Memacu Adrenalin dengan Via Ferrata Gunung Parang

via ferrata gunung parang 1

Apa jadinya kalau anak pantai naik gunung, wkwkwk. Nga kenapa-kenapa juga sich, hanya karena nga biasa yang ada badannya sempat kaget aja. Kalau tadinya saya memacu adrenalin dengan menyelam. Sekarang saya ditantangin untuk mendaki gunung dengan cara panjat tebing Via Ferrata Gunung Parang.

Ini sudah yang kedua kalinya saya diajakin manjat tebing di Gunung Parang. Pertama kali diajak, reaksi saya waktu itu cuma ngengir-cengir doang tanda tak mampu. Sempat mendaftar, tapi pas hari H saya kehilangan keberanian dan akhirnya mundur. Lalu lihat foto-foto teman-teman yang pada ikutan koq yach iri karena kelihatan seru bangat trus menyesal kenapa nga ikut.

Bulan kemaren ajakan itu datang lagi dari teman-teman di group IDC Community. Kali ini saya benar-benar mantapin diri untuk ikut supaya saya tidak nyesal untuk yang kedua kalinya. Ternyata benar seperti dugaan saya, petualangan kali ini benar-benar gila. Dan saya sangat bangga dengan diri saya sendiri karena saya berani dan lulus dalam melawan rasa takut akan ketinggian.

Menuju Via Ferrata Gunung Parang.

via ferrata gunung parang 11

Via Ferrata Gunung Parang terletak di Purwakarta. Jika berangkat dari Jakarta, kita akan menuju Purwakarta melewati tol Cipularang dan keluar pintu tol Jatiluhur kearah Plered. Waktu tempuh perjalanan dari Jakarta – Gunung Parang sekitar 3 jam, lama perjalanan tergantung kondisi lalu lintas.

Dari Plered menuju Gunung Parang kami melewati perkampungan yang cukup ramai dan jalan yang sempit serta rusak. Tetapi sepanjang perjalanan dibeberapa tempat saya menemukan persawahan dan petani yang sedang membajak sawah.

Setibanya di base camp Sky Walker kami makan siang dan berbenah-benah barang yang akan kami bawa keatas. Karena trip kali ini selain memanjat tebing kami juga akan menginap ala camping diatas bukit. Jadi kami harus memilah-milah barang apa saja yang perlu dibawa agar tidak terlalu berat dipikul pada saat pendakian.

Didalam tas sudah terisi sleeping bag, air mineral secukupnya, pakaian ganti untuk dikenakan pada saat tidur, senter, lotion anti nyamuk, sun block dan cemilan. Sebaiknya pergunakan sarung tangan selama pendakian agar tidak mengalami lecet. Jangan membayangkan bakalan mandi diatas yach, karena tidak ada persediaan air yang cukup untuk mandi.

Sebelum naik, masing-masing peserta diperlengkapi peralatan panjat tebing berupa helm dan body harness. Kemudian diberi pengarahan dari guide dan langsung cuss naik keatas.

Uji Nyali dengan Panjat Tebing.

Istilah via ferrata sendiri dari penjelasan Kak Bibin guide Sky Walker sebagai operator yang kami gunakan, berasal dari bahasa Itali. Yang artinya teknik memanjat dengan menggunakan tangga besi yang ditanam disepanjang dinding bukit. Kalau dari asal kata nya saja kelihatan teknik ini sederhana yach.

Dibenak saya istilah via ferrata diibaratkan seperti menaiki tangga dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. Toh tangga besinya sudah disiapkan dan yakin kalau tangga besi tersebut pasti aman.

Tapi pada saat menghadapi kenyataan, kaki dan lutut gemeteran. Terutama ditahapan 50 tangga pertama. Dan yang paling serem ketika otomatis mata melihat kebawah. Ya Tuhannnn.. bisa tidak yach saya langsung sampai aja keatas tanpa harus melewati ini semua hikksss.

Pada saat kami menaiki tebing cuaca berangin dan kabut mulai datang. Sepanjang pendakian sudah berdoa didalam hati jangan sampai hujan. Saya mencoba menikmati tangga demi tangga untuk mengalihkan perhatian agar tidak terlalu terpaku dengan ketinggian. Dan mencoba kejar-kejaran dengan waktu supaya tidak kehujanan. Dalam hati membatin, entar istirahat diatas aja dech biar sekalian capek.

Dari 20 peserta, saya dan Mira serta mas Win termasuk peserta pertama yang akhirnya sampai diatas bukit. Total durasi waktu sampai diketinggian 900 mdpl dari base camp atau sekitar 350 m yaitu 2,5 jam. Yang tadinya kami berangkat jam 12:30 akhirnya sampai diatas bukit sekitar jam 15:00.

Sekitar 30 menit – 1 jam setelah kami tiba, hujan pun turun dengan lebat. Beberapa teman masih berjuang ditengah-tengah pendakian dan akhirnya mereka pun sampai dalam kondisi basah kuyup.

via ferrata gunung parang 2

via ferrata gunung parang 5

via ferrata gunung parang 7

Pemandangan dari atas. Terlihat perkampungan dan sawah.

via ferrata gunung parang 6

via ferrata gunung parang 8

Waduk Jatiluhur dari ketinggian 150 m pendakian.

via ferrata gunung parang 12

Bersama sahabat IDC akhirnya sampai juga diatas Gunung Parang. Terima kasih Tuhan.

Menginap di Gunung Parang.

Jujur saja sepanjang hidup, saya tidak pernah menginap ala camping seperti ini. Dengan keringat yang membasahi baju, pengen rasanya saya mengguyurkan persediaan air minum untuk mandi atau sekedar bersihin badan. Hehehe, trus entar minum pakai apa? Yach sudah ditahan aja, toh besok siang di base camp bisa mandi sepuasnya.

Belum lagi urusan kebelakang apa itu buang air kecil dan sejenisnya. Serius ini pr bangat buat saya. Tapi saya benar-benar berusaha menikmati agenda berkemah dan membuatnya menjadi pengalaman yang menyenangkan. Walaupun itu bukan hal yang mudah bagi saya. Ditambah hujan yang tiada henti sampai subuh.

Tapi saya sangat bangga akan diri saya sendiri karena berhasil melewati semuanya dengan baik tanpa keluhan yang berarti.

Dimalam hari kami menyalakan api unggun sambil makan dan menikmati kebersamaan dengan seluruh peserta. Apapun makanan yang disajikanĀ  saat itu rasanya sangat nikmat.

via ferrata gunung parang 4

Perkemahan kami.

via ferrata gunung parang 9

via ferrata gunung parang 10

Pengalaman Berharga Panjat Tebing Via Ferrata Gunung Parang.

Panjat tebing Via Ferrata di Gunung Parang menjadi pengalaman berharga buat saya. Mulai dari panjat tebingnya, nginap di kemah, makan bersama sambil menikmati api unggun. Semuanya merupakan pengalaman pertama buat saya.

Memanjat dan menapaki satu demi satu tangga besi, dibutuhkan mental dan keberanian yang cukup tinggi. Melawan rasa takut akan ketinggian dan menantang diri sendiri bahwa saya pasti bisa. Dan ternyata bisa. Itu semua jauh dari ekspektasi saya yang biasanya senang berada di zona nyamannya saya.

Kebersamaan tim dan saling menyemangati satu dengan lainnya merupakan hal tambahan yang saya dapatkan. Disaat kaki gemetaran dan rasanya mau nyerah tapi perjalanan masih jauh, teman disekitar kita menyemangati dan ternyata sampai juga. Itu hal yang luar biasa.

Menghabiskan Akhir Pekan dengan Pengalaman Berbeda.

Memanjat tebing Via Ferrata Gunung Parang bisa dijadikan pilihan menghabiskan akhir pekan. Selain jaraknya cukup dekat dari Jakarta. Kita bisa memilih paket one day trip atau tambahan satu hari menginap diatas bukit seperti yang kami lakukan. Semua bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Panjat tebing dapat dilakukan oleh siapa saja tidak terkecuali anak-anak. Hanya saran saya sebaiknya sebelum melakukan agenda panjat tebing ada baiknya mempersiapkan diri dengan olahraga rutin beberapa minggu sebelum berangkat. Untuk mengurangi dan mencegah cedera sehingga badan tidak kaget.

Ada baiknya memilih jadwal pendakian tidak di musim penghujan. Dimusim penghujan dibutuhkan waktu dan tenaga yang lebih berat dibandingkan musim kemarau. Dikarenakan kondisi tanah yang berlumpur dan basah, menyulitkan proses pendakian.

Perlengkapan berupa baju yang nyaman, sepatu olahraga, sarung tangan, topi sampai senter, sun block, lotion anti nyamuk haruslah dibawa. Peralatan berupa helm, body harness dan sleeping bag sudah disediakan oleh pihak opertor. Jika persiapan diri dan bawaan lengkap diharapkan kita dapat menikmati agenda panjat tebing Via Ferrata Gunung Parang lebih nyaman.