh-oleh dan kerajinan tangan yang posisinya tepat diseberang bandara.

Karena disini tidak ada makanan khas yang bisa saya bawa pulang ke jakarta untuk dijadikan oleh-oleh akhirnya saya sama sekali tidak membeli apa-apa disini. Sempat tertarik sama kain tenun tapi bingung aja entar kalau beneran beli trus nantinya nga bakalan kepake jadi buat apa? Sudah gitu harganya mahal lagi, hikss..

Karena pesawat yang kami tumpangi berangkat jam 15:45 jadi jam 14:00 kami pun menyelesaikan urusan belanja-belanja dan langsung menyeberang ke bandara untuk check in dan mengurus bagasi. Di bandara kami punya waktu 1 jam lebih untuk melihat-lihat dan menanti kedatangan pesawat.

Dari 18 peserta yang ikut trip Komodo, 1 orang tetap tinggal di Labuan Bajo meneruskan trip keliling dan wisata kota Labuan Bajo karena besok akan melanjutkan perjalanan ke Ende. 3 orang langsung pulang ke Jakarta dimana sebelumnya transit dulu di Bali, sedangkan 14 orang lainnya akan tinggal sehari di Bali dengan tujuan wisata Nusa Penida Bali. Hip hip horeee..

Jadi di Bandara Labuan Bajo lah kesempatan kami terakhir bertemu dalam kelompok yang komplit sebelum berpisah di Bandar Udara Gusti Nguhrah Rai. Selamat tinggal Labuan Bajo, selamat tinggal komodo-komodo dan selamat tinggal laut dan pantai yang keren-keren. Saya akan selalu merindukan kalian. Doakan suatu hari nanti saya akan kembali kesini. Aminnn.

Berikut ini pemandangan dan situasi yang ada di Bandar Udara Komodo – Labuan Bajo, desain bangunannya baru, mengikuti desain bandara yang ada diseluruh Indonesia, masih sepi dan rapi. Belum banyak terdapat tenant jadi masih banyak ruang-ruang yang kosong.

 

bandar udara komodo 4

 

bandar udara komodo 5

 

bandar udara komodo 6

 

bandar udara komodo 7

 

bandar udara komodo 8

 

bandar udara komodo 9

bandar udara komodo 1

 

 

 

Goa Batu Cermin Labuan Bajo

Setelah check out dari penginapan di Sylvia Hotel jam 10 pagi, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Goa Batu Cermin. Jarak dari Hotel menuju Goa sekitar 4 km atau hanya 15 – 20 menit saja dengan kendaraan bermotor. Ternyata Labuan Bajo selain merupakan pintu gerbang turis menuju Pulau Komodo dan sekitarnya, daerah ini juga punya objek wisata yang juga meninggalkan bukti sejarah bahwa daerah ini dulunya merupakan dasar laut.

Penemu goa ini adalah Theodore Verhoven, seorang pastor Belanda yang juga seorang arkeolog, pada 1951. Dimana goa ini tepatnya berada di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, mempunyai luas sekitar 19 hektar dengan tinggi goa sekitar 75 meter. Untuk menuju goa, dari tempat parkir kendaraan, kita harus berjalan kaki sekitar 300 meter menyusuri jalan setapak. Pada siang hari seperti jam kami berkunjung wisatawan banyak kami temui. Baik itu wisatawan dari luar negeri, dalam negeri ataupun siswa yang datang untuk mengerjakan tugas sekolah.

Dari tempat parkir menuju goa kita mesti berjalan kaki terlebih dahulu. Disepanjang jalan sudah disediakan jalanan setapak sehingga kalaupun datang kesini saat musim penghujan menuju goa tidaklah becek dan berlumpur. Dikiri kanan menuju goa kita akan menemukan tumbuhan bambu yang berderet dan dapat dijadikan objek foto preweding disini, sangatlah bagus. Mendekati goa kita akan bertemu dengan batu-batu besar dan kita harus melewati celah batu untuk masuk ke goa tersebut.

Tadinya sempat bingung apanya sich yang istimewa dari goa ini. Ternyata di goa ini selain meninggalkan bukti bahwa dahulunya area ini adalah dasar laut dengan meninggalkan fosil berupa ikan dan binatang laut yang ada disekitar dinding goa, juga merupakan goa yang masih hidup dengan stalagtit dan stalagmit yang ada disepanjang goa.

Dan diujung goa terdapat lubang diatas permukaan goa sehingga matahari dapat masuk dan menimbulkan efek cahaya yang sangat indah seperti yang saya pernah temui di Goa Jomblang Jogjakarta. Sinar matahari yang masuk ke dinding goa memantulkan cahaya diarea lain didalam goa sehingga menimbulkan efek seperti cermin, maka goa ini pun disebut goa batu cermin. Pantulan-pantulan yang dihasilkan oleh dinding goa berasal dari kandungan garam yang ada sehingga kelihatan seperti cahaya kristal.

Karena kita akan memasuki area goa dimana didalam goa tersebut terdapat lorong dengan ukuran yang tidak begitu besar sehingga kamipun diminta untuk antri masuk kedalam goa. Sebelum masuk kita sudah dibekali helm dan senter untuk membantu penerangan didalam nantinya. Setiap rombongan terdiri atas 10 peserta dan dipandu oleh seorang guide yang mana memberi penjelasan mengenai goa tersebut.

 

goa batu cermin labuan bajo 1

Dari pintu masuk atau plank nama ini kita mesti berjalan kaki terlebih dahulu menuju goa

 

goa batu cermin labuan bajo 5

Pemandangan yang ada disepanjang jalan menuju goa

 

goa batu cermin labuan bajo 2

Deretan bambu dan jalan setapak menuju goa

 

goa batu cermin labuan bajo 3

Tangga menuju goa, kita sudah memasuki area goa batu cermin.

 

goa batu cermin labuan bajo 4

Celah dan lorong menuju goa. Disini kami diminta antri karena didalam sudah ada pengunjung yang sedang masuk. Kami diminta untuk memakai helm dan senter, perlengkapan untuk masuk kedalam goa

 

goa batu cermin labuan bajo 6

Suasana didalam goa dengan stalagtit dan stalagmit

 

goa batu cermin labuan bajo 7

Lorong didalam goa

 

goa batu cermin labuan bajo 15

Photo diambil oleh Bowi Basu Buwono.
Ada kalanya kita menemukan lorong yang sempit dan pendek, sehingga untuk melalui nya kita harus jongkok dan mesti berhati-hati.

 

goa batu cermin labuan bajo 9

Beberapa fosil yang dapat kita lihat dipermukaan dinding goa

 

goa batu cermin labuan bajo 10

Fosil hewan yang menempel didinding goa dilihat dari dekat. Sekilas terlihat seperti cangkang penyu.

 

goa batu cermin labuan bajo 11

Karena kami datangnya di musim kemarau sehingga permukaan dinding kelihatan kering dan berpasir.

 

goa batu cermin labuan bajo 14

Kami berpose di hall dalam goa. Area ini cukup luas dengan pasir dipermukaan bawahnya. Photo diambil dari kamera Bowi Basu Buwono.

 

 

 

Sylvia Hotel Komodo

Dua setengah jam lamanya kami berkelana dan menghabiskan waktu di Pulau Kanawa. Rasanya sebentar bangat disini dan kamipun harus melanjutkan perjalanan ke Pulau Bidadari. Karena pulau ini tidak berpenghuni yang ada kami hanya berada dipinggir pantai.

Sebenarnya pulau ini ada pemiliknya dan kalau dengar dari cerita-cerita warga setempat kepemilikan pulau tersebut sedang mengalami sengketa, terlepas dari itu semua pada saat kami ke pulau tersebut sepi dan tidak ada penghuni. Kebetulan saat itu hujan turun dengan kapasitas sedang sehingga saya tidak turun dari kapal. Saya dan beberapa orang tetap di kapal ngobrol-ngobrol sambil melihat teman-teman yang lain bermain hujan sambil mengitari bibir pantai yang ada di Pulau Bidadari.

Cuma 30 menit berada di Pulau Bidadari teman-teman yang tadinya turun ke Pulau pun naik ke kapal dan melanjutkan perjalanan ke Labuhan Bajo. Jarak dari Pulau Bidadari ke Labuan Bajo hanya 30 menit. Di Labuan Bajo kami menuju Pantai Waicicu tempat kami nantinya menginap. Sylvia Resort Komodo adalah Hotel yang berada di Pantai Waicicu dimana area sekitar 11 Ha yang ada disekitar pantai waicicu dikelolah oleh resort ini.

Yang mana selama 2 hari kami tidur, mandi dan makan bersama-sama dalam satu kapal yang ada kami punya waktu yang cukup intens mengenal, dekat dan saling tau apa yang terjadi/dialami oleh masing-masing peserta dan keterikatan diantara satu sama lain sudah mulai terjalin sebagai suatu keluarga. Inilah yang paling saya suka dalam suatu perjalanan.

Selain melihat pemandangan yang berbeda dari yang biasa kita lihat sehari-hari, pengalaman yang paling berharga adalah teman seperjalanan. Dan itu dikedepan hari punya cerita masing-masing yang suatu hari nanti kalau diceritakan pasti punya kenangan tersendiri. Dan sesampainya di Sylvia Resort Komodo kami yang tadinya tidur bareng-bareng sekarang dibagi-bagi perkamar menjadi 2 orang.

Setelah sampai di dermaga Waicicu, kami langsung disambut oleh pihak pengelolah hotel dimana langsung sigap mengambil barang-barang bawaan kami untuk dibawa ke mobil dan bersama peserta trip yang lain kami pun sampai ke penginapan. Setelah check ini dan pembagian kamar, barang-barang dibawa ke kamar masing-masing oleh pegawai hotel.

Melihat kondisi hotel yang bagus terbayar sudah kepenatan kami selama 2 hari tidur di kapal. Di hotel ini terdapat kamar-kamar yang berderet menjadi 2 baris dan saling berhadap-hadapan. Jarak antara rumah satu dengan yang lain tidaklah terlalu jauh jadi saya tau siapa di kamar siapa sehingga kalau ada perlu apa-apa tinggal teriak manggil dan masuk ke kamar yang bersangkutan. Kebiasaan teriak-teriak selama dikapal kebawa sampai ke darat.

Setiap kamar terdiri dari 2 orang dan masing-masing kamar tersedia tempat tidur yang nyaman, air mineral, AC, TV cable, shower dan air panas. Dibagian luar terdapat teras dengan 2 tempat duduk jika ada tamu yang hendak berkunjung. Saya sekamar dengan mbak Nining, sehabis ganti-gantian mandi kami diminta untuk ngumpul di lobby untuk keluar makan.

Karena sampainya sore sampai dipenginapan saya masih bisa merasakan sunset dan posisi hotel ini memang sangat pas untuk menikmati matahari tenggelam. Karena janjian mau makan keluar, jadinya saya pun cepat-cepat mengambil foto yang ada disekitar penginapan dan ngumpul bersama teman-teman yang lain untuk keluar dan makan.

Untuk informasi dapat menghubungi:
Sylvia Resort Komodo
Jl. Pantai Waicicu, Labuan Bajo – Komodo Flores
http://www.sylviaresortkomodo.com/

Telp/Fax : 081 353 567 567, 081 238 710 815
E-mail: sylviaresortkomodo@gmail.com
or
yantoambu@yahoo.co.id

 

Besok hari nya sebelum sarapan saya juga sempat mengambil foto kondisi kamar dan penginapan dan semuanya ada dibawah ini

sylvia hotel komodo 1

Dermaga Pantai Waicicu, barang-barang diturunkan dari kapal

 

sylvia hotel komodo 2

View penginapan dari dermaga

 

sylvia hotel komodo 3

Kondisi kamar kami, tempat tidur twin, kamar ber-AC

 

sylvia hotel komodo 5

Kamar mandi yang terdapat disetiap kamar. Shower dan air panas.

 

sylvia hotel komodo 4

Pemandangan deretan kamar dilihat dari ruang makan

 

sylvia hotel komodo 6

Ruang duduk dan juga bisa dipakai untuk makan oleh pengunjung yang menginap disini

 

sylvia hotel komodo 7

Lobby dan concierge

 

sylvia hotel komodo 8

Kolam renang yang langsung menghadap pantai Waicicu

 

silvya hotel komodo panorama

Pantai Waicicu, pemandangan dari belakang hotel

 

 

 

Pulau Kanawa Flores

pulau kanawa 1

 

Dari Gili Laba dan Manta Point kapal pun melanjutkan perjalanan ke Pulau Kanawa Flores, jarak tempuh dari Manta Point menuju Pulau Kanawa sekitar 2 jam. Baru saja kapal melabuhkan jangkarnya disekitar dermaga saya sudah suka bangat lihat pemandangan yang ada disekitar pulau. Pantainya panjang dengan pasir putih sepanjang mata memandang, airnya bersih dan bening, pengunjung yang datang di pulau ini kebanyakan turis mancanegara, turis lokal kayaknya cuma kami saja pada saat itu.

Sebagian dari kami ada yang langsung mengambil peralatan untuk menyebur dan snorkling, beberapa duduk-duduk sambil menunggu pegawai resort menawarkan menu makanan, sedangkan saya berjalan sekitar pantai melihat-lihat apa yang bisa difoto. Tadinya saya pengen trekking, kelihatannya sich tidak terlalu tinggi hanya karena beberapa hari berturut-turut trekking mulu yang ada kaki saya kram. Belum lagi udaranya panas bangat dan sebelumnya lari-larian ngejar manta kayaknya olahraga ekstra berat. Yang ada keinginan untuk trekking pupus sudah, padahal kalau lihat foto orang-orang yang ngambil foto panorama pemandangan Pulau Kanawa dari atas sepertinya keren bangat.

Yang ada saya puas-puasin foto disekitar pantai dan bersnorkling. Pada waktu bersnorkling sepanjang mata mamandang saya melihat semuanya pasir putih padahal saya merasa bersnokling sudah agak jauh. Dan kedalaman airnya tidaklah dalam, seperti berenang di kolam berenang dengan air yang bening dan pasir yang putih. Dibeberapa tempat terdapat kumpulan terumbu karang dengan nemo-nemo yang cantik. Saya tidak dapat mengambil foto karena baterai kamera saya habis dan tidak ngeh kalau chargernya tinggal di Jakarta. Mau pinjam sama teman yang ada mereknya beda jadi colokan dan chargernya nga sama hehehehe..

Di pulau ini juga menyediakan bungalow yang mana dikelola oleh warga negara Italia. Yang mana penginapan yang tersedia di pulau ini terdiri 18 buah bungalow, 10 bale-bale dipinggir pantai dan pengelola juga menyediakan tenda bagi pengunjung yang hendak menginap di tenda. Kalau hendak menginap sebaiknya menghubungi pihak pengelola terlebih dahulu di nomor telephone 038 – 541252 atau 081338233312, atau dapat menghubungi info@kanawaresort.com untuk mengetahui ketersediaan kamar dan reservasi.

Banyak hal yang bisa dilakukan di pulau ini antara lain canoeing, volley pantai, mengitari pulau, trekking, snorkling, diving. Dan pihak pengelola juga menyediakan jasa angkutan ke Labuhan Bajo. Mengenai jam operasi kapal dari Pulau Kanawa ke Labuhan Bajo maupun sebaliknya dapat langsung menghubungi pihak pengelolah dan itu tersedia gratis. Hanya jam operasinya keberangkatan kapal nya saya lupa, hehehe..

Karena keterbatasan listrik di pulau ini yang tersedia hanya genset sehingga pemakaian listrik jam nya sangat dibatasi, hanya malam saja. Tapi dari yang saya lihat dan tanya dari beberapa orang turis luar negeri yang menginap di pulau ini sepertinya sangat menyenangkan, karena rata-rata pengunjung yang datang menginap kebanyakan lebih dari seminggu.

Berikut ini beberapa foto yang ada disekitar Pulau Kanawa Flores:

pulau kanawa flores 4

 

pulau kanawa 14

 

pulau kanawa 15

 

 

 

 

 

 

Snorkling di Gili Laba

Cuaca saat itu sangat cerah dan cenderung panas terik. Sehingga ketika treking dan sampai di bukit Gili Laba rasanya sudah tidak sabar untuk segera turun dan nyemplung dibawah. Airnya bening, permukaan airnya tenang dan cuaca cerah membuat sinar matahari dapat masuk dan menembus agak jauh kedalam permukaan laut. Sehingga menimbulkan efek warna yang sangat bersih di kamera saya. Belum lagi pemandangan bawah laut nya tidak mengecewakan. Ketika snorkling di gili laba, kondisi terumbu karangnya masih bagus dan sehat-sehat. Hanya berada dibibir pantai saja saya menemukan deretan terumbu karang yang rapat dan kaya akan berbagai jenis ikan.

Beberapa hasil foto sudah saya share di halaman sebelumnya. Hanya agar lebih sah saya tampilkan lagi dihalaman ini 🙂

 

snorkling di gili laba 4

 

snorkling di gili laba 14

 

snorkling di gili laba 10

 

snorkling di gili laba 7

 

snorkling di gili laba 5

 

 

Dari atas bukit Gili Laba Bapak Meus sempat memperingatkan saya. Agar bersnorkling hanya didaerah sekitar bibir pantai bagian dalam dimana airnya masih tenang dan nyaman. Agak jauh disisi luar pantai sambil menunjuk salah satu kapal yang sedang berlabuh, pak Meus bilang itu adalah kapal yang membawa rombongan diving.

Di titik itu pemandangan bawah lautnya jauh lebih bagus hanya saja arus bawahnya sangat kencang. Untuk diver pemula seperti saya sebaiknya tidak disarankan turun sebelum mendapatkan jam terbang yang lebih lama. Hikss mendengar penjelasan pak Meus saya langsung nga semangat. Puas bersnorkling sekitar sejam kami pun naik ke kapal dan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Kanawa.

Karena selesai snorkling yang tadinya diatas bukit sangat panas ketika turun dan nyebur suhunya rendah yang ada badan saya berasa kedinginan. Mau ganti baju koq yach tanggung secara di tempat selanjutnya kami akan basah-basahan dan bersnorkling lagi. Yang ada saya hanya berselimutkan kain dan handuk sambil menunggu kapal tiba ditujuan berikutnya.

Sambil menahan rasa dingin dengan angin yang lumayan kencang di ruang tempat kami duduk-duduk dan berkumpul di ruang makan serta mengobrol bareng teman-teman se-trip, saya menyibuk diri dengan mengambil foto kapal yang lewat. Kapal ini dari jauh sangat bagus dan saya penasaran kira-kira ini kapal bawa barang apa yach?

 

snorkling di gili laba 15

 

Lagi santai-santai duduk menghangatkan diri, salah satu ABK memberitahukan sesuatu sambil teriak-teriak. Awalnya saya tidak mengerti apa yang sedang mereka teriakin. Tetapi koq ramai bangat dan didepan kapal kami terdapat segerombolan kapal ngumpul tapi dalam posisi diam. Kami pun melihat-lihat sekitarnya dan menebak apa yang aneh disini. Ternyata terdapat beberapa ekor manta sedang berkumpul dan berseliweran disekitar kapal. Kadang manta-manta tersebut menunjukkan keberadaan diri mereka dengan naik ke permukaan. Melihat ukuran dan banyaknya mereka saya dan teman saya Nina semangat untuk turun dan nyemperin si Manta.

 

snorkling di gili laba 16

 

Dari yang awalnya semangat karena tau kalau manta jenis ini bukanlah jenis ikan pengganggu. Tapi ketika bertemu dan papasan langsung yang ada saya takut sampai menjerit-jerit kayak orang kesurupan. Teman saya Nina yang tadinya juga semangat lihat saya jejeritan jadi ikutan lemes. Hanya karena ketika dia hendak mengambil foto Manta dari dekat dia baru sadar kalau baterai kameranya habis dan tidak bisa mengambil foto yang ada dia kesel bangat.

Untuk mengurangi rasa kekesalannya, akhirnya saya meminjamkan kamera saya untuk dia pakai. Demi memuaskan rasa penasaran akhirnya Nina pun semangat mengejar manta-manta yang ada. Dan foto dibawah ini adalah hasil foto yang diambil Nina dengan menggunakan kamera saya. Sayang jaraknya agak jauh, butuh waktu lebih lama lagi untuk mendapatkan kesempatan manta mendekati kita. Hiksss..

 

 

Gili Laba – Flores

gili laba flores 1

 

Dari Pantai Pink, kapal pun berangkat menuju Gili Laba tempat nantinya kami menginap. Selain kapal kami, terdapat beberapa kapal lain yang juga berlabuh disekitar pantai Gili Laba untuk bersiap besok harinya treking ke puncak bukit Gili Laba. Selama 2 malam kami menginap cuaca nya sangat panas dan terik sehingga pada malamnya langit kelihatan lebih terang.

Pemandangan seperti ini lah yang sangat saya impikan jika sedang berada disuatu daerah. Sesekali saya terbangun jam 1 atau 2 pagi hanya ingin keluar dari kamar dan melihat ke langit-langit. Betapa cantiknya bintang-bintang yang bertaburan diatas kapal kami. Sesekali saya mendengar suara orang-orang yang sedang ngobrol di kapal sebelah, saya hanya sebentar memandang-mandang kearah sekitarnya, dan kemudian kembali ke kamar.

Pagi hari nya kamipun bersiap untuk treking dan sebelumnya sarapan terlebih dahulu. Ketika sarapan saya sudah melihat rombongan dari kapal yang lain sudah mulai menaiki bukit dan mereka ternyat sejak dari jam 5 mulai naik untuk mengejar sunrise. Hikss kalau tau gitu saya ikutan mereka dech. Karena sedari tadi saya sudah bangun hanya karena nga ada yang mulai gerak jadi saya males-malesan di tempat tidur dech.

 

gili laba 1

 

Karena sudah sarapan dengan menu yang lengkap saya semangat untuk treking dan lihat jalur nya sich sebenarnya tidaklah terlalu tinggi hanya karena permukaan tanah berpasir sehingga kalau tidak hati-hati yang ada kaki kita tergelincir. Jalur menuju puncak bukit sebenarnya dapat ditempuh dalam beberapa titik tinggal milih mau jalur yang landai apa yang terjal.

Kami memilih jalur yang landai jadi jarak tempuhnya agak lama dan panjang tapi kita dapat berjalan dengan santai kalau melewati jalur ini. Sedangkan jalur terjal kita langsung menapaki bukit yang paling tinggi dan dari sini pemandangan jauh lebih luas dan menantang. Kita dapat melihat Pulau Flores dan Pulau Komodo lebih jelas dari puncak ini.

 

gili laba 2

 

Karena kami berjalan dengan santai sehingga jarak tempuh dari naik sampai kembali kebawah sekitar 2 jam. Bapak Bartolomeus atau Pak Meus bolak balik mengelus dada lihat kelakuan kami yang mana setiap tempat pasti berhenti untuk berfoto. Yang tadinya dia ngomel-ngomel tapi ketika kita ajak ikutan foto yang ada si Bapak jadi ikutan narsis. Tapi tetap setelah itu dia teriakin kita lagi untuk mempercepat langkah kami untuk naik keatas. Hehehehehe.. Karena ada beberapa teman yang sudah berada diatas nungguin kami sedangkan kami nya santai-santai foto dibawah. Teman-teman yang diatas teriak-teriak kepanasan dan bosan nunggu dan nga tau nunggu nya sampai kapan?

 

gili laba 4

Model : Susana Juwono

Setelah kami merasa sudah cukup puas melihat-lihat pemandangan yang ada disekitar kamipun segera turun untuk mengambil peralatan snorkling dan kamera underwater yang ada di kapal. Siap untuk menjelajahi pemandangan bawah laut Gili Laba.

 

gili laba panorama 2

 

Sungguh lengkap pengalaman yang kami dapat di Gili Laba. Dari puncak bukit kita bisa melihat panorama Gili Laba secara keseluruhan dengan pulau-pulau seperti Pulau Komodo, Pulau Flores dan beberapa pulau lain dapat kita lihat dari sini. Selain dari pemandangan bukit yang kering kecoklat-coklatan kita juga dapat melihat pemandangan yang indah berupa background langit dan laut yang sangat biru. Gradasi warna yang sangat kontras tapi indah.

Dan rasanya dari puncak bukit ini tidak sabar untuk nyebur dan menikmati pemandangan bawah laut nya juga. Dari pinggir pantai saja saya sudah bisa melihat air yang jernih dengan terumbu karang yang rapat-rapat dan indah. Berbagai jenis kima, nemo, lili laut dapat saya temui disini.

Semoga kebersihan dan kelestarian alam yang ada di Gili Laba dapat terjaga dengan baik sehingga kalau saya kesini lagi saya masih bisa menikmati hal yang sama seperti yang saya rasakan saat itu.

 

Pulau Padar – Taman Nasional Komodo

pulau padar taman nasional komodo panorama 1

 

Dari Pulau Kambing, pulau dimana kami menginap perlahan-lahan perahu mulai bergerak dari jam 5 pagi dan sampai di Pulau Padar sekitar jam 6:30 pagi. Saya sekamar dengan Nina yang mimpin trip di kamar yang tidak ber-AC. Seharusnya kamar saya bersama rombongan lain ada di kamar yang ada AC nya. Hanya karena suasana kamar nya terkungkup dan berada dibawah saya langsung berasa mabuk laut.

Biasanya kalau perjalanan yang menggunakan kapal dengan jarak tempuh 2-6 jam saya berusaha berada dibagian atas kapal baik itu deck yang terbuka, geladak ataupun atap kapal. Di kamar yang saya tempati selain bisa merasakan angin laut saya juga dapat mendengar aktivitas yang dilakukan oleh ABK dan crew kapal. Jadi ketika kapal bergerak di jam 5 saya sudah terbangun.

Karena tidak tau mau melakukan apa yang ada saya beberes barang dan bebenah diri dengan mencuci muka dan menyikat gigi. Selama 2 hari 2 malam tinggal di kapal dengan persediaan air tawar terbatas kami punya peraturan yaitu untuk selalu menghemat air. Jadi ada kesepakatan diantara kami untuk mandi hanya satu kali sehari, jadi bisa milih mau mandi di pagi atau sore hari.

Kalau ada pilihan seperti itu saya sich lebih milih mandi di sore hari. Karena sebelum tidur kalau tidak mandi rasanya lengket dan yang ada jadi tidak bisa tidur. Jadi aktivitas yang kami lakukan di pagi adalah mencuci muka dan sikat gigi saja, setelah itu melanjutkan aktivitas sepanjang hari apakah itu basah-basahan atau kena keringat habis trekking baru dech mandi, ganti baju, makan dan tidur.

 

pulau padar taman nasional komodo panorama 2

 

Jam 06:00 kami mulai sarapan dan sekitar jam 6:30 kapal berlabuh di Pulau Padar. Dari kapal sich kelihatan kalau bukit yang ada di Pulau Padar tidaklah terlalu tinggi. Karena jarak dari pantai ke bukit sangat dekat sehingga yang kelihatan hanyalah bukit yang paling depan. Tetapi ketika menaiki satu bukit yang ada ketemu bukit lainnya dan jarak satu bukit ke bukit yang lain sangat panjang yang ada saya pun mulai gempor.

Kebanyakan peserta adalah wanita dan untungnya stamina mereka cukup kuat. Sehingga beberapa dari mereka bisa menyelesaikan perjalanan sampai di puncak bukit tertinggi. Hanya sebagian besar tidak bisa melanjutkan perjalanan dan kembali ke perahu.

Saya merasa perjalanan yang kami tembuh sudah cukup jauh dan mulai iseng nanya ke pemandu trip apakah kami sudah berada setengah dari keseluruhan rute perjalanan. Si Bapak dengan santai menjawab “Kita baru masuk pos kedua dari 6 pos buuu” Kedubrakkkk. Rasanya saat itu badan langsung lemes. Dan dititik kedua ini jalanannya cukup curam dan menanjak.

Pijakan kami hanyalah tanah berpasir halus sehingga jika tidak hati-hati gampang tergelincir. Disini lah banyak peserta mengundurkan diri dan turun ke pantai. Kami harus selalu waspada melihat pijakan yang akan kami injak, mencari-cari batu sambil mencari teman yang dapat digandeng/diraih tangannya.

 

pulau padar taman nasional komodo 2

 

Di pos ketiga dan keempat banyak terdapat batu-batu besar dimana diposisi ini kita dapat melihat pemandangan lebih luas untuk mengambil foto. Tetapi spot yang paling luas dan tinggi ada di pos kelima. Saya dan beberapa teman lama disini. Selain kecapean kami sangat menikmati semilir angin dan pemandangan yang indah. Rasanya nga pengen naik ataupun turun, pengennya disini lebih lama.

Hanya teman yang lain sudah sampai di pos keenam dan mereka meneriakin kami untuk terus melangkah dan menyusul mereka. Sebenarnya sich kita yang ada di pos lima rada ogah naik tapi karena diiming-iming foto dengan pose cantik akhirnya kami pun naik. Kalau dari pemandangan sich kerenan pos 5 hanya rasanya nga sah saja sudah sampai ke pos 5 tapi tidak selesai di titik finish di pos 6.

Dari pos 3, 4 dan 5 kita bisa melihat pemandangan dengan 2 sisi pantai yang berbeda. Rasanya senang, bangga dan puas bisa menyelesaikan perjalanan sampai di Puncak bukit pulau padar. Lama perjalanan dengan kecepatan jalan kami yang cukup santai sekitar 2,5 jam naik dan 45 menit turun. Jadi bisa dilihat dong yach betapa lambat nya kami berjalan. Selain jalan santai kami sepertinya lama berpose dan mengambil foto.

Setiap jengkal pasti tidak lupa berfoto itupun disetiap spot mesti ngantri dulu mengambil fotonya, hehehehe..Terima kasih Tuhan atas kesempatan yang sangat berharga ini. Jika diberi kesempatan dan rezeki saya tidak menolak untuk datang kesini lagi.

 

pulau padar taman nasional komodo panorama 2

 

Weekly Photo Challenge Extra Ordinary

Weeklya Photo Challenge Extra Ordinary

Bertepatan dengan hari kejepit nasional dan dari bulan lalu memelas-melas sama atasan saya di kantor supaya dia memberi saya ijin untuk cuti. Karena amat sangat tergoda dengan tawaran teman untuk ikut Trip Komodo. Akhirnya saya pun berangkat dari tanggal 14 – 18 Oktober 2015.

Dari 2 tahun yang lalu sudah ngiler bangat pengen pergi ke Komodo, tapi setiap kali mau pergi selalu ada halangan baik itu tawaran trip lain ataupun ada kerjaan yang nga bisa ditinggal akhirnya saya pun mengalah dan gigit jari lihat foto teman-teman di social media. Untungnya pas kemaren minta cuti semua dilancarkan dan si Bapak benar-benar nga protes ataupun nga ceramah panjang lebar ke saya.

5 hari 4 malam petualangan di Komodo, ada satu hal yang amat sangat berkesan buat saya. Tadinya saya kira bahwa sesampainya saya di pulau Komodo dan langsung melihat sang bintang tamu pulau yang selama ini hanya bisa saya lihat di TV merupakan hal yang paling berkesan buat saya ternyata dugaan saya salah.

Bukannya tidak berkesan, hanya mungkin karena sebelum berangkat kebetulan di saluran NatGeo sering muterin tayangan tentang Komodo yang ada saya jadi tidak begitu bersemangat. Dan untuk petualangan yang lain saya tidak terlalu mengharapkan yang macam-macam yang ada saya malah menemukan bonus pemandangan yang sangat indah yaitu bertemu dengan manta ray secara langsung dan benar-benar tepat didepan mata.

Mungkin saking bersemangatnya saya saat ini, setiap kali melihat foto dibawah saya langsung merinding. Saya benar-benar tidak pernah bermimpi akan bertemu manta ray sepanjang umur saya. Dan menurut saya ini adalah pengalaman yang amat luar biasa atau extraordinary dalam hidup saya. Waktu mengambil foto ini saya sedang melawan rasa takut saya akan kedalaman dan lebih menakutkan lagi ketika manta tersebut mendekati saya dan mangap.

Ukuran lebar tubuhnya sekitar 4-6 meter dan jarak saya dengan manta hanya berkisar 2 meter. Saking besarnya ukuran mulut nya mungkin badan saya bisa masuk/kesedot kedalam kali yach (efek nonton film Jaws). Saya berusaha tetap tenang dan terus mengambil foto sampai manta tersebut melewati saya, ternyata dibelakang manta tersebut ada manta kedua. Saya berusaha tidak berhenti mengambil foto tanpa mikir lagi hasilnya seperti apa?

snorkling di gili laba 15 manta ray

 

Setelah manta kedua lewat baru saya teriak-teriak dan menjerit-jerit karena sadar kalau saya sendirian dan berada dilaut lepas. Untung salah satu bapak ABK datang menghampiri saya turun dengan sekoci. Tadinya dia kira saya sedang bermain-main atau bercanda kali yach, sempat-sempatnya si Bapak ABK comment “Ibu lanjut aja ngejar mantanya, dia masih disekitar sini koq” Hikksss..

Hanya satu hal yang membuat hati saya miris. Ketika saya panik dan menjerit-jerit saya menelan begitu banyaknya air beserta minyak/bahan bakar yang bertumpahan dipermukaan laut. Setelah saya renungkan dan pikir-pikir lagi kenapa sich begitu banyaknya minyak atau bahan bakar yang bertumpahan disekitar area tersebut?

Akhirnya saya mengambil kesimpulan tapi saya tidak tau apakah kesimpulan saya ini benar. Selain kapal yang kami tumpangin ada beberapa kapal lainnya yang juga merapat disekitar Manta Point tersebut. Dan keberadaan kapal-kapal yang kami tumpangi menjadi sumber kerusakan yang ada disana. Sesaat saya langsung merasa tertuduh bahwa semakin banyaknya pengunjung seperti saya yang datang untuk melihat lebih dekat keberadaan manta merupakan penyebab dari kerusakan lingkungan yang ada disana. Hikkssss… Akan amat sangat disayangkan kalau ini terus terjadi. Bisa saja keberadaan manta akan berkurang atau berpindah posisi ditempat lainnya.