Untuk Mama, Wanita yang Tangguh

untuk mama wanita yang tangguh

Tulisan ini dibuat oleh adik saya Ricky Andrian Tampubolon ketika mama kami kambuh dari sakit yang dia derita. Penyakit yang sudah beliau derita sejak tahun 1991 dan tahun 2012 adalah tahun dimana dia cukup lama tidak sadarkan diri. Mungkin secara fisik dia masih dapat berjalan dan melakukan aktivitas seperti biasanya, hanya secara kepribadian beliau seperti orang yang tidak sadar dan bukan menjadi pribadi dia yang sesungguhnya.

Surat untuk Mama, wanita yang tangguh. Adalah tulisan Ryan dimana mama berada dikondisi yang paling berat yang pernah dia alamai. Dan saat itu kami tidak tau lagi apa  yang harus kami perbuat. Kami hanya berserah dan minta pertolongan Tuhan untuk sungguh-sungguh menjamah hatinya.

Saya menaruh kembali tulisan ini untuk mengingat bagaimana kebaikan Tuhan campur tangan dalam hidup kami. Walaupun penyakit tersebut akan terus menghantui kami, tapi saya percaya kami semua dikuatkan. Dan justru membuat keluarga kami menjadi semakin kompak dan bersatu melawan penyakit Mama.

Untuk Mama, Wanita yang Tangguh.

by Ricky Tampu on Thursday, August 30, 2012 at 3:52pm·

Jalan setapak itu sempit, berbatu, sangat sedikit orang yang mengenal gang ini. Kala itu sore tapi masih sepi di sana, seperti biasanya. Paling hanya suara pekerja-pekerja tukang batu, angkat semen, mobil yang hanya lewat sesekali, atau bunyi mesin-mesin yang tak kutahu apa namanya. Banyak sekali pensiunan yang tinggal di gang ini.  Di gang itu, berada di dekat hamparan kebun rumahku terletak.

Aku masuk membuka pintunya. Pintu rumah ini terbuka tidak seperti biasanya. Seorang wanita langsung berlari mendapatiku, entahlah dia bahkan mengenal langkahku. “Si Ryan itu!” (Ryan panggilan namaku di rumah). Ya, itu mama. Badannya lebih kurus daripada setahun yang lalu kutemui, tatap matanya lemah, genggaman tangannya tidak seerat dulu. Aku salam dia, cium pipinya. Sudah lama aku tidak menemuinya, walau doanya selalu menyertaiku, dan segala macam nasehat-nasehatnya masih kuingat.

Mamaku sakit. Hanya itu alasan aku pulang. Kalau tidak, aku sudah mengembara ke mana-mana atau bantu-bantu organisasiku. Tapi sekarang mamaku sakit sudah sangat lama. Saudaraku bergantian pulang dari tempat asal tinggal mereka yang berbeda-beda untuk menjaganya.

Sementara bapak kemudian  terbangun dari tidurnya karena suara mama. Dia  sudah semakin terihat lelah dan  sangat tua di umurnya sekarang, walau masih terpahat karakter kerja keras dan kesederhanaannya, tidak berbeda seperti yang lalu. Pria ini yang banyak mendidikku tentang pentingnya berdoa, bekerja keras, dan hidup yang  sederhana. Dia selalu mendoakan kami dalam kesehariannya, sekalipun tidak seorangpun anaknya berada di dekatnya.

Bapak dan mama telah mengalami perjalanan yang panjang, berat, dan rumit akhir-akhir ini. Sangat sedikit beban yang dia dapat berikan pada orang lain untuk dibagikan, karena sanak saudaranya pun telah menjauh. Tapi masih sempatnya mereka bilang supaya aku tidak pulang supaya jangan menyusahkan diriku sendiri.

Seminggu aku di sana aku melihat banyak sekali pelajaran. Orang Batak, entah kenapa, sangat menekankan pentingnya pendidikan dalam keluarga. Saat itu juga aku berkeliling-keliling mendapati keluarga-keluarga yang stress karena anaknya tidak belajar dengan benar, padahal segala sesuatu sudah dia korbankan untuk anaknya supaya sekolah layak malah dipakai untuk bermain-main di perantauan. Ya apalagi tempatku tinggal kebanyakan hidup orang dari ekonomi menengah ke bawah, anak-anak adalah harapan mereka untuk kemudian dapat jadi tulang punggung keluarga. Ya, jadi mesti semangat! Aku jadi mengerti kenapa Bapak melarangku pulang, dia tidak ingin  aku kepikiran masalahnya dan dia takut ini jadi mengganggu kuliahku. Tapi kulihat bebannya sudah sangat besar, ya aku harus membantu untuk meringankannya.

Seminggu aku di sana kulihat dengan mataku sendiri keadaaan mama. Sering sekali kuajak dia berjalan-jalan, tuntun dia berjalan pelan-pelan. Kadang perih hati ini melihat keadaannya sementara doa dan usaha kami sudah sangat banyak sekali untuknya. Teringat aku akan cintanya padaku saat kecil. Ketika aku pulang dari tempat-tempat jauh  sangat senang sekali menemuinya. Ya, dia tempat berkumpulnya omelan-omelan, menghabiskan waktu-waktu tidak penting saat bosan dengan pembicaraan anak-anak yang mau beranjak dewasa. Tapi bukan rasa benci yang dia tunjukkan, malah perhatiaannya padaku tetap seperti saat aku kanak-kanak dulu, doa,  harapan, dan nasehatnya  masih selalu menyertai kami. Dia seperti tidak mengharapkan apapun selain kebahagiaan kami, anak-anaknya.

“Hahaha, kami hanya tamat STM dan SMEA, bersekolah asal-asalan, tapi kalian kan sekarang pintar-pintar, mama bangga melihat kalian semua,” kata-katanya paling kuingat sambil dia tertawa menceritakan masa kecilnya.  Ya, mama hidup tidak jauh dari kekerasan saat kecil. Perlakuan-perlakuan tidak adil dia sering dapatkan dari keluarganya dulu. Aku jadi malu sendiri melihat diriku yang sering membuang waktu untuk hal yang tidak penting.

Kupegang tangannya sambil berjalan. “Ma, kau tahu ga? Aku mencintaimu..” Ingin sekali kubuat dia bangga dengan diriku, entah bagaimanapun caranya supaya ringan bebannya.

Di lorong itu kau merasa sendirian berjalan

Jangan, jangan pernah berpikir demikian ma..

Tengadahkan kepalamu dan liat suluh-suluh itu menyala begitu terangnya

Suluh-suluh itu adalah harapan dan doa kami

Yang akan menuntun langkahmu, menguatkan langkahmu

Kami sudah lama menunggumu ma.

Kata orang begitu panjang jalan sampai kedamaian. Tapi bagiku tidak ada kehidupan di bumi ini yang benar-benar damai, masalah pasti selalu ada!  Hidup yang keras akan menuntunmu, menguji dirimu untuk semakin kuat.  Karena penyertaan Tangan Tuhan itu memang ada maka kita tidak boleh lari dari rancangan-Nya, sekalipun berat dan besar cobaannya.

Tentang Wanita.. Hatinya bagai karang, walau lembut sikapnya. Dia penuh dengan rahasia. Sedikit keluhannya bukan berarti dia tidak punya masalah, tetapi dia tidak ingin memberatkan orang lain. Dia berusaha menjadi penolong bagi orang lain dengan segala yang dia miliki, walau badannya tidak kuat, dan hatinya sering tidak kuat menahan masalah yang dia hadapi.

Lihat dia sungguh-sungguh mengerjakan segala sesuatu. Dia setia dalam mengerjakan tugasnya, sekalipun sepele dan remeh orang melihat yang dia kerjakan.  dia sungguh memperhatikan dengan detil, sampai hal-hal yang paling kecil sekalipun.

Air matanya, memenuhi hidupnya. Ketika merasakan keromantisan, ketika melihat yang dia cintai bahagia, ketika dia takut yang dia cintai pergi dan bahkan akhirnya  meninggalkannya. Air mata bahagia dan sedih tidak ditunjukkan di depan umum, cukup dia sendiri yang tahu apa yang dia rasakan.

Dia setia mendoakan, sesibuk apapun dia.  Doa dan harapannya selalu menyertai orang-orang yang dia cintai.

 Terima kasih Ma, kami akan membuatmu bangga!

untuk mama wanita yang tangguh

 

Saya sudah berulang-ulang membaca surat untuk mama, wanita yang tangguh yang Ryan tulis. Walaupun begitu tiap kali membacanya, air mata saya tidak pernah lepas untuk berderai.  Membuat saya pengen pulang dan memeluk mama. Mama, terima kasih untuk semua yang kau berikan. I love you.

Author: Adelina

I Love Yoga, Photograph and Travelling around the world (someday)

13 thoughts on “Untuk Mama, Wanita yang Tangguh”

    1. Aku bacanya berkali-kali nga pernah absen nga nangis Ryan. Saat ini mamaku sudah baikan sich, doain terus yach supaya nga kambuh lagi. Aminnnn..

  1. Lin, ikut mendoakan semoga Mama selalu diberikan kesehatan yang baik, kebahagiaan bersama seluruh keluarga dan semoga semua tetap baik-baik saja 🙂

Leave a Reply