Weekly Photo Challenge; Treat

weekly photo challenge treat 1

 

weekly photo challenge treat 1

Cookies and Cream

 

weekly photo challenge treat 3

Blueberry Cheese Cake

 

Kalau lagi pengen nongkrong dan makan/minum yang manis-manis disekitaran Kelapa Gading pasti saya mampir kesini. Hampir nga pernah pindah atau nyobain tempat yang lain, padahal di Kelapa Gading banyak bangat tempat ngopi yang sejenis. Sampai-sampai teman saya kalau ngajak ketemuan yang ada pada bosan, “Kenapa harus disini sich emang nga ada tempat lain lagi apa yach?”

Kalau lagi pamer location di path sedang ada di Kelapa Gading, beberapa orang teman saya pada ngeletuk “Kamu pasti lagi di Dante yach? OMG apa nga bosan yach kesana mulu?” Saya sendiri juga nga tau kenapa selalu datangnya kesini, kayak otomatis aja kaki ini melangkah dan nyari tempat duduk disini. Padahal tepat didepan Dante ada Starbuck dan nga berapa jauh ada J-Co dan Coffee Bean. Kalau dari tampilan sich sama aja yach, hanya yang buat beda itu makanan disini lebih banyak jenisnya dan makanannya lumayan berat untuk saya.

Dante Coffee

Mal Kelapa Gading 3- Ground Fl

Jl. Raya Bulevar Kelapa Gading – Sentra Kelapa Gading
Jakarta Utara 14240
Phone 021-45853875 Fax 021-4585 3875

OPERATIONAL HOURS
Sunday-Thursday 07.00 22.00
Friday-Saturday 07.00 23.00

http://dantecoffee.co.id/

 

Terus lokasinya di Mall Kelapa Gading pas bangat didepan Lobby. Jadi kalau saya habis window shopping mau keluar/pulang pasti otomatis mampir kesini. Minuman yang saya pesan nga jauh-jauh dari Cookies and Cream, kalau makanan saya selalu pesan pasta atau lasagna karena porsi nya di perut saya pas. Kecuali kalau pengennya cake baru saya pesan cheese cake. Yang ada sekarang adik saya pun ikut-ikutan sama dengan saya, “Kalau sudah sampai mall cari aja aku di Dante yach kak! Kedubrak…

Inilah salah satu cara saya memperlakukan (treat) diri saya akan makanan enak. Membayangkan pasta hijau dengan cookies and cream yang ada bisa jadi pulang kantor saya mampir kesana lagi nich.

 

 

Pinca Mayurasana

pincha-mayurasana

Pinca Mayurasana atau disebut Feathered Peacock Pose

 

Sampai hari ini saya masih kesulitan untuk melakukan gerakan ini, dengan bantuan dan pengawasan dari guru, baru dech saya berani melakukannya. Jika melakukan sendiri saya masih takut, salah-salah yang ada badan saya terpelanting kebelakang. Saya pernah mengalami cedera sejak saat itu saya kapok melakukan tanpa pengawasan guru saya.

Langkah untuk melakukan gerakan Pinca Mayurasana adalah:

 1. Posisi tangan dilipat sehingga siku nempel di matras.

Jarak masing-masing tangan selebar bahu tidak terlalu dekat ataupun terlalu jauh. Posisi badan Downward Facing Dog Pose. Setelah siap, perlahan-lahan kaki maju mendekati lengan. Posisi kepala dongak menghadap kedepan. Pertama kali melakukan gerakan ini rasanya lengan atas pegel sekali karena semua berat badan ditumpu dilengan.

2. Angkat kaki kanan setinggi dan selurus mungkin.

Tahan diposisi ini 5 nafas. Kemudian lakukan gerakan yang sama pada kaki kiri. Untuk 2 bulan pertama lakukan langkah 1 dan 2 secara berulang-ulang.

3. Mengangkat salah satu kaki secara bergantian

Jika sudah berasa kuat dan mantap dapat melanjutkan kelangka ketiga yaitu kaki yang ada dibawah dijinjit sedangkan kaki diatas perlahan-lahan dorong keatas seperti dihentak-hentak seolah-olah kita melempar kaki kita keatas. Kalau tidak ada yang mengawasi sebaiknya dalam melakukan posisi ini badan mendekat ke dinding sehingga kalaupun badan kita terhempas kebelakang kita tau pasti kalau ada dinding yang akan menopang badan kita. Lakukan terus menerus dan diselang-seling pada kedua kaki.

Saya masih berada di langkah ketiga itu pun masih dibantu oleh guru saya. Seharusnya jika posisi tangan dan perut kita kuat, kaki dapat naik secara otomatis sama seperti ketika saya pertama kali belajar mengangkat kaki pada gerakan headstand. Ditahap ini kekuatan perut, paha lah yang bekerja untuk mengangakat kaki sehingga kaki dapat berada diatas dan lurus. Selebihnya badan akan menyesuaikan keseimbangan secara otomatis.

Selamat mencoba dan semakin semangat latihan agar kedepan gerakan ini dapat dengan lancar dilakukan.

 

Acara TV Wisata Favorite

Beberapa tahun belakangan ini saya sangat suka nonton acara TV mengenai wisata kuliner dan acara jalan-jalan. Selain sebagai ajang promosi suatu negara, acara TV ini juga mengupas makanan asli daerah tempat mereka berkunjung dan kadang ada sesi masak-memasak nya juga. Cara mereka memasak kayaknya gampang dan mudah bangat, tapi kalau saya yang disuruh masak kayaknya nga bakalan mungkin bisa menyajikan secantik masakan mereka. (ya iyalah namanya juga koki bisa belajar berapa tahun untuk jadi seperti mereka, hehehehe). Selain keren dan enak-enak, acara ini sanggup membuat saya lapar sesaat dan langsung nyari makanan di kulkas, hiksss ini mah namanya rakus.

Negara-negara yang dikupas ditayangan ini ada yang khusus satu negara diliput dalam beberapa season seperti Fun Taiwan dan Taste of Vietnam. Kalau Peter Kuruvita dan David Rocco tiap season ada tema khusus seperti Peter Kuruvita dengan Island Feast dan David Rocco dengan Dolce Vita dan Dolce India. Tetapi ada beberapa tayangan yang tiap episodenya menceritakan negara-negara yang berbeda sesuai dengan topik saat itu. Mereka keliling dari satu negara ke negara yang lain.

Kemaren ketika trip Komodo saya satu kamar di Hotel Labuan Bajo dengan mbak Nining salah satu peserta trip. Yang tadinya kita cuma gonta ganti saluran TV dan mencet-mencet remote nyari saluran apa saja yang disediakan disini. Mulai dech kita cerita mengenai project trip selanjutnya. Si mbak ini punya rencana ke Eropa Timur dan Maroko akhir tahun ini, keren bangat dech lu mbak. Dan semua bermula dari nonton acara TV. Akhirnya kita ngobrol semalam suntuk hanya ngomongin acara TV yang kita suka yang membuat kita bermimpi dan kepengen kesana.

Berikut ini beberapa list acara TV wisata favorite saya.

Wisata plus jalan-jalan dan makan-makan yang sanggup membuat saya menanti acara tersebut dan duduk manis di depan TV:

1. Anthony Bourdain – No Reservation.

acara tv wisata favorite 1

 

Anthony Michael Bourdain (born June 25, 1956) is an American chef, author, and television personality. He is a 1978 graduate of the Culinary Institute of America and a veteran of numerous professional kitchens, including many years as executive chef at Brasserie Les Halles. Though Bourdain is no longer formally employed as a chef, he maintains a relationship with Les Halles in New York.

He is widely known for his 2000 book Kitchen Confidential: Adventures in the Culinary Underbelly, and in 2005 he began hosting the Travel Channel’s culinary and cultural adventure programs Anthony Bourdain: No Reservations and The Layover. In 2013, he joined CNN to host Anthony Bourdain: Parts Unknown (Wikipedia)

Ketiga acara Anthony Bourdain yaitu No Reservation, The Layover, Parts Unknown saya ngikutin semua dan acaranya keren-keren. Acara ini ditayankan di TLC. Kalau kemaren episode No Reservation mengenai Euthopia saya nga gitu suka karena latar belakang negara euthopia yang carut marut membuat episode yang ini tidak menarik bagi saya.

Tetapi tayangan sebelumnya yaitu minggu lalu mengenai Croatian keren bangat. Ternyata ini negara cantiknya bukan main. Diepisode tersebut mengupas tentang pembuatan anggur, pencarian jamur truffle sampai ke peternakan tuna. Semuanya keren-keren dengan background pemandangan yang indah.

Pernah satu kali di episode beberapa tahun yang lalu dia sempat mengupas kuliner yang ada di Jakarta, ditayangan terakhir ada saat dimana Anthony nya makan nasi uduk disekitaran tempat penampungan sampah disalah satu sudut Jakarta. Hiksss.. Aduh itu yach, koq nga elit bangat dech

 

2. Ishai Golan – Street Food.

acara tv wisata favorite 2

 

Ishai Golan also known as Yishai Golan (born on 22 November, 1973) is an Israeli actor who is best known for his role in The Gordin Cell and Prisoners of War.

Pembawaan Ishai sangat lah lucu dan ramah dengan celana pendek, kemeja, syal serta topi, membuat penampilannya menjadi sangat bersahabat dan ceria disemua episode yang dia jalani. Dia beradegan seolah-olah turis yang nyasar dan kepengen tahu apa yang ada di negara yang dia kunjungi.

Sesuai dengan namannya street food, Ishai banyak meliput makanan-makanan pinggir jalan dan menelusuri pasar-pasar yang ada dinegara tersebut. Acara ini ditayangkan di NatGeo People dan saya paling suka yaitu episode di Vienna, Prague, Marseille, Manila, Korea dan Bangkok. Sayang acara ini hanya dua season saja. Kemudian Ishai Golan menjadi host diacara Top Tables Top Cities. Top Tables Top Cities saya ikutin juga tapi rasanya nga seseru Street Food.

3. Janet Hsieh – Fun Taiwan.

 

acara tv wisata favorite 3

acara tv wisata favorite 4

Janet Hsieh (Chinese: 謝怡芬; January 20, 1980) is a Taiwanese-American television personality, violinist, author, and model based in Taipei, Taiwan. She is the host of the Discovery Travel and Living Channel’s long-running series Fun Taiwan. The program is currently in its 13th season and has expanded to include Fun Asia and Fun Taiwan Challenge. She has been nominated four times for the Taiwanese Golden Bell Awards as Best Host of a Travel Program, and once for Best Host of a Variety Program. Wikipedia

Salah satu host TV favorite saya yaitu Janet Hsieh, saya sebenarnya tidak terlalu tahu dan ngikutin latar belakang dan kisah hidup mengenai Janet Hsieh. Hanya ketika melihat sosok beliau di Fun Taiwan saya suka bangat. Orang nya enerjik, ceria, cantik, beberapa kali jadi model dibeberapa acara dan iklan parfum tapi juga pintar bermain violin. Komplit bangat dech nich perempuan.

Fun Taiwan sendiri sebenarnya adalah ajang promosi wisata Taiwan dengan menggambarkan keindahan kota-kota yang ada di Taiwan beserta kekayaan budaya, alam dan makanan. Banyak hal seperti sejarah suatu kota dan bagaimana perkembangan negara tersebut dengan latar belakang kehidupan dan mata pencaharian masyarakat yang ada disana.

Acara Fun Taiwan ditayang di TLC dan kadang dibeberapa episode ada artis tamu yang menjadi host diacara tersebut seperti Ian Wright dan Bob Blumer. Ada beberapa orang lagi sich sebenarnya tapi yang sering saya lihat yach 2 orang artis tadi. Saat ini saya sedang menanti-nantikan episode mengenai wedding Janet Hsieh dan George Young. Tapi belum mengecek kapan tanggal tayangnya. Jangan-jangan sudah lewat lagi.

4. Robert Danhi – Taste of Vietnam.

 

acara tv wisata favorite 5

 

Host Robert takes us on not just a food odyssey in Taste of Vietnam, but a voyage into across the country trying local food; he meets Vietnamese people to talk about their customs, he gets in touch with ethnic minorities and he always finds a new challenge, using his sense of humour and adventurous spirit to always find the deepest flavours in each community.

Robert Danhi (born 19 July) is an American research chef and food writer specializing in Southeast Asian Cuisine. Danhi is also the author of the James Beard finalist cookbook Southeast Asian Flavors.Robert Danhi was born and raised in New York, United States. He started his culinary career as a dishwasher at t he age of 15.

After working his way up to sous chef positions in various Los Angeles restaurants, Danhi obtained his AOS degree at the Culinary Institute of America in Hyde Park, New York in 1991. Afterwards he returned to the food service Industry in Los Angeles and Hawaii. After attaining the position of Executive Chef, Danhi returned to academia and became the Executive Chef Instructor and Director of Education at the Southern California School of Culinary Arts. In 1998, Robert joined the Culinary Institute of America in Hyde Park as a faculty member. Wikipedia

Saya berusaha mencari jejak Robert Danhi untuk mengetahui latar belakang beliau. Tapi seperti nya tidak banyak pemberitaan mengenai sosok pria satu ini. Selain sebagai koki dan fotografer di Taste of Vietnam pembawaan Robert Danhi menurut saya sangat bagus, pendekatannya dengan masyarakat setempat membuat acara ini menjadi sangat komunikatif. Acara Taste of Vietnam ditayangkan di channel fyi dan juga merupakan ajang promosi negara Vietnam.

Dimana dengan keberagaman masakan Vietnam yang dari tampilan masakannya sangat enak-enak dan sehat, makanan Vietnam dimata kuliner dunia sangatlah terkenal, belum lagi keramahan masyarakat serta keasrian alam membuat negara ini cukup maju pesat dalam hal promosi bila dibandingkan dengan negara kita. Saya sudah menghabiskan 2 season dan setiap episode sanggup membuat saya ngiler dan lapar kalau melihat tayangan tersebut.

5. Peter Kuruvita – Island Feast.

acara tv wisata favorite 6

 

Peter Kuruvita (born October 1963) is an Australian chef, restaurateur and media personality, known for his rich culturally inspired cooking, highly influenced by his Sri Lankan father and Austrian mother. Born in 1963 in Fulham, to a Sri Lankan father and Austrian mother, Kuruvita lived the first four years of his life in England. In 1967 Kuruvita’s family decided to move to his father’s hometown of Colombo, Sri Lanka.[1] While growing up in Sri Lanka, he was introduced to cooking through his grandmother’s preparation of Sri Lankan cuisine.[2] It was this and a strong sense of family that inspired him to pursue food as a career.

In 1974 Kuruvita and his family moved to Sydney, where he went to school. Upon finishing high school he began an apprenticeship as a chef at East Sydney TAFE. He completed his final year at the new Ryde Catering College. Wikipedia

Diawal episode di season pertama My Sri Lanka with Peter Kuruvita banyak bercerita tentang latar belakang hidupnya yang adalah seorang koki Australia, yang adalah keturunan Sri Lanka dari ayah dan ibu Australia. Di acara ini Peter Kuruvita menapak tilas sejarah dan budaya asal ayahnya dengan mengupas masakan dan makanan kegemaran ayahnya semasa hidup.

Beliau juga menyusuri kota-kota yang ada di Sri Lanka dengan kekayaan budaya, alam dan juga kuliner beserta menu makanan yang kaya dengan rempah-rempah. Kemudian setelah sukses dengan My Sri Lanka, Peter Kuruvita juga menjadi host di acara Island Feast dimana dia mengunjungi negara-negara pesisir pantai Asia mulai dari Philipines – Indonesia – Vanuatu sampai Cook Island.

Di Indonesia Peter Kuruvita sempat mengunjungi Bandaneira – Maluku, saya sampai merinding ketika lihat beliau menceritakan sejarah rempah-rempah yang membuat Indonesia menjadi incaran banyak negara-negara penjajah untuk merebut kekayaan yang kita punyai.

Pembawaan Peter Kuruvita yang tenang, santun dan lembut membuat saya jatuh cinta dengan semua acara yang dia bawakan. Setelah Island Feast dia juga membawa acara Mexican Fiesta with Peter Kuruvita. Ini juga keren bangat.

6. Luke Nguyen – Great Mekong.

acara tv wisata favorite 7

Sumber : http://www.tlcasia.com/tv-shows/lukenguyensgreatermekong/

 

Luke Nguyen was born in 1978 in a refugee camp in Bangkok, Thailand, shortly after his parents fled Vietnam as refugees.

At just 23, Luke fulfilled his dream of opening his very own restaurant, Red Lantern, with his partner Suzanna Boyd, sister Pauline Nguyen, and Mark Jensen. Besides this award-winning Vietnamese restaurant in Sydney, Luke also opened Red Lantern on Riley and the Red Lily Cocktail Bar.

When he’s not at the restaurant, Luke runs culinary discovery trips to Vietnam and Cambodia, and hosts several popular travel and cooking series. He has appeared on MasterChef Australia, and was the judge and host for MasterChef Vietnam.

In 2009, Luke and Suzanna founded The Little Lantern Foundation in Vietnam, a non-profit organisation that gives disadvantaged youth the opportunity to be trained in the restaurant and hospitality industries. Visit www.littlelanternfoundation.org for more information about The Little Lantern Foundation.

Kalau melihat kisah hidup Luke Nguyen cukup tragis tapi semua itu membawa dia menjadi seorang koki yang sangat humble dan terkenal. Tayangan mengenai Mekong juga menjadi salah satu favorite saya. Hanya karena nama kota yang dia liput rada susah saya ingat jadi kadang saya tidak tau itu kota adanya dibagian mana dari sungai Mekong karena area ini sangatlah luas meliputi China, Vietnam, Myanmar dan Thailand. Acara ini ditayangkan di TLC.

7. David Rocco – Dolce Vita and Dolce India.

 

acara tv wisata favorite 8

 

David Rocco (born in Toronto, Ontario) is a Canadian actor and producer. He is most famous for producing and hosting the television series David Rocco’s Dolce Vita. He was also the co-creator and host of Catalyst Entertainment’s food and travel hybrid series Avventura: Journey in Italian Cuisine, which is currently being syndicated in the United States on Vibrant TV Network, and was a featured host for Don’t Forget Your Passport. Wikipedia

Di Dolce Vita David Rocco banyak mengupas kuliner, makanan dan masakan yang ada di Itali. Setelah sukses dengan Dolce Vita David Rocco kemudian melanjutkan sesi kunjungan kuliner di India dengan judul Dolce India. Dua-dua nya keren dan mampu membuat saya duduk manis tanpa perlu berpindah saluran TV pada saat acara ini berjalan. Kalau dipikir-pikir unsur budaya antara Italy dan India itu jauh bangat dan sangat berbeda, tapi David Rocco berhasil membawa kedua acara ini dengan baik. Kadang dia berusaha membuat masyarakat India yang dia temui terkesan dengan masakan buatan ala Italinya. Dolce Vita dan Dolce India ditayangkan di NatGeo People.

Sebenarnya ada lagi beberapa tayangan yang masuk list saya, tapi saya lupa namanya siapa. Wajahnya sich kebayang dikepala hanya namanya siapa dari tadi nga keluar-keluar dari kepala saya. Hiksss begini nich yang menyebalkan.

Semoga dengan menonton acara ini saya bisa bermimpi dan mimpi tersebut suatu hari terkabul. Bisa jadi suatu hari nanti jalan-jalan ketempat yang ada diacara ini yach. Aminnnn..

 

Taman Hutan Raya Ir. Juanda Bandung

taman hutan raya ir juanda bandung 1

Saya lahir dan besar di kota kecil di Pekanbaru. Dimana komplek dan perkampungan warga berada ditengah-tengah hutan. Jadi saya sangat familiar dengan lingkungan hutan dan rawa-rawa. Tetapi itu tidak membuat saya mengenal hutan dan binatang yang ada dihutan tersebut. Banyak cerita masa kecil yang cukup lucu dan unik yang saya alami selama dikota tersebut yang berkaitan dengan hutannya.

Waktu saya TK-SD kelas 1 saya tinggal di Minas dimana komplek tempat saya tinggal hanya dihuni 2 deret rumah, masing-masing deret terdiri 10 rumah dan saling hadap-hadapan. Dimasing-masing deret rumah bagian belakang langsung berhadapan dengan hutan yang cukup lebat. Jadi saya bisa lihat pemandangan hutan yang berada dibelakang deretan rumah depan begitu juga dengan rumah dideretan depan rumah saya bisa melihat pemandangan hutan yang ada dibelakang rumah kami.

Jika kita berada diteras depan saya masih melihat monyet hitam (saya nga tau itu jenisnya monyet apa kera) bergelantungan di hutan depan rumah. Dan karena mereka banyak sekali kadang saya merasa kalau mereka sedang bersenandung atau bercengkerama dengan sesama monyet yang ada. Sampai sekarang saya masih suka mendengar dan membayangkan senandung dan bahasa monyet tersebut ada dikepala saya. Kalau dari kejauhan lihat tingkah laku monyet suka menggemaskan tetapi kalau gerombolan monyet tersebut datang dan masuk pekarangan rumah mengobrak abrik tanaman kita nya suka kesel bangat.

Kadang kalau mama saya telat mengambil pakaian dari jemuran belakang sudah bisa dipastikan pakaian yang ada pasti sudah diberantakin oleh pasukan monyet tersebut. Dan kadang kalau mama saya lagi rajin nanam singkong atau tanaman lain dibelakang pasti yang nikmatin pertama kali justru monyet bukan kami nya hiksss…

Kadang kalau bis sekolah telat menjemput, kami dengan sukarela berjalan kaki dari sekolah ke rumah melewati hutan-hutan yang ada. Itu merupakan hal yang sangat kami senangi. Kadang kami menemukan bongkahan batu dan kayu dan kami namai dengan nama buatan kami sendiri. Saking asyiknya bermain dihutan sampai lupa waktu dan tiba dirumah bisa sampai sore. Yang ada mama pun marah-marah karena kuatir dan takut kaminya kenapa-kenapa.

Ketika saya pindah ke Duri, situasinya pun tidak jauh berbeda. Saya sering menemukan biawak datang ke teras rumah. Karena tidak berapa jauh dari rumah saya terdapat rawa-rawa yang mana airnya masih bersih. Saat itu saya meninggalkan adik saya yang berumur 2 tahun bermain di teras depan rumah sedangkan saya nya mesti mengambil barang di dapur. Dan sekembali nya dari dapur menuju teras saya menemukan biawak tersebut hendak mendekati adik saya.

Untung saat itu jarak antara adik saya dan biawak dihalangi oleh pintu dengan kawat nyamuk. Sehingga biawaknya tidak berani mengganggu adik saya dan tidak berapa lama kemudian biawak tersebut lari menjauh dari teras rumah. Begitu juga dengan ular, kalajengking kayaknya beberapa kali kedapatan masuk kedalam rumah dan membuat seisi rumah geger.

 

taman hutan raya ir juanda bandung 2

 

Ada saat dimana saya sengaja datang terlambat karena berusaha menghindari upacara bendera. Karena habis upacara ada ulangan yang saya belum persiapkan. Yang ada saya cabut dari upacara untuk belajar dulu dirumah mempersiapkan bahan ulangan. Karena saya telat maka mau tidak mau saya harus berjalan kaki melewati hutan sebelum masuk ke halaman sekolah. Saking asyiknya membaca dan menghafal pelajaran sambil jalan, saya hampir saja menambrak ular yang sedang melingkar dan meliuk didepan saya.

Yang ada saya kaget dan menjerit-jerit sambil lari nga karuan. Si ular nya pun kaget dan langsung lari, tetapi sampai hari ini saya masih ingat itu ular bentuk dan warnanya sangat cantik dengan kulit berwarna kuning menyala. Saya jarang melihat ular dengan bentuk seperti itu, tapi karena sudah takut dan kaget duluan rasanya saya sudah tidak peduli lagi dengan sekitarnya. Ternyata ada teman saya yang sama bandelnya dengan saya berada dibelakang dan ketawa-ketawa girang lihat saya lari-lari nga jelas begitu.

Ada lagi cerita mengenai seorang bapak yang kerja di shift malam, si bapak kerja dari jam 7 malam hingga jam 5 pagi. Ketika selesai shift dan diantar pulang oleh mobil kantor ke rumah, Si Bapak menemukan tamu tak diundang sedang duduk malas-malasan di teras depan rumahnya. Tamu tersebut adalah harimau sumatera yang entah bagaimana asyik nongkrong diteras rumahnya. Langsung si Bapak ini menelphone istri yang masih tidur didalam rumah untuk tidak keluar dari rumah dan diwaktu yang sama langsung menghubungi pet control agar harimau tersebut ditangkap dan dikarantina ditempat habitatnya. hiksss seram.

Kalau cerita mengenai gajah ngamuk sudah sering kami dengar dan saya beberapa kali melihat secara langsung bagaimana gajah-gajah tersebut masuk ke komplek. Kadang saya suka kasihan lihat gajah-gajah ini sebenarnya kitalah yang merebut wilayah mereka sehingga mereka harus tersingkir dan mencari makanan ditempat-tempat yang lebih jauh dipelosok hutan.

Walaupun perusahaan sudah berusaha semaksimal mungkin menyediakan tempat penangkaran yang cocok untuk gajah-gajah dan binatang yang ada disini tapi tetap aja yang namanya binatang liar pasti pengennya hidup di alam bebas tanpa gangguan dan campur tangan dari manusia.

Hanya sayang makin kesini keberadaan hutan semakin berkurang berkat ulah jahil manusia, baik itu untuk membuka lahan perkebunan sawit ataupun memang kondisi cuaca yang saat ini memang kering sehingga menyebabkan suhu udara tinggi dan memicu kebakaran secara tidak disengaja. Sungguh benar-benar disayangkan, jika hutan yang ada di Indonesia yang waktu saya kecil disebut sebagai paru-paru dunia terancam. Dan nantinya kalau tidak dijaga dari sekarang bisa-bisa hutan kita gundul dan kering itu juga akan berimbas ke kita nya juga.

Tadinya saya mau cerita mengenai Taman Hutan Raya di Ir. Juanda Bandung yang ada saya malah keasyikan cerita tentang pengalaman masa kecil saya dengan hutan yang ada di Pekanbaru. Menurut saya hutan kota yang ada di Bandung bisa kita contoh. Selain untuk kelestarian alam dan lingkungan keberadaan hutan kota juga dapat menjadi tempat rekreasi warga setempat. Selain rapi dan tertata dengan baik taman hutan kota bandung juga sarat dengan unsur pendidikan dan pengenalan masyarakat terhadap jenis-jenis pohon dan kegunaannya bagi manusia dan binatang yang tinggal di hutan tersebut.

 

taman hutan raya ir juanda bandung 3

Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda merupakan kawasan konservasi yang terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman yang terletak di Kota Bandung, Indonesia. Luasnya mencapai 590 hektare membentang dari kawasan Dago Pakar sampai Maribaya.

Letak Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda berada di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, pada ketinggian antara 770 mdpl sampai 1330 mdpl. Di atas tanahnya yang subur terdapat sekitar 2500 jenis tanaman yang terdiri dari 40 familia dan 112 species. Pada tahun 1965 luas taman hutan raya baru sekitar 10 ha saja, namun saat ini sudah mencapai 590 ha membentang dari kawasan Pakar sampai Maribaya. Saat ini pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Kehutanan Pemda Provinsi Jawa Barat (sebelumnya berada di bawah naungan Perum Perhutani). Sumber Wikipedia.

Taman Kota ini dibuka setiap hari dari jam 08:00 – 18:00. Dengan tiket masuk Rp. 10.000/orang. Selain pemandangan hutan, kita juga dapat menikmati pemandangan air terjun dan goa-goa peninggalan Jepang dan Belanda yang ada di Taman Kota ini. Disini juga tersedia warung dan jalanan menuju hutan bagus dan tertata dengan baik. Kami berjalan santai dan mengelilingi Taman Hutan selama 3 jam tanpa terasa, karena udaranya sejuk dan kalaupun lelah kita bisa beristirahat dan duduk di kursi taman yang disediakan ditaman kota ini.

Weekly Photo Challenge; Careful

weekly photo challenge carefull 1

photo by Susan Juwono.

Dalam mengambil foto kadang-kadang saya suka takjub dengan perjuangan orang-orang yang ada disekitar saya. Mereka kayaknya sangat niat dan penuh kreativitas tinggi untuk mendapatkan hasil foto yang bagus. Dan untuk hal ini saya perlu ngacungin jempol buat mereka-mereka.

Pada saat lagi berusaha untuk turun dari bukit Padar menuju pantai dimana saya berjuang untuk melawan rasa malas menenteng badan sebesar ini untuk bisa turun, yang ada saya malah menemukan beberapa gerombolan orang dengan peralatan dan atribut yang mereka bawa dari kapal. Disiang yang terik mereka bela-belain menggunakan gaun yang saya tau pasti bahannya sangat lah panas untuk cuaca saat itu. Disela mereka sedang melakukan sesi pemotretan, teman se-trip saya pun iseng mengambil foto perempuan dengan gaun merah.

 

weekly photo challenge carefull 2

 

Begitu juga dengan teman saya Bowi, dari jakarta sudah niat bangat membawa atribut sayap dan sarung untuk dijadikan pemanis foto diatas bukit padar. Begitu juga beberapa orang yang saya lihat membawa gitar, ukulele, dan macam-macam alat musik sebagai pelengkap dengan diikuti gaya yang sesuai dengan peralatan yang mereka bawa.

Benar-benar niat, sedangkan saya mau difoto saja sudah males duluan. Rasanya badan lengket, muka berminyak dan gaya yang saya punya sangat monoton. Kadang kalau lihat hasil foto saya gayanya sama semua hanya background nya saja yang berbeda. Yang ada teman-teman yang kasihan pengen motoin saya, karena mereka bolak balik minta tolong difotoin tiba giliran saya nya difoto sayanya langsung nolak.

Nga pede lihat kamera dan dibandingkan dengan teman-teman yang lain mereka pada berani mengeluarkan ekspresi dan kayaknya nga ada habis-habisnya ide mereka untuk berpose didepan kamera. Kalau sudah dipaksa-paksa untuk foto, kadang kalau mood saya ladenin tapi kalau lagi males yang ada saya mundur perlahan, mendingan jadi tukang foto saja dech ketimbang jadi model.

 

weekly photo challenge carefull 3

Angel from heaven – photo by Nina Wong

 

weekly photo challenge carefull 4

Photo by Cahyo

Tetapi berbeda hal nya jika saya diminta untuk berfoto dengan pose yoga, pasti saya duluan dech maju. Secara foto-foto yang ada nantinya bisa saya jadikan portofoli dan bahan tulisan gerakan yoga di blog. Walaupun saya tidak terlalu banyak mengeksplore gaya-gaya lain karena untuk melakukan gaya-gaya rumit saya harus pemanasan terlebih dahulu sedangkan untuk foto pada saat trip kadang-kadang semua orang rebutan dan antri untuk berfoto di lokasi yang sama yang ada saya cukup berpose yang gampang dan cepat dalam pengambilan foto.

Hanya perlu diingat dan pertimbangkan lebih hati-hati untuk terlebih dahulu melihat situasi dan kondisi dimana kita mengambil foto. Jangan sampai hanya untuk narsis dan kepentingan social media yang ada nyawa jadi taruhan. Be careful yach teman-teman and be a wise traveler.

 

Pink Beach Komodo

pink beach komodo 1

Headstand di Pink Beach Komodo

 

Dari pulau Padar kami melanjutkan perjalanan ke Pink Beach Komodo. Jarak tempuh dari Pulau Padar ke Pink Beach sekitar 2 – 2,5 jam tergantung cuaca dan ombak. Melewati beberapa pulau-pulau kecil dengan pemandangan yang menakjubkan. Sehingga saya tidak terlalu merasa bosan dan jenuh berada di kapal selama lebih dari 2 jam.

Selain pemandangan yang indah, disuguhi makanan yang enak dan menghabiskan waktu yang panjang dengan ngobrol dan curhat diatas kapal adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. 2 kapal saling beriringan berjalan dan ditengah jalan peserta di kapal yang kecil pindah ke kapal yang besar untuk makan dan ngobrol-ngobrol. Makanan yang dihidangkan saat itu adalah udang saos padang, cumi goreng tepung, gulai ayam, mie goreng, ikan bakar dan capcay plus kerupuk dan semangka sebagai makanan pencuci mulut.

Benar-benar puas dan masakan dari crew kapal kami sangat enak dan seger-seger. Perut saya benar-benar berasa penuh tapi entah kenapa saya tidak terlalu merasa bersalah karena nanti nya pasti ada acara trekking dan snorkling lagi. Jadi dipastikan makanan tadi akan dipakai menjadi energi. Pembelaan diri.

Pink Beach Komodo sendiri adalah pulau yang tidak berpenduduk jadi ketika kita sampai di pantai ini jangan berharap ada warung atau kedai yang menyediakan makanan atau minuman. Berhubung kami sudah dibekali makan siang di kapal sehingga kami tidak mencari makanan lagi sesampainya di pantai pink. Pantai ini kalau secara kasat mata warna pink nya tidak terlalu kelihatan dikarenakan saat kami datang airnya sedang surut. Warna pink akan kelihatan menyala jika basah/kena air atau kondisi air nya pasang sehingga pasirnya terkena air baru dech butir-butir pink nya akan kelihatan.

Warna merah dari pasir ini berasal dari pecahan terumbu karang, koral atau organisme laut yang mati dan hancur dimana hidup diperairan Taman Nasional Komodo. Disepanjang pantai kami menemukan banyak terumbu karang berwarna pink bertebaran. Kondisi pantai nya sangat baik dan sepanjang mata memandang pasirnya halus dan bersih. Di Pantai ini kita dapat berenang, bersnorkling dan trekking dengan kondisi jalan lebih mudah sehingga kami cukup gampang dan cepat sampai di puncak bukit. Dari atas bukit kita dapat melihat pemandangan keseluruhan dari pantai pink.

Dan jika berada di Pantai ini mesti selalu waspada akan keberadaan komodo, karena menurut tour guide yang menemani kami kadang-kadang komodo juga datang, berkeliaran dan berjemur disekitar pulau. Tapi tidak usah kuatir karena disepanjang pulau apalagi pada saat ramai pengunjung banyak petugas dan orang-orang setempat yang bertugas untuk mengawal para turis atau pengunjung.

Setelah naik ke bukit bersantai-santai dan menikmati pemandangan sekitar kami turun ke pantai dan melakukan snorkling. Airnya bersih dan kondisi terumbu karangnya masih sangat baik. Setelah puas snorkling dan main air kami pun naik ke kapal untuk melanjutkan perjalanan menuju Gili Laba.

 

pink beach komodo 2

 

pink beach komodo 3

 

pink beach komodo 4

 

Pulau Padar – Taman Nasional Komodo

pulau padar taman nasional komodo panorama 1

 

Dari Pulau Kambing, pulau dimana kami menginap perlahan-lahan perahu mulai bergerak dari jam 5 pagi dan sampai di Pulau Padar sekitar jam 6:30 pagi. Saya sekamar dengan Nina yang mimpin trip di kamar yang tidak ber-AC. Seharusnya kamar saya bersama rombongan lain ada di kamar yang ada AC nya. Hanya karena suasana kamar nya terkungkup dan berada dibawah saya langsung berasa mabuk laut.

Biasanya kalau perjalanan yang menggunakan kapal dengan jarak tempuh 2-6 jam saya berusaha berada dibagian atas kapal baik itu deck yang terbuka, geladak ataupun atap kapal. Di kamar yang saya tempati selain bisa merasakan angin laut saya juga dapat mendengar aktivitas yang dilakukan oleh ABK dan crew kapal. Jadi ketika kapal bergerak di jam 5 saya sudah terbangun.

Karena tidak tau mau melakukan apa yang ada saya beberes barang dan bebenah diri dengan mencuci muka dan menyikat gigi. Selama 2 hari 2 malam tinggal di kapal dengan persediaan air tawar terbatas kami punya peraturan yaitu untuk selalu menghemat air. Jadi ada kesepakatan diantara kami untuk mandi hanya satu kali sehari, jadi bisa milih mau mandi di pagi atau sore hari.

Kalau ada pilihan seperti itu saya sich lebih milih mandi di sore hari. Karena sebelum tidur kalau tidak mandi rasanya lengket dan yang ada jadi tidak bisa tidur. Jadi aktivitas yang kami lakukan di pagi adalah mencuci muka dan sikat gigi saja, setelah itu melanjutkan aktivitas sepanjang hari apakah itu basah-basahan atau kena keringat habis trekking baru dech mandi, ganti baju, makan dan tidur.

 

pulau padar taman nasional komodo panorama 2

 

Jam 06:00 kami mulai sarapan dan sekitar jam 6:30 kapal berlabuh di Pulau Padar. Dari kapal sich kelihatan kalau bukit yang ada di Pulau Padar tidaklah terlalu tinggi. Karena jarak dari pantai ke bukit sangat dekat sehingga yang kelihatan hanyalah bukit yang paling depan. Tetapi ketika menaiki satu bukit yang ada ketemu bukit lainnya dan jarak satu bukit ke bukit yang lain sangat panjang yang ada saya pun mulai gempor.

Kebanyakan peserta adalah wanita dan untungnya stamina mereka cukup kuat. Sehingga beberapa dari mereka bisa menyelesaikan perjalanan sampai di puncak bukit tertinggi. Hanya sebagian besar tidak bisa melanjutkan perjalanan dan kembali ke perahu.

Saya merasa perjalanan yang kami tembuh sudah cukup jauh dan mulai iseng nanya ke pemandu trip apakah kami sudah berada setengah dari keseluruhan rute perjalanan. Si Bapak dengan santai menjawab “Kita baru masuk pos kedua dari 6 pos buuu” Kedubrakkkk. Rasanya saat itu badan langsung lemes. Dan dititik kedua ini jalanannya cukup curam dan menanjak.

Pijakan kami hanyalah tanah berpasir halus sehingga jika tidak hati-hati gampang tergelincir. Disini lah banyak peserta mengundurkan diri dan turun ke pantai. Kami harus selalu waspada melihat pijakan yang akan kami injak, mencari-cari batu sambil mencari teman yang dapat digandeng/diraih tangannya.

 

pulau padar taman nasional komodo 2

 

Di pos ketiga dan keempat banyak terdapat batu-batu besar dimana diposisi ini kita dapat melihat pemandangan lebih luas untuk mengambil foto. Tetapi spot yang paling luas dan tinggi ada di pos kelima. Saya dan beberapa teman lama disini. Selain kecapean kami sangat menikmati semilir angin dan pemandangan yang indah. Rasanya nga pengen naik ataupun turun, pengennya disini lebih lama.

Hanya teman yang lain sudah sampai di pos keenam dan mereka meneriakin kami untuk terus melangkah dan menyusul mereka. Sebenarnya sich kita yang ada di pos lima rada ogah naik tapi karena diiming-iming foto dengan pose cantik akhirnya kami pun naik. Kalau dari pemandangan sich kerenan pos 5 hanya rasanya nga sah saja sudah sampai ke pos 5 tapi tidak selesai di titik finish di pos 6.

Dari pos 3, 4 dan 5 kita bisa melihat pemandangan dengan 2 sisi pantai yang berbeda. Rasanya senang, bangga dan puas bisa menyelesaikan perjalanan sampai di Puncak bukit pulau padar. Lama perjalanan dengan kecepatan jalan kami yang cukup santai sekitar 2,5 jam naik dan 45 menit turun. Jadi bisa dilihat dong yach betapa lambat nya kami berjalan. Selain jalan santai kami sepertinya lama berpose dan mengambil foto.

Setiap jengkal pasti tidak lupa berfoto itupun disetiap spot mesti ngantri dulu mengambil fotonya, hehehehe..Terima kasih Tuhan atas kesempatan yang sangat berharga ini. Jika diberi kesempatan dan rezeki saya tidak menolak untuk datang kesini lagi.

 

pulau padar taman nasional komodo panorama 2

 

Loh Buaya – Pulau Rinca

loh buaya pulau rinca 1

 

Perjalanan dari Labuan Bajo menuju Pulau Rinca memakan waktu sekitar 2 jam. Tadinya mikir pasti sampai disana kesorean bangat. Dan benar kita terlalu sore sampai disana sehingga untuk berkeliling dan trekking tidak bisa terlalu lama dan sepertinya akan sangat berbahaya jika kami memaksakan diri untuk tetap berjalan di rute yang jauh.

Dikarenakan dipulau ini Komodo banyak sekali berkeliaran dengan bebas jadinya kami pun mengambil rute yang pendek saja. Dan memang disinilah para binatang purbakala tersebut hidup dan berkembang biak.

 

loh buaya pulau rinca 2

 

Taman Nasional Komodo terletak di antara provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Taman nasional ini terdiri atas tiga pulau besar Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar serta beberapa pulau kecil. Wilayah darat taman nasional ini 603 km² dan wilayah total adalah 1817 km².

Pada tahun 1980 taman nasional ini didirikan untuk melindungi komodo dan habitatnya. Di sana terdapat 277 spesies hewan yang merupakan perpaduan hewan yang berasal dari Asia dan Australia, yang terdiri dari 32 spesies mamalia, 128 spesies burung, dan 37 spesies reptilia. Bersama dengan komodo, setidaknya 25 spesies hewan darat dan burung termasuk hewan yang dilindungi, karena jumlahnya yang terbatas atau terbatasnya penyebaran mereka.

Selain itu, di kawasan ini terdapat pula terumbu karang. Setidaknya terdapat 253 spesies karang pembentuk terumbu yang ditemukan di sana, dengan sekitar 1.000 spesies ikan. Keindahan terumbu ini menarik minat wisatawan asing untuk berenang atau menyelam di perairan ini.

Pulau-pulau ini aslinya adalah pulau vulkanis. Jumlah penduduk di wilayah ini kurang lebih adalah 4.000 jiwa. Pada tahun 1991 taman nasional ini diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Sumber Wikipedia

 

loh buaya pulau rinca 3

 

Sesampainya kami di Pulau Rinca kami langsung disambut oleh ranger yang memang bertugas mengawal dan memberi penjelasan kepada turis yang datang kesana. Karena rombongan kami pesertanya cukup banyak sehingga kami dikawal oleh 4 orang ranger. Yang masing-masing membawa tongkat dan memberi instruksi apa yang harus kami lakukan selama dipulau tersebut.

Karena beberapa komodo ada yang sedang bermalas-malasan dibawah pos penjagaan dan beberapa berkeliaran disekitar kami yang ada ranger-ranger tersebut selalu sigap dan wapada memberitahu kepada kami jika ada komodo yang datang. Kami diminta untuk tetap berada didalam rombongan dan selalu dalam formasi berdiri sejajar tidak boleh menumpuk disatu titik. Sehingga jika ada komodo yang tiba-tiba melakukan gerakan kami bisa dengan cepat berlari tanpa terhalang oleh peserta yang lain.

 

loh buaya pulau rinca 10

 

Pemimpin dari ranger sedang memberi penjelasan dan pengarahan apa-apa saja yang harus kami lakukan selama berada di Pulau Rinca. Dan untungnya para ranger yang ada disini sangat informatif dan tegas memberitahu kepada kami peraturan yang harus dipatuhi oleh setiap pengunjung yang datang ke Pulau ini.

Karena saat ini musim kemarau sehingga bagi yang merokok benar-benar tidak diperbolehkan untuk menyalakan rokok diarea ini. Peraturan lain seperti tidak boleh mengambil tulang sisa makanan komodo dan menebang pohon. Jikalau kita bertemu/berpapasan dengan komodo disarankan untuk tidak panik dan perlahan-lahan menjauh dari komodo tersebut.

Populasi komodo saat ini kalau menurut ranger ada sekitar 2.000 ekor jumlah itu hanya di Pulau Rinca saja. Jumlah yang hampir sama ada dan tersebar di tiga pulau besar yang ada di Taman nasional pulau komodo. Pada dasarnya komodo tidak menyerang manusia, binatang ini akan melakukan perlawanan jika berada disituasi yang terdesak. Dan sepanjang penuturan dari pihak ranger tidak pernah ada komodo yang memakan manusia.

Karena makanan berupa rusa, kerbau, monyet dll masih tersedia dengan cukup di pulau-pulau ini. Hanya tetap saja lihat komodo secara langsung rada serem. Apalagi kalau terkena air liurnya dikarenakan air liur nya mengandung racun. Dan jika mangsanya terpapar air liur dengan waktu yang singkat binatang yang menjadi korban akan terkelepar dan lambat laun mati.

Pengunjung wanita yang sedang haid sebaiknya tidak boleh turun dari kapal dan menginjak pulau yang ada komodonya. Karena penciuman komodo sangat sensitif terhadap darah. Tapi kemaren salah satu peserta ada yang sedang haid tapi ngotot untuk turun dari kapal yang ada mau tidak mau 2 ranger yang khusus mengawal dia.

 

loh buaya pulau rinca 4

 

Dari pengalaman kami kemaren ada baiknya kalau berkunjung ke pulau ini dipagi hari ataupun siang hari sehingga punya kesempatan yang lama dan puas untuk menjelajahi pulau. Jumlah ranger yang ada di pulau rinca saat ini ada sekitar 25 orang. Masing-masing adalah penduduk asli yang ada disekitar pulau komodo.

Jarak dari pulau rinca dengan perkampungan penduduk yang ada di pulau komodo cukup jauh. Sehingga di Pulau Rinca ini disediakan rumah penginapan untuk para ranger. Pada umumnya rumah yang ada di pulau ini adalah rumah panggung sehingga komodo tidak dapat leluasa mengganggu manusia (punya jarak dan batas dengan penduduk pulau).

Pada saat kami datang ada lebih dari 6 ekor komodo yang sedang beristirahat dibawah rumah panggung. Dan tidak berapa lama kemudian ada seekor komodo yang entah darimana datang menghampiri rombongan komodo yang tadinya bergerombol dibawah rumah panggung. Entah sedang memperebutkan wilayah kekuasaan tidak berapa lama dari kehadiran komodo tadi langsung terjadi perkelahian dan pertarungan antar sesama komodo. Aduh seram sudah kayak nonton pertandingan gulat aja dech. Langsung kami diperintahkan untuk membuat barisan dan perlahan-lahan menjauh dari wilayah tersebut.

 

loh buaya pulau rinca 5

Akhirnya kami dibawa ke tempat dimana terdapat sarang komodo. Dimana saat ini adalah masa dimana telur-telur komodo dalam masa pengeraman. Musim kawin berlangsung di bulan Juli – Agustus. Kemudian setelah habis musim kawin komodo betina menggali lubang di tanah dan bertelur. Seekor komodo betina dapat menghasilkan 15-30 telur dengan masa pengeraman selama 8-9 bulan. Dimasa ini komodo betina dapat meninggalkan sarang dan menggali lubang lain untuk mengelabui pemangsa yang akan mengincar telur-telur yang ada.

Komodo-komoda yang saya temukan kisaran panjang nya sekitar 3 meter dengan berat paling kecil sekitar 70 kg. Komodo berenang dengan kecepatan 20 km/jam dengan kedalaman 4,5 m, dan juga dapat memanjat pohon. Saya pernah menonton liputan NatGeo mengenai komodo, dimana beberapa komodo dikarantina di pulau yang tidak ada penduduknya. Tetapi beberapa saat kemudian komodo yang sama tersebut balik lagi ke pulau asalnya. Hiksss menyeramkan. Nga kebayang lagi asyik-asyiknya berenang tau-tau ada komodo berseliweran.

 

loh buaya pulau rinca 6

 

loh buaya pulau rinca 7

 

loh buaya pulau rinca 8

 

loh buaya pulau rinca 9

 

Haripun telah mulai malam, kami diminta untuk segera meninggalkan pulau dan melanjutkan perjalanan menuju pulau kambing dimana didekat pulau tersebut kapal berlabuh dan beristirahat untuk besoknya melanjutkan perjalanan disekitar pulau terdekat dari Pulau Kambing.

 

 

Pelabuhan Labuan Bajo Flores

pelabuhan labuan bajo flores 1

 

Saya dan rombongan trip berangkat dari Jakarta hari Rabu Tanggal 14 Oktober 2015. Dengan menggunakan pesawat Lion Air dengan penerbangan Lion Air JT-32. Berangkat dari Jakarta jam 07:20 dan sampai di Bali jam 10:10 Waktu Indonesia Tengah. Transit di Bandara Udara Bali kami melanjutkan perjalanan dengan pesawat Wings Air IW-1830. Berangkat dari Bali jam 11:55 dan tiba di Bandara Udara Labuan Bajo jam 13:25 dengan lama perjalanan 1 jam 15 menit.

Pengalaman pertama menaiki pesawat jenis ATR, sempat deg-degan karena pesawat dengan kapasita 72-78 orang ini ukurannya lumayan kecil dengan baling-balingnya membuat pesawat ini riskan terhadap guncangan setiap kali berbenturan dengan awan dan angin.

Dari penumpang yang saya lihat 1/3 bagian merupakan wisatawa dalam negeri dan selebihnya adalah turis luar negeri dan kisaran umur antara 20 – 30 tahun, beberapa ada juga sich yang berumur diatas 40 tahun. Tapi dari pemandangan tersebut saya sangat senang kalau Taman Nasional Komodo merupakan destinasi yang sangat disukai oleh turis mancanegara.

Dan ada perasaan iri juga sich melihat mereka yang berasal dari negara lain selagi muda sudah memulai melakukan perjalanan jauh sedangkan saya orang Indonesia sendiri baru seumuran begini bisa datang dan berkunjung ke Pulau Komodo. Untungnya selama diperjalan udara berjalan dengan lancar, walaupun sesekali merasakan guncangan. Yang lebih berasa yaitu ketika hendak turun dimana saat itu cuaca agak berawan.

Karena saat ini cuaca disana sudah mulai memasuki musim penghujan tetapi sisa-sisa musim kemarau masih ada karena hujan turun hanya sebentar saja. Sehingga sepanjang pemandangan saya melihat warna bukit-bukit nya berwarna kuning kecoklatan karena kering. Sedangkan dibenak saya sudah terbayang hamparan bukit berwarna hijau terang. Turun dari pesawat dan memasuki area bandara, masih terdapat bekas-bekas pekerjaan konstruksi disekitar bandara.

Dan menurut orang-orang setempat area sekitar bandara Labuan Bajo sudah 2 tahun ini sedang berbenah-benah mempercantik dan melengkapi fasilitas yang ada. Walaupun area bandara tidak besar tetapi suasananya sepi dan bersih. Tidak terdapat banyak pengunjung dan penjual/tenant yang ada disekitar bandara.

Setelah menyelesaikan urusan bagasi kami pun sudah ditunggu untuk penjemputan yang akan mengantar kami ke pelabuhan Labuan Bajo. Jarak bandara ke pelabuhan tidak terlalu jauh hanya menempuh perjalanan sekitar 10 – 15 menit dengan menggunakan mobil. Menginjakan kaki di pelabuhan saja sudah membuat saya jatuh cinta akan tanah Flores.

 

pelabuhan labuan bajo flores 2

 

Saya agak lama terdiam dan berusaha menyadarkan diri kalau saya sudah berada di Flores. Dari atas bukit saya mengambil foto panorama pemandangan sekitar pelabuhan. Dimana para pengunjung dan penyedia jasa kapal saling berinteraksi menawarkan kapal mereka untuk menjadi tempat para turis untuk menyeberangi pulau dan mengekplore lebih jauh Taman Nasional Pulau Komodo. Beberapa kesempatan saya mengambil foto kapal-kapal yang berlabuh disekitar pelabuhan dan mencari kapal mana yang nantinya akan kami pakai.

 

pelabuhan labuan bajo flores 3

Kapal yang kami tumpangi.

Karena peserta trip terdiri dari 18 orang jadi kami dibagi menjadi 2 kapal. Satu kapal yang kecil terdiri 5 orang dan satu kapalnya lagi menampung 13 orang. Selama 2 malam kami tidur dan menginap diatas kapal. Dimana kedua kapal beriring-iringan mengarungi lautan dan singgah ke pantai atau pulau yang menjadi tempat tujuan wisata kami. Kalau waktu nya makan kapal berhenti dan kami pun berkumpul di kapal yang besar menikmati hidangan makanan yang disediakan oleh crew kapal.

Karena ikan nya segar-segar sehingga semua makanannya yang tersedia rasanya nikmat sekali. Dan waktu 2 malam di kapal membuat kami menjadi sangat dekat dan kompak. Kebersamaan tersebut membuat kami mengenal satu sama lain lebih dekat dalam waktu singkat. Pada saat mengakhiri trip itu rasanya kayak perpisahan bangat dech. Satu sama yang lain nga rela kalau trip tersebut berakhir. Hehehehe.. Tapi kami percaya kalau dilain waktu dan kesempatan akan bertemu kembali.

Dibawah ini beberapa foto yang menggambarkan situasi Pelabuhan Labuan Bajo Flores.

 

pelabuhan labuan bajo flores 8

pelabuhan labuan bajo flores 7

pelabuhan labuan bajo flores 6

pelabuhan labuan bajo flores 5

pelabuhan labuan bajo flores 4

Pemandangan Bawah Laut Pulau Komodo

Beberapa hari sebelum berangkat Trip ke Pulau Komodo saya benar-benar berniat untuk membeli kamera underwater supaya setiba disana saya bisa mendokumentasikan keindahan bawah laut yang ada. Dan ternyata saya tidak menyesal pernah ada disana dan menikmati secuil dari apa yang saya lihat. Berikut ini beberapa foto pemandangan bawah laut pulau komodo yang berhasil saya rekam.

pemandangan bawah laut pulau komodo 6

pemandangan bawah laut pulau komodo 1

pemandangan bawah laut pulau komodo 2

pemandangan bawah laut pulau komodo 3

pemandangan bawah laut pulau komodo 4

pemandangan bawah laut pulau komodo 5