Bandar Udara Komodo

bandar udara komodo 2

 

Artikel ini adalah cerita hari terakhir dimana saya dan teman-teman mengakhiri perjalanan trip Komodo . Selesai dari Goa Batu Cermin dari jam 10:30 sampai jam 12:30, kami pun makan siang yang mana dari perjalanan Nina sudah menelphone seorang teman untuk menyiapkan menu makanan yang nanti akan kami makan.

Jadi setelah sampai di warung makan, makanan sudah tersedia tanpa harus menunggu lagi makanan dimasak atau digoreng. Sehingga sesampainya di warung, makanan sudah tersedia dan langsung dimakan untuk menghemat waktu. Butuh waktu singkat untuk menghabiskan makanan, kami langsung berangkat lagi menuju tempat yang menjual oleh-oleh dan kerajinan tangan yang posisinya tepat diseberang bandara.

Karena disini tidak ada makanan khas yang bisa saya bawa pulang ke jakarta untuk dijadikan oleh-oleh akhirnya saya sama sekali tidak membeli apa-apa disini. Sempat tertarik sama kain tenun tapi bingung aja entar kalau beneran beli trus nantinya nga bakalan kepake jadi buat apa? Sudah gitu harganya mahal lagi, hikss..

Karena pesawat yang kami tumpangi berangkat jam 15:45 jadi jam 14:00 kami pun menyelesaikan urusan belanja-belanja dan langsung menyeberang ke bandara untuk check in dan mengurus bagasi. Di bandara kami punya waktu 1 jam lebih untuk melihat-lihat dan menanti kedatangan pesawat.

Dari 18 peserta yang ikut trip Komodo, 1 orang tetap tinggal di Labuan Bajo meneruskan trip keliling dan wisata kota Labuan Bajo karena besok akan melanjutkan perjalanan ke Ende. 3 orang langsung pulang ke Jakarta dimana sebelumnya transit dulu di Bali, sedangkan 14 orang lainnya akan tinggal sehari di Bali dengan tujuan wisata Nusa Penida Bali. Hip hip horeee..

Jadi di Bandara Labuan Bajo lah kesempatan kami terakhir bertemu dalam kelompok yang komplit sebelum berpisah di Bandar Udara Gusti Nguhrah Rai. Selamat tinggal Labuan Bajo, selamat tinggal komodo-komodo dan selamat tinggal laut dan pantai yang keren-keren. Saya akan selalu merindukan kalian. Doakan suatu hari nanti saya akan kembali kesini. Aminnn.

Berikut ini pemandangan dan situasi yang ada di Bandar Udara Komodo – Labuan Bajo, desain bangunannya baru, mengikuti desain bandara yang ada diseluruh Indonesia, masih sepi dan rapi. Belum banyak terdapat tenant jadi masih banyak ruang-ruang yang kosong.

 

bandar udara komodo 4

 

bandar udara komodo 5

 

bandar udara komodo 6

 

bandar udara komodo 7

 

bandar udara komodo 8

 

bandar udara komodo 9

bandar udara komodo 1

 

 

 

Goa Batu Cermin Labuan Bajo

Setelah check out dari penginapan di Sylvia Hotel jam 10 pagi, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Goa Batu Cermin. Jarak dari Hotel menuju Goa sekitar 4 km atau hanya 15 – 20 menit saja dengan kendaraan bermotor. Ternyata Labuan Bajo selain merupakan pintu gerbang turis menuju Pulau Komodo dan sekitarnya, daerah ini juga punya objek wisata yang juga meninggalkan bukti sejarah bahwa daerah ini dulunya merupakan dasar laut.

Penemu goa ini adalah Theodore Verhoven, seorang pastor Belanda yang juga seorang arkeolog, pada 1951. Dimana goa ini tepatnya berada di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, mempunyai luas sekitar 19 hektar dengan tinggi goa sekitar 75 meter. Untuk menuju goa, dari tempat parkir kendaraan, kita harus berjalan kaki sekitar 300 meter menyusuri jalan setapak. Pada siang hari seperti jam kami berkunjung wisatawan banyak kami temui. Baik itu wisatawan dari luar negeri, dalam negeri ataupun siswa yang datang untuk mengerjakan tugas sekolah.

Dari tempat parkir menuju goa kita mesti berjalan kaki terlebih dahulu. Disepanjang jalan sudah disediakan jalanan setapak sehingga kalaupun datang kesini saat musim penghujan menuju goa tidaklah becek dan berlumpur. Dikiri kanan menuju goa kita akan menemukan tumbuhan bambu yang berderet dan dapat dijadikan objek foto preweding disini, sangatlah bagus. Mendekati goa kita akan bertemu dengan batu-batu besar dan kita harus melewati celah batu untuk masuk ke goa tersebut.

Tadinya sempat bingung apanya sich yang istimewa dari goa ini. Ternyata di goa ini selain meninggalkan bukti bahwa dahulunya area ini adalah dasar laut dengan meninggalkan fosil berupa ikan dan binatang laut yang ada disekitar dinding goa, juga merupakan goa yang masih hidup dengan stalagtit dan stalagmit yang ada disepanjang goa.

Dan diujung goa terdapat lubang diatas permukaan goa sehingga matahari dapat masuk dan menimbulkan efek cahaya yang sangat indah seperti yang saya pernah temui di Goa Jomblang Jogjakarta. Sinar matahari yang masuk ke dinding goa memantulkan cahaya diarea lain didalam goa sehingga menimbulkan efek seperti cermin, maka goa ini pun disebut goa batu cermin. Pantulan-pantulan yang dihasilkan oleh dinding goa berasal dari kandungan garam yang ada sehingga kelihatan seperti cahaya kristal.

Karena kita akan memasuki area goa dimana didalam goa tersebut terdapat lorong dengan ukuran yang tidak begitu besar sehingga kamipun diminta untuk antri masuk kedalam goa. Sebelum masuk kita sudah dibekali helm dan senter untuk membantu penerangan didalam nantinya. Setiap rombongan terdiri atas 10 peserta dan dipandu oleh seorang guide yang mana memberi penjelasan mengenai goa tersebut.

 

goa batu cermin labuan bajo 1

Dari pintu masuk atau plank nama ini kita mesti berjalan kaki terlebih dahulu menuju goa

 

goa batu cermin labuan bajo 5

Pemandangan yang ada disepanjang jalan menuju goa

 

goa batu cermin labuan bajo 2

Deretan bambu dan jalan setapak menuju goa

 

goa batu cermin labuan bajo 3

Tangga menuju goa, kita sudah memasuki area goa batu cermin.

 

goa batu cermin labuan bajo 4

Celah dan lorong menuju goa. Disini kami diminta antri karena didalam sudah ada pengunjung yang sedang masuk. Kami diminta untuk memakai helm dan senter, perlengkapan untuk masuk kedalam goa

 

goa batu cermin labuan bajo 6

Suasana didalam goa dengan stalagtit dan stalagmit

 

goa batu cermin labuan bajo 7

Lorong didalam goa

 

goa batu cermin labuan bajo 15

Photo diambil oleh Bowi Basu Buwono.
Ada kalanya kita menemukan lorong yang sempit dan pendek, sehingga untuk melalui nya kita harus jongkok dan mesti berhati-hati.

 

goa batu cermin labuan bajo 9

Beberapa fosil yang dapat kita lihat dipermukaan dinding goa

 

goa batu cermin labuan bajo 10

Fosil hewan yang menempel didinding goa dilihat dari dekat. Sekilas terlihat seperti cangkang penyu.

 

goa batu cermin labuan bajo 11

Karena kami datangnya di musim kemarau sehingga permukaan dinding kelihatan kering dan berpasir.

 

goa batu cermin labuan bajo 14

Kami berpose di hall dalam goa. Area ini cukup luas dengan pasir dipermukaan bawahnya. Photo diambil dari kamera Bowi Basu Buwono.

 

 

 

Sylvia Hotel Komodo

Dua setengah jam lamanya kami berkelana dan menghabiskan waktu di Pulau Kanawa. Rasanya sebentar bangat disini dan kamipun harus melanjutkan perjalanan ke Pulau Bidadari. Karena pulau ini tidak berpenghuni yang ada kami hanya berada dipinggir pantai.

Sebenarnya pulau ini ada pemiliknya dan kalau dengar dari cerita-cerita warga setempat kepemilikan pulau tersebut sedang mengalami sengketa, terlepas dari itu semua pada saat kami ke pulau tersebut sepi dan tidak ada penghuni. Kebetulan saat itu hujan turun dengan kapasitas sedang sehingga saya tidak turun dari kapal. Saya dan beberapa orang tetap di kapal ngobrol-ngobrol sambil melihat teman-teman yang lain bermain hujan sambil mengitari bibir pantai yang ada di Pulau Bidadari.

Cuma 30 menit berada di Pulau Bidadari teman-teman yang tadinya turun ke Pulau pun naik ke kapal dan melanjutkan perjalanan ke Labuhan Bajo. Jarak dari Pulau Bidadari ke Labuan Bajo hanya 30 menit. Di Labuan Bajo kami menuju Pantai Waicicu tempat kami nantinya menginap. Sylvia Resort Komodo adalah Hotel yang berada di Pantai Waicicu dimana area sekitar 11 Ha yang ada disekitar pantai waicicu dikelolah oleh resort ini.

Yang mana selama 2 hari kami tidur, mandi dan makan bersama-sama dalam satu kapal yang ada kami punya waktu yang cukup intens mengenal, dekat dan saling tau apa yang terjadi/dialami oleh masing-masing peserta dan keterikatan diantara satu sama lain sudah mulai terjalin sebagai suatu keluarga. Inilah yang paling saya suka dalam suatu perjalanan.

Selain melihat pemandangan yang berbeda dari yang biasa kita lihat sehari-hari, pengalaman yang paling berharga adalah teman seperjalanan. Dan itu dikedepan hari punya cerita masing-masing yang suatu hari nanti kalau diceritakan pasti punya kenangan tersendiri. Dan sesampainya di Sylvia Resort Komodo kami yang tadinya tidur bareng-bareng sekarang dibagi-bagi perkamar menjadi 2 orang.

Setelah sampai di dermaga Waicicu, kami langsung disambut oleh pihak pengelolah hotel dimana langsung sigap mengambil barang-barang bawaan kami untuk dibawa ke mobil dan bersama peserta trip yang lain kami pun sampai ke penginapan. Setelah check ini dan pembagian kamar, barang-barang dibawa ke kamar masing-masing oleh pegawai hotel.

Melihat kondisi hotel yang bagus terbayar sudah kepenatan kami selama 2 hari tidur di kapal. Di hotel ini terdapat kamar-kamar yang berderet menjadi 2 baris dan saling berhadap-hadapan. Jarak antara rumah satu dengan yang lain tidaklah terlalu jauh jadi saya tau siapa di kamar siapa sehingga kalau ada perlu apa-apa tinggal teriak manggil dan masuk ke kamar yang bersangkutan. Kebiasaan teriak-teriak selama dikapal kebawa sampai ke darat.

Setiap kamar terdiri dari 2 orang dan masing-masing kamar tersedia tempat tidur yang nyaman, air mineral, AC, TV cable, shower dan air panas. Dibagian luar terdapat teras dengan 2 tempat duduk jika ada tamu yang hendak berkunjung. Saya sekamar dengan mbak Nining, sehabis ganti-gantian mandi kami diminta untuk ngumpul di lobby untuk keluar makan.

Karena sampainya sore sampai dipenginapan saya masih bisa merasakan sunset dan posisi hotel ini memang sangat pas untuk menikmati matahari tenggelam. Karena janjian mau makan keluar, jadinya saya pun cepat-cepat mengambil foto yang ada disekitar penginapan dan ngumpul bersama teman-teman yang lain untuk keluar dan makan.

Untuk informasi dapat menghubungi:
Sylvia Resort Komodo
Jl. Pantai Waicicu, Labuan Bajo – Komodo Flores
http://www.sylviaresortkomodo.com/

Telp/Fax : 081 353 567 567, 081 238 710 815
E-mail: sylviaresortkomodo@gmail.com
or
yantoambu@yahoo.co.id

 

Besok hari nya sebelum sarapan saya juga sempat mengambil foto kondisi kamar dan penginapan dan semuanya ada dibawah ini

sylvia hotel komodo 1

Dermaga Pantai Waicicu, barang-barang diturunkan dari kapal

 

sylvia hotel komodo 2

View penginapan dari dermaga

 

sylvia hotel komodo 3

Kondisi kamar kami, tempat tidur twin, kamar ber-AC

 

sylvia hotel komodo 5

Kamar mandi yang terdapat disetiap kamar. Shower dan air panas.

 

sylvia hotel komodo 4

Pemandangan deretan kamar dilihat dari ruang makan

 

sylvia hotel komodo 6

Ruang duduk dan juga bisa dipakai untuk makan oleh pengunjung yang menginap disini

 

sylvia hotel komodo 7

Lobby dan concierge

 

sylvia hotel komodo 8

Kolam renang yang langsung menghadap pantai Waicicu

 

silvya hotel komodo panorama

Pantai Waicicu, pemandangan dari belakang hotel

 

 

 

Gili Laba – Flores

gili laba flores 1

 

Dari Pantai Pink, kapal pun berangkat menuju Gili Laba tempat nantinya kami menginap. Selain kapal kami, terdapat beberapa kapal lain yang juga berlabuh disekitar pantai Gili Laba untuk bersiap besok harinya treking ke puncak bukit Gili Laba. Selama 2 malam kami menginap cuaca nya sangat panas dan terik sehingga pada malamnya langit kelihatan lebih terang.

Pemandangan seperti ini lah yang sangat saya impikan jika sedang berada disuatu daerah. Sesekali saya terbangun jam 1 atau 2 pagi hanya ingin keluar dari kamar dan melihat ke langit-langit. Betapa cantiknya bintang-bintang yang bertaburan diatas kapal kami. Sesekali saya mendengar suara orang-orang yang sedang ngobrol di kapal sebelah, saya hanya sebentar memandang-mandang kearah sekitarnya, dan kemudian kembali ke kamar.

Pagi hari nya kamipun bersiap untuk treking dan sebelumnya sarapan terlebih dahulu. Ketika sarapan saya sudah melihat rombongan dari kapal yang lain sudah mulai menaiki bukit dan mereka ternyat sejak dari jam 5 mulai naik untuk mengejar sunrise. Hikss kalau tau gitu saya ikutan mereka dech. Karena sedari tadi saya sudah bangun hanya karena nga ada yang mulai gerak jadi saya males-malesan di tempat tidur dech.

 

gili laba 1

 

Karena sudah sarapan dengan menu yang lengkap saya semangat untuk treking dan lihat jalur nya sich sebenarnya tidaklah terlalu tinggi hanya karena permukaan tanah berpasir sehingga kalau tidak hati-hati yang ada kaki kita tergelincir. Jalur menuju puncak bukit sebenarnya dapat ditempuh dalam beberapa titik tinggal milih mau jalur yang landai apa yang terjal.

Kami memilih jalur yang landai jadi jarak tempuhnya agak lama dan panjang tapi kita dapat berjalan dengan santai kalau melewati jalur ini. Sedangkan jalur terjal kita langsung menapaki bukit yang paling tinggi dan dari sini pemandangan jauh lebih luas dan menantang. Kita dapat melihat Pulau Flores dan Pulau Komodo lebih jelas dari puncak ini.

 

gili laba 2

 

Karena kami berjalan dengan santai sehingga jarak tempuh dari naik sampai kembali kebawah sekitar 2 jam. Bapak Bartolomeus atau Pak Meus bolak balik mengelus dada lihat kelakuan kami yang mana setiap tempat pasti berhenti untuk berfoto. Yang tadinya dia ngomel-ngomel tapi ketika kita ajak ikutan foto yang ada si Bapak jadi ikutan narsis. Tapi tetap setelah itu dia teriakin kita lagi untuk mempercepat langkah kami untuk naik keatas. Hehehehehe.. Karena ada beberapa teman yang sudah berada diatas nungguin kami sedangkan kami nya santai-santai foto dibawah. Teman-teman yang diatas teriak-teriak kepanasan dan bosan nunggu dan nga tau nunggu nya sampai kapan?

 

gili laba 4

Model : Susana Juwono

Setelah kami merasa sudah cukup puas melihat-lihat pemandangan yang ada disekitar kamipun segera turun untuk mengambil peralatan snorkling dan kamera underwater yang ada di kapal. Siap untuk menjelajahi pemandangan bawah laut Gili Laba.

 

gili laba panorama 2

 

Sungguh lengkap pengalaman yang kami dapat di Gili Laba. Dari puncak bukit kita bisa melihat panorama Gili Laba secara keseluruhan dengan pulau-pulau seperti Pulau Komodo, Pulau Flores dan beberapa pulau lain dapat kita lihat dari sini. Selain dari pemandangan bukit yang kering kecoklat-coklatan kita juga dapat melihat pemandangan yang indah berupa background langit dan laut yang sangat biru. Gradasi warna yang sangat kontras tapi indah.

Dan rasanya dari puncak bukit ini tidak sabar untuk nyebur dan menikmati pemandangan bawah laut nya juga. Dari pinggir pantai saja saya sudah bisa melihat air yang jernih dengan terumbu karang yang rapat-rapat dan indah. Berbagai jenis kima, nemo, lili laut dapat saya temui disini.

Semoga kebersihan dan kelestarian alam yang ada di Gili Laba dapat terjaga dengan baik sehingga kalau saya kesini lagi saya masih bisa menikmati hal yang sama seperti yang saya rasakan saat itu.

 

Pelabuhan Labuan Bajo Flores

pelabuhan labuan bajo flores 1

 

Saya dan rombongan trip berangkat dari Jakarta hari Rabu Tanggal 14 Oktober 2015. Dengan menggunakan pesawat Lion Air dengan penerbangan Lion Air JT-32. Berangkat dari Jakarta jam 07:20 dan sampai di Bali jam 10:10 Waktu Indonesia Tengah. Transit di Bandara Udara Bali kami melanjutkan perjalanan dengan pesawat Wings Air IW-1830. Berangkat dari Bali jam 11:55 dan tiba di Bandara Udara Labuan Bajo jam 13:25 dengan lama perjalanan 1 jam 15 menit.

Pengalaman pertama menaiki pesawat jenis ATR, sempat deg-degan karena pesawat dengan kapasita 72-78 orang ini ukurannya lumayan kecil dengan baling-balingnya membuat pesawat ini riskan terhadap guncangan setiap kali berbenturan dengan awan dan angin.

Dari penumpang yang saya lihat 1/3 bagian merupakan wisatawa dalam negeri dan selebihnya adalah turis luar negeri dan kisaran umur antara 20 – 30 tahun, beberapa ada juga sich yang berumur diatas 40 tahun. Tapi dari pemandangan tersebut saya sangat senang kalau Taman Nasional Komodo merupakan destinasi yang sangat disukai oleh turis mancanegara.

Dan ada perasaan iri juga sich melihat mereka yang berasal dari negara lain selagi muda sudah memulai melakukan perjalanan jauh sedangkan saya orang Indonesia sendiri baru seumuran begini bisa datang dan berkunjung ke Pulau Komodo. Untungnya selama diperjalan udara berjalan dengan lancar, walaupun sesekali merasakan guncangan. Yang lebih berasa yaitu ketika hendak turun dimana saat itu cuaca agak berawan.

Karena saat ini cuaca disana sudah mulai memasuki musim penghujan tetapi sisa-sisa musim kemarau masih ada karena hujan turun hanya sebentar saja. Sehingga sepanjang pemandangan saya melihat warna bukit-bukit nya berwarna kuning kecoklatan karena kering. Sedangkan dibenak saya sudah terbayang hamparan bukit berwarna hijau terang. Turun dari pesawat dan memasuki area bandara, masih terdapat bekas-bekas pekerjaan konstruksi disekitar bandara.

Dan menurut orang-orang setempat area sekitar bandara Labuan Bajo sudah 2 tahun ini sedang berbenah-benah mempercantik dan melengkapi fasilitas yang ada. Walaupun area bandara tidak besar tetapi suasananya sepi dan bersih. Tidak terdapat banyak pengunjung dan penjual/tenant yang ada disekitar bandara.

Setelah menyelesaikan urusan bagasi kami pun sudah ditunggu untuk penjemputan yang akan mengantar kami ke pelabuhan Labuan Bajo. Jarak bandara ke pelabuhan tidak terlalu jauh hanya menempuh perjalanan sekitar 10 – 15 menit dengan menggunakan mobil. Menginjakan kaki di pelabuhan saja sudah membuat saya jatuh cinta akan tanah Flores.

 

pelabuhan labuan bajo flores 2

 

Saya agak lama terdiam dan berusaha menyadarkan diri kalau saya sudah berada di Flores. Dari atas bukit saya mengambil foto panorama pemandangan sekitar pelabuhan. Dimana para pengunjung dan penyedia jasa kapal saling berinteraksi menawarkan kapal mereka untuk menjadi tempat para turis untuk menyeberangi pulau dan mengekplore lebih jauh Taman Nasional Pulau Komodo. Beberapa kesempatan saya mengambil foto kapal-kapal yang berlabuh disekitar pelabuhan dan mencari kapal mana yang nantinya akan kami pakai.

 

pelabuhan labuan bajo flores 3

Kapal yang kami tumpangi.

Karena peserta trip terdiri dari 18 orang jadi kami dibagi menjadi 2 kapal. Satu kapal yang kecil terdiri 5 orang dan satu kapalnya lagi menampung 13 orang. Selama 2 malam kami tidur dan menginap diatas kapal. Dimana kedua kapal beriring-iringan mengarungi lautan dan singgah ke pantai atau pulau yang menjadi tempat tujuan wisata kami. Kalau waktu nya makan kapal berhenti dan kami pun berkumpul di kapal yang besar menikmati hidangan makanan yang disediakan oleh crew kapal.

Karena ikan nya segar-segar sehingga semua makanannya yang tersedia rasanya nikmat sekali. Dan waktu 2 malam di kapal membuat kami menjadi sangat dekat dan kompak. Kebersamaan tersebut membuat kami mengenal satu sama lain lebih dekat dalam waktu singkat. Pada saat mengakhiri trip itu rasanya kayak perpisahan bangat dech. Satu sama yang lain nga rela kalau trip tersebut berakhir. Hehehehe.. Tapi kami percaya kalau dilain waktu dan kesempatan akan bertemu kembali.

Dibawah ini beberapa foto yang menggambarkan situasi Pelabuhan Labuan Bajo Flores.

 

pelabuhan labuan bajo flores 8

pelabuhan labuan bajo flores 7

pelabuhan labuan bajo flores 6

pelabuhan labuan bajo flores 5

pelabuhan labuan bajo flores 4