Pulang ke Kota Duri

pulang ke kota duri reuni bersama teman SMA

pulang ke kota duri bandara sultan syarif kasim

Hallow teman blogger saya yang terkasih. Lama tidak menulis rasanya mulai kaku lagi nich. Selama 2 bulan saya benar-benar tidak bisa menulis karena satu dan lain hal, yang ada sekarang saya mesti mulai mencicil sedikit dari beberapa cerita yang sudah menumpuk di kepala. Mungkin untuk awal saya mau berbagi cerita ketika saya pulang ke kota Duri dulu kali yach?

Terakhir kali saya menginjak kota Duri itu tahun 2004 jadi bisa dibilang saya sudah 12 tahun tidak kesana dan rasanya penasaran pengen tau apa aja sich perubahan yang terjadi di kota ini? Kota Duri itu sendiri berada 120 km jaraknya dari kota Pekanbaru. Jadi kalau mau pulang ke kota Duri dari Jakarta harus singgah terlebih dahulu ke Pekanbaru setelah itu perjalanan dilanjutkan sekitar 3-4 jam untuk sampai ke kota Duri.

Cerita mengenai kota Duri itu sendiri saya pernah saya tulis disini. Dimana sejak tahun lalu teman-teman saya sudah berencana untuk membuat acara reuni dan napak tilas kota kelahiran tetapi ternyata respon dari teman-teman yang lain ternyata tidak terlalu dianggap serius. Yang ada diakhir tanggal yang disepakati peserta yang bisa ikutan hanya 8 orang. Hiksss.. sedih juga sich ketika tau pesertanya tidak sebanyak yang diharapkan.

Tapi karena kita memang niat pengen pulang ke kota Duri, berapa pun pesertanya akhirnya rencana tersebut tetap kami jalani. Kami berangkat dengan menggunakan pesawat Citilink dimana berangkat jam 05:00 dan tiba di Bandara Sultan Syarif Kasim sekitar jam 07:15. Dan betapa senangnya saya pada saat memesan tiket dimana harga nya saat itu sedang promo yaitu sekitar Rp. 925.000,- untuk perjalanan pulang pergi.

Setibanya di Bandara Sultan Syarif Kasim saya lebih takjub lagi melihat kondisi dan tampilan Bandara yang baru dan rapi. Mungkin nga baru-baru amat kali yach tapi karena saya sudah lama tidak kesini jadi jika saya bandingkan dengan kunjungan terakhir saya kesini pasti jauh bangat.

 

pulang ke kota duri reuni bersama teman SMA

Rombongan Tenggeners Jakarta setiba di Bandara Sultan Syarif Kasim – Pekanbaru

 

Bisa dibilang kita yang pulang ke kota Duri kemaren hampir semuanya berdomisili di Jakarta, tetapi karena kesibukan masing-masing kesempatan untuk ketemu dan ngobrol itu susah bangat. Justru moment pulang ke kota Duri inilah dimana kami berkesempatan untuk saling melepas kangen dan bercerita mengenai aktivitas kami masing-masing.

Hal pertama yang kami lakukan setelah tiba di kota Pekanbaru tidak jauh dari mencari tempat makan yang mana kamipun singgah di kedai Bu Sri untuk mencari longtong pecal. Lontong Pecal adalah makanan yang kami cari kalau berada di kota Pekanbaru, Duri dan sekitarnya.

 

pulang ke kota duri singgah makan lontong pecal

 

Dimana makanan yang ada disini adalah perpaduan budaya Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Melayu. Jadi bisa dipastikan lontong pecal yang disajikan disini lebih kaya bumbu dan banyak makanan pendampingnya seperti gorengan khas yang tidak bisa kita jumpai di pulau Jawa. Sayang saya tidak mengambil foto penampakan makanan pendamping lontong pecal nya. Yang ada saya bisa ngiler dan kangen pengen pulang, hehehe..

 

pulang ke kota duri tampilan lontong pecal

Ini dia lontong pecal favorite kami di Kedai Bu Sri.

Yang pasti rasanya maknyus karena kuahnya sangat kental dengan santan dan bumbu kacang. Yang membuat beda lontong yang ada disini yaitu adanya mie kuning dan sayur seperti sayur nangka muda, toge dan kacang panjang didalamnya. Namanya juga lontong pecal jadi merupakan perpaduan antara lontong dan pecal gitu kali yach?

Hanya yang membuat lontong pecal yang ada di Kedai Bu Sri ini kalau menurut saya aroma kencurnya sangat berasa bangat. Tapi secara keselurahan lidah saya sangat cocok dengan lontong pecal Bu Sri. Sampai teman saya nambah 2 porsi saking doyan nya wkwkwk..

Melihat tampilan foto diatas langsung keingat dan ngebayangin rasanya. Untuk sementara ini supaya ceritanya nga kepanjangan sepertinya sampai disini dulu cerita mengenai Pulang ke Kota Duri. Dan akan saya sambung di halaman berikutnya.

Author: Adelina

I Love Yoga, Photograph and Travelling around the world (someday)

27 thoughts on “Pulang ke Kota Duri”

  1. kamu asli duri Adel ? saya pernah lewat sekali waktu naik bus dari pekan ke medan, kota kecil, jalannya rusak, tapi penyumbang pad terbesar di kab.bengkalis.. ini ceritanya mudik rame2 kah?

    1. Benar mas, aku besar dan lama di Duri. Kemaren aku lewati jalannya lagi dalam perbaikan nga tau dech bakalan bertahan berapa lama. Baru baca sekilas judul nya mas ada mengenai Kandis yach. Asli tinggal disanakah? Kalau jalan dari Duri ke Pekanbaru pasti lewatin Kandis dan disana selalu macet sekali hiksss..

  2. wahh tulisan ttg Duri!!!
    Tulisan gini yang ditunggu hehe asik ya bisa kesana, aku uda lupa gimana situasi kota duri haha
    Duri itu melayu yang setengah minang setengah batak haha asik nihh
    Terima kasih ya kak, uda share tulisan tentang Duri 🙂

    1. hehehe sama-sama Muel. Saking campur-campur nya budaya dan bahasa disana sampai buat bahasa sendiri dikalangan kita yach. Nga ada yang berubah sich Muel dari kota Duri kalaupun rame adanya diluar komplek. Nga kangen Duri kah? 🙂

    1. Terima kasih Wahyu sempatin mampir kesini, halamannya sudah mulai berdebu nich kelamaan ditinggalin. hehehehe.

      Ada wahyu, justru kuahnya yang maknyuss karena kental dan ada bumbu kacangnya gitu 🙂

  3. Kota kelahiran selalu bikin rindu yaa. Tapi udah 12 tahun gak pulang? Wooooogh, lamanya.
    Btw kamu pake Citilink ya? Lagi ada banyak program hadiah tuh dari Citilink 😉

    1. iya mbak Eka, sudah 12 tahun nga ke Duri karena orang tua pindah ke Siantar. Jadi nga ada yang bisa dikunjungi kalau kesini.

      oooyyaaa. entar tak cek citilink dech. hehehe terima kasih yach buat info nya.

  4. lontong pecal mungkin sama dengan katupek pical di tanah Minang ya..?
    pecala pakai mi pakai gulai nangka

    perjalanan nostalgia selalu menyenangkan ya, kakak baru balik nostalgia juga ke Bengkulu he..he…

    1. Semoga kesampaian yach mas hehehe.. emang rada mirip sich lontong pecal yg disini ama di padang. Kalau lontong sayur padang pasti pakai sayur pakis. Jarang2 nemu yg lontong pakai sayur pakis asli padang di jakarta

  5. Wah jadi kangen Pekanbaru. Kemarin pas tugas di Bukittinggi aku sebulan sekali ke Pekanbaru, sejak balik Jakarta di 2014 belum pernah ke sana lagi 😀

Leave a Reply