Naik Kelas

 

naik kelas

Naik Kelas – Level Up

Kehidupan itu ibarat sekolah, setiap hari ada saja pelajaran yang mesti kita pelajari. Diawal musim kehidupan kita dibekali dengan norma-norma, etika atau nilai-nilai yang nanti nya akan kita gunakan sebagai bekal atau modal nantinya disaat kita menghadapi sebuah ujian.

Dan itu nantinya menentukan seperti apa kita nantinya mengambil keputusan dan bagaimana menyikapi suatu masalah. Beberapa hari ini saya mulai merenungkan di-area mana saya selalu mengalami kegagalan dan sering sekali harus bolak balik tinggal kelas dan keteteran dalam ujian yang sama. Yang ada saya harus menghabiskan banyak waktu dan tenaga karena gagal dan gagal lagi dalam hal yang sama.

1. Memaafkan dan Mengampuni

Saya bukan tipe orang yang gampang dekat dengan orang lain, tetapi ketika dekat sering sekali terjadi konflik. Sekali dua kali saya masih bisa memahami tapi kalau habit orang tersebut buat saya kesal, hal tersebut bisa membuat saya gondok dan nga mau temenan lagi sama orang tersebut.

Kadang kalau sudah kelewat gondok, mau nga mau saya tetap ketemu dengan ini orang dan rasanya setiap kali bertemu muka sudah malas duluan. Dan kalaupun diajak ngobrol sama orang tersebut pasti jawabannya datar-datar dan ogah-ogahan. Wkwkwk yang ini penyakit saya bangat dari tahun ke tahun.

2. Memberi sedekah/zakat/perpuluhan

Seperti yang kita pelajari disemua agama apapun, kalau berapa persen dari penghasilan yang kita terima adalah milik orang lain dan harus dikembalikan ke pihak-pihak yang mana kita terbeban untuk memberi. Hanya sering sekali setiap kali terima gaji saya secara otomatis membagi-bagi di pos nya masing-masing.

Tapi entah kenapa untuk pos perpuluhan/sedekah/zakat saya seakan-akan pura-pura lupa/amnesia dan mencoba berutang dengan diri saya sendiri dan memberi “excuse” dengan berbagai macam alasan. Tapi untuk item ini di tahun ini saya sudah janji dengan diri saya untuk setia memberi perpuluhan/zakat/sedekah. Setidaknya satu item saja dalam hidup saya di tahun ini saya berusaha untuk naik kelas.

3. Jatuh cinta dengan orang yang salah

Yang ini sebenarnya saya agak malas membahasnya. Hanya saja diusia yang setua ini saya masih terus jatuh bangun dalam hal cinta. Wkwkwk.. yang jadi persoalan adalah saya masih bertahan di status melajang daripada serius menjalankan hubungan dengan orang yang sama.

Disatu pihak saya tidak pernah lulus dalam test yang satu ini sehingga bisa dibilang setiap tahun saya harus mengalami ujian yang sama berkali-kali. Tapi bukannya kapok saya malah menikmati dan senang berada di area yang sama selama bertahun-tahun. Maaf yach untuk yang ini jangan ditiru. Pengen sich naik kelas tapi koq yach enak, wkwkwk..

4. Kesehatan

Untuk area ini saya sudah bisa dibilang naik kelas hanya untuk kedepannya saya harus terus fokus dalam mempertahankan dan memelihara kebiasaan baik sehingga menjadi kebiasaan.

5. Hubungan dengan pencipta semakin jauh

Saya sadar sesadarnya bahwa Pemilik Kehidupan ini selalu rindu bertatap muka dan bercengkrama dengan hasil ciptaanNya. Hanya saja sering kali ada perasaan tidak berdaya, tidak layak dan tidak pantas untuk mendapatkan kemurahan, kebaikan dan belas kasihan dari Yang Maha Kuasa.

Sampai hari ini saya masih bergelut dan hati nurani saya mengatakan ada sesuatu yang salah dengan diri saya sehingga saya kesulitan untuk dekat denganNya. Untuk area ini saya masuk di kategori kelas paling bawah. Nga pernah lulus dan harus selalu mengulang.

Harapan nya sich diakhir tahun saya bisa menutup tahun dengan pencapaian-pencapaian yang baik dan naik kelas. Setidaknya belajar dan mengkoreksi area-area tersebut dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Author: Adelina

I Love Yoga, Photograph and Travelling around the world (someday)

14 thoughts on “Naik Kelas”

    1. Terima kasih ryan. emang benar yach, belajar nya nga pernah selesai2. sepanjang hidup banyak hal yang mesti dipelajari. kenaikan kelas tergantung subjek mana yg bisa kita kuasai dan mana yang gagal mulu hiksss.

  1. Nyes banget dengan yang nomor 1. Cuma saya biasanya jadi pelaku, bukan korban, jadi sayalah yang biasanya punya tingkah yang membuat orang gondok, sampai akhirnya ogah temenan dan membiarkan kita jadi orang yang seolah-olah tidak kenal, bahkan ketika saya sudah minta maaf :haha.
    Kita memang perlu mengampuni diri sendiri, kalau begitu :)). Paling tidak saya belajar untuk jadi insan yang lebih baik, bahkan ketika pengorbanan untuk ke arah sana sangat besar :)).

    1. nga korban, nga pelaku sama2 rugi sich menurut ku. wkwkwk.. dan benar yang namanya mengampuni itu perlu bangat. baik mengampuni diri sendiri maupun orang lain. yach misalnya orang nya emang begitu mau diapain masak kayak gue kerjanya gondok nga jelas terus. hehehehe

Leave a Reply