Taman Hutan Raya Ir. Juanda Bandung

taman hutan raya ir juanda bandung 1

Saya lahir dan besar di kota kecil di Pekanbaru. Dimana komplek dan perkampungan warga berada ditengah-tengah hutan. Jadi saya sangat familiar dengan lingkungan hutan dan rawa-rawa. Tetapi itu tidak membuat saya mengenal hutan dan binatang yang ada dihutan tersebut. Banyak cerita masa kecil yang cukup lucu dan unik yang saya alami selama dikota tersebut yang berkaitan dengan hutannya.

Waktu saya TK-SD kelas 1 saya tinggal di Minas dimana komplek tempat saya tinggal hanya dihuni 2 deret rumah, masing-masing deret terdiri 10 rumah dan saling hadap-hadapan. Dimasing-masing deret rumah bagian belakang langsung berhadapan dengan hutan yang cukup lebat. Jadi saya bisa lihat pemandangan hutan yang berada dibelakang deretan rumah depan begitu juga dengan rumah dideretan depan rumah saya bisa melihat pemandangan hutan yang ada dibelakang rumah kami.

Jika kita berada diteras depan saya masih melihat monyet hitam (saya nga tau itu jenisnya monyet apa kera) bergelantungan di hutan depan rumah. Dan karena mereka banyak sekali kadang saya merasa kalau mereka sedang bersenandung atau bercengkerama dengan sesama monyet yang ada. Sampai sekarang saya masih suka mendengar dan membayangkan senandung dan bahasa monyet tersebut ada dikepala saya. Kalau dari kejauhan lihat tingkah laku monyet suka menggemaskan tetapi kalau gerombolan monyet tersebut datang dan masuk pekarangan rumah mengobrak abrik tanaman kita nya suka kesel bangat.

Kadang kalau mama saya telat mengambil pakaian dari jemuran belakang sudah bisa dipastikan pakaian yang ada pasti sudah diberantakin oleh pasukan monyet tersebut. Dan kadang kalau mama saya lagi rajin nanam singkong atau tanaman lain dibelakang pasti yang nikmatin pertama kali justru monyet bukan kami nya hiksss…

Kadang kalau bis sekolah telat menjemput, kami dengan sukarela berjalan kaki dari sekolah ke rumah melewati hutan-hutan yang ada. Itu merupakan hal yang sangat kami senangi. Kadang kami menemukan bongkahan batu dan kayu dan kami namai dengan nama buatan kami sendiri. Saking asyiknya bermain dihutan sampai lupa waktu dan tiba dirumah bisa sampai sore. Yang ada mama pun marah-marah karena kuatir dan takut kaminya kenapa-kenapa.

Ketika saya pindah ke Duri, situasinya pun tidak jauh berbeda. Saya sering menemukan biawak datang ke teras rumah. Karena tidak berapa jauh dari rumah saya terdapat rawa-rawa yang mana airnya masih bersih. Saat itu saya meninggalkan adik saya yang berumur 2 tahun bermain di teras depan rumah sedangkan saya nya mesti mengambil barang di dapur. Dan sekembali nya dari dapur menuju teras saya menemukan biawak tersebut hendak mendekati adik saya.

Untung saat itu jarak antara adik saya dan biawak dihalangi oleh pintu dengan kawat nyamuk. Sehingga biawaknya tidak berani mengganggu adik saya dan tidak berapa lama kemudian biawak tersebut lari menjauh dari teras rumah. Begitu juga dengan ular, kalajengking kayaknya beberapa kali kedapatan masuk kedalam rumah dan membuat seisi rumah geger.

 

taman hutan raya ir juanda bandung 2

 

Ada saat dimana saya sengaja datang terlambat karena berusaha menghindari upacara bendera. Karena habis upacara ada ulangan yang saya belum persiapkan. Yang ada saya cabut dari upacara untuk belajar dulu dirumah mempersiapkan bahan ulangan. Karena saya telat maka mau tidak mau saya harus berjalan kaki melewati hutan sebelum masuk ke halaman sekolah. Saking asyiknya membaca dan menghafal pelajaran sambil jalan, saya hampir saja menambrak ular yang sedang melingkar dan meliuk didepan saya.

Yang ada saya kaget dan menjerit-jerit sambil lari nga karuan. Si ular nya pun kaget dan langsung lari, tetapi sampai hari ini saya masih ingat itu ular bentuk dan warnanya sangat cantik dengan kulit berwarna kuning menyala. Saya jarang melihat ular dengan bentuk seperti itu, tapi karena sudah takut dan kaget duluan rasanya saya sudah tidak peduli lagi dengan sekitarnya. Ternyata ada teman saya yang sama bandelnya dengan saya berada dibelakang dan ketawa-ketawa girang lihat saya lari-lari nga jelas begitu.

Ada lagi cerita mengenai seorang bapak yang kerja di shift malam, si bapak kerja dari jam 7 malam hingga jam 5 pagi. Ketika selesai shift dan diantar pulang oleh mobil kantor ke rumah, Si Bapak menemukan tamu tak diundang sedang duduk malas-malasan di teras depan rumahnya. Tamu tersebut adalah harimau sumatera yang entah bagaimana asyik nongkrong diteras rumahnya. Langsung si Bapak ini menelphone istri yang masih tidur didalam rumah untuk tidak keluar dari rumah dan diwaktu yang sama langsung menghubungi pet control agar harimau tersebut ditangkap dan dikarantina ditempat habitatnya. hiksss seram.

Kalau cerita mengenai gajah ngamuk sudah sering kami dengar dan saya beberapa kali melihat secara langsung bagaimana gajah-gajah tersebut masuk ke komplek. Kadang saya suka kasihan lihat gajah-gajah ini sebenarnya kitalah yang merebut wilayah mereka sehingga mereka harus tersingkir dan mencari makanan ditempat-tempat yang lebih jauh dipelosok hutan.

Walaupun perusahaan sudah berusaha semaksimal mungkin menyediakan tempat penangkaran yang cocok untuk gajah-gajah dan binatang yang ada disini tapi tetap aja yang namanya binatang liar pasti pengennya hidup di alam bebas tanpa gangguan dan campur tangan dari manusia.

Hanya sayang makin kesini keberadaan hutan semakin berkurang berkat ulah jahil manusia, baik itu untuk membuka lahan perkebunan sawit ataupun memang kondisi cuaca yang saat ini memang kering sehingga menyebabkan suhu udara tinggi dan memicu kebakaran secara tidak disengaja. Sungguh benar-benar disayangkan, jika hutan yang ada di Indonesia yang waktu saya kecil disebut sebagai paru-paru dunia terancam. Dan nantinya kalau tidak dijaga dari sekarang bisa-bisa hutan kita gundul dan kering itu juga akan berimbas ke kita nya juga.

Tadinya saya mau cerita mengenai Taman Hutan Raya di Ir. Juanda Bandung yang ada saya malah keasyikan cerita tentang pengalaman masa kecil saya dengan hutan yang ada di Pekanbaru. Menurut saya hutan kota yang ada di Bandung bisa kita contoh. Selain untuk kelestarian alam dan lingkungan keberadaan hutan kota juga dapat menjadi tempat rekreasi warga setempat. Selain rapi dan tertata dengan baik taman hutan kota bandung juga sarat dengan unsur pendidikan dan pengenalan masyarakat terhadap jenis-jenis pohon dan kegunaannya bagi manusia dan binatang yang tinggal di hutan tersebut.

 

taman hutan raya ir juanda bandung 3

Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda merupakan kawasan konservasi yang terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman yang terletak di Kota Bandung, Indonesia. Luasnya mencapai 590 hektare membentang dari kawasan Dago Pakar sampai Maribaya.

Letak Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda berada di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, pada ketinggian antara 770 mdpl sampai 1330 mdpl. Di atas tanahnya yang subur terdapat sekitar 2500 jenis tanaman yang terdiri dari 40 familia dan 112 species. Pada tahun 1965 luas taman hutan raya baru sekitar 10 ha saja, namun saat ini sudah mencapai 590 ha membentang dari kawasan Pakar sampai Maribaya. Saat ini pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Kehutanan Pemda Provinsi Jawa Barat (sebelumnya berada di bawah naungan Perum Perhutani). Sumber Wikipedia.

Taman Kota ini dibuka setiap hari dari jam 08:00 – 18:00. Dengan tiket masuk Rp. 10.000/orang. Selain pemandangan hutan, kita juga dapat menikmati pemandangan air terjun dan goa-goa peninggalan Jepang dan Belanda yang ada di Taman Kota ini. Disini juga tersedia warung dan jalanan menuju hutan bagus dan tertata dengan baik. Kami berjalan santai dan mengelilingi Taman Hutan selama 3 jam tanpa terasa, karena udaranya sejuk dan kalaupun lelah kita bisa beristirahat dan duduk di kursi taman yang disediakan ditaman kota ini.

Author: Adelina

I Love Yoga, Photograph and Travelling around the world (someday)

22 thoughts on “Taman Hutan Raya Ir. Juanda Bandung”

  1. Sukaa <3 Cerita masa kecilmu seru banget, walaupun aku bakalan lemes seumur hidup kalo harus berhadapan sama ular, biawak dan harimau XD
    Jadi sedih mikirin warga dan binatang dalam hutan. yang di kota aja menderita kayak gitu, apalagi yang di dalam hutan ya :'((( semoga segera berlalu.

    1. Maaf mbak baru balas sudah ke-enter hikkss. Benar mbak sedih dech lihat berita asap yang ada sekarang. Sudah berbulan-bulan tapi asapnya tidak kunjung padam. Sudah berapa hektar hutan yang habis kalau begini cerita nya hikksss..

      Keasyikan cerita masa lalu jadi lupa inti dari artikel ini wkwkwkwk…:-)

      1. huwaa, ampir sedih karena cuma dibales makasih *HALAH main perasaan banget anaknya* – aku belum kesampean ke hutan kota juanda, selanjutnya ke bandung harus ke sana <3
        Sekarang kan lagi musim glamping tuh, menikmati hutan tanpa bersusah payah macam camping beneran – kamu mah udah dari dulu ya menikmati hutan :'D kereen, anti mainstream hihi

        1. Hehehehe maafkan nga bermaksud gimana-gimana koq hehehe.. ayo mbak kita jelajahi hutan yang ada disekitar kita. Kalau sudah kesini jangan lupa mampir ke tebing keraton dan cafe d’pakar yach.

  2. Ugh, ada sesuatu yang salah ketika para hewan tak punya habitat dan masuk ke lingkungan manusia. Semoga penanganan terhadap mereka tepat dan semua hewan langka dan dilindungi itu kembali ke habitatnya yang luas ya :hehe. Tapi mengingat situasi lokasi perumahan, ada tamu tak diundang yang masuk kadang harus dibiasakan sih :huhu. Cuma agak peer juga kalau pulang-pulang saya ketemu ular asyik tidur di atas kasur, duh amit-amit.

    Ini yang di daerah Dago itu ya Mbak? Semoga pas kunjungan ke Bandung nanti bisa singgah ke sana :amin :hehe.

    1. Benar Gara ini di Dago, enak dech duduk-duduk santai disini.

      Setuju Gara, tinggal di perumahan yang banyak tamu tak diundang benar-benar buat spot jantung. Waktu biawak berkunjung ke rumah itu pas aku ninggalin adik ku yang saat itu masih berumur 2 tahun main diteras untung aja ada pintu kawat nyamuk kalau nga bisa diserang dech adikku itu. hiksss…

  3. Yaampun Liin. Hatiku berdesit baca tulisanmu. Cerita wamtu kecilnya ajaib banget sepertinya. Perasaan yang sama waktu baca buku Serial Anak Mamaknya Tere Liye deh. Pernah ke taman hutan kota ini juga dan kaguum sama alamnya.

    1. Jadi pengen nyari buku serial anak mamak jadi nya mas. Kalau dulu rasanya pas ngalamin itu semua kayak biasa aja. Tapi tadi pas nulis yg harusnya taman hutan kota langsung memori masa kecil menari-nari di kepalaku sampai ceritanya ngelantur kemana-mana. Mas tetap loh yach gue masih punya masalah ama blog mu

Leave a Reply