Mempersiapkan Masa Pensiun

Tahun 2014 adalah tahun dimana perusahaan tempat saya bekerja mengalami merger dan akuisisi. Pada saat itulah saya mulai tersentak dan diingatkan akan pentingnya mempersiapkan masa pensiun. Di tahun yang sama banyak perubahan yang terjadi dikantor, suasana bekerja berubah dan dengan waktu yang singkat, banyak orang datang dan pergi silih berganti.

Masuk dalam pengalaman-pengalaman baru mulai dari proses audit, RUPS, pemutusan hubungan kerja, perhitungan pesangon, perekrutan, pendataan dan pemindahan aset. Alhasil akhir tahun kemaren, kami sudah mulai mengurus barang-barang pribadi yang ada dikantor untuk dibawa pulang ke rumah masig-masing dan membereskan urusan administrasi di kantor.

Dari total keseluruhan karyawan yang ada, 30% sudah dipastikan statusnya diputus, 30% menunggu penempatan dan sisanya dilanjutkan di proyek yang sekarang ini. Sehingga tahun 2015 bagi sebagian besar kami yang masih mengantor benar-benar masuk dalam suasana yang baru sama sekali.

Karena perusahaan tempat saya bekerja skalanya kecil, staff nya juga tidak banyak, kami sudah bersama-sama lebih dari 5 tahun. Kebersamaan diantara kami sudah seperti keluarga sendiri. Sehingga dengan kondisi ini rasanya seperti kehilangan anggota keluarga.

Secara khusus saya tidak pernah merasakan hubungan personal sekuat yang ada dikantor ini bila dibandingkan dengan ditempat lain/dikantor lain. Disini kami bisa tahu kesusahan dan kegembiraan masing-masing personil karyawan secara pribadi tanpa ada perasaan malu, sungkan dan gengsi.

mempersiapkan masa pensiun

 

Dengan kondisi tersebutΒ saya berusaha menata hati (ceilehhh..) mempersiapkan diri sebiasa dan senormal mungkin menjalani hari demi hari. Dan satu hal pemandangan lucu yang saya lihat pasca re-sturkturisasi perusahaan adalah, ada beberapa karyawan yang masih tetap datang ke kantor walaupun beliau sudah di PHK.

Diminggu-minggu pertama memang mereka tetap masuk kantor untuk mengurus jamsostek, uang pertanggungan yang masih tertinggal di kantor dan urusan administrasi seperti surat rekomendasi dan serah terima data-data. Tapi masuk keminggu pertengahan dan akhir bulan ternyata ada satu orang karyawan yang masih sering datang ke kantor.

Dan setelah diajak ngobrol ternyata bapak ini secara mental dan psikologi belum siap memasuki masaΒ pensiun/phk. Satu pihak saya cukup iba dengan si bapak tapi dipihak yang lain ada kejanggalan yang saya rasakan.

Saya mencoba memahami dan berusaha berada diposisi si bapak. Dan akhir-akhir ini topik pensiun menjadi pergumulan dan perenungan buat saya. Siapkah saya menerima PHK, pensiun dini ataupun menjalankan masa-masa pensiun nantinya kelak.

Kalau dihitung secara umur, dibeberapa artikel yang saya baca peraturan pemerintah menetapkan angka pensiun di umur 55 – 58. Jika dilihat dari umur berarti saya punya waktu 20 – 25 tahun untuk mempersiapkan diri dan mental untuk pensiun (dengan asumsi jika saya benar-benar berniat menghabiskan hidup saya menjadi karyawan dan bukan berwiraswasta). Apakah yang harus saya lakukan?

Pemikiran ini sebenarnya sudah lama ada dibenak saya. Hanya dalam banyak kesempatan saya justru meng-ignore pikiran ini dan bukannya mikirin matang-matang dan menjadi perenungan yang dalam. Dan dalam banyak kesempatan beberapa kali saya menjerumuskan diri kedalam arus wiraswasta tapi yang namanya logika lebih besar daripada hasrat hati, hal tersebut berulang-ulang batal dan saya kembali ke meja kantoran.

Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah saya tidak siap beradu argumentasi dengan orangtua saya yang sudah berkali-kali sempat saya singgung mengenai topik ini. Dan dengan keras mereka menolaknya, hiksss hikss.. Dan sekarang dengan melihat realita yang ada topik ini menjadi tanda tanya yang besar buat saya. Siapkah saya mengambil keputusan?

Walaupun mempersiapkan masa pensiun dengan cara berwiraswasta dalam waktu dekat belum menjadi keputusan saya saat ini. Tapi saya tau persis panggilan itu akan datang. Bukan karena saya pesimis dengan bidang yang sekarang saya geluti. Tapi passion saya untuk mempersiapkan masa pensiun dengan berwiraswasta sangatlah besar.

Saya sangat jealous dengan anak-anak muda saat ini yang dengan berani mengambil jalur wiraswasta sebagai pilihan hidup mereka. Dimana sedari muda mereka sudah mulai memikirkan bagaimana cara mempersiapkan masa pensiun dengan masuk kejalur usaha sendiri.

Dan saya pun mulai membina mental saya kalau saya akan berada dijalur tersebut. Saya sudah punya gambaran apa-apa saja yang harus saya lakukan untuk mencapai passion tersebut dan berapa modal yang saya perlukan.

Oleh karena itu dari sekarang saya sudah harus memupuk harapan, cita-cita dan modal untuk sampai ketahap tersebut. Mungkin dilain kesempatan saya akan buat rincian apa saja yang akan saya lakukan sebagai reminder dan tolak ukur untuk masa yang akan datang. Sudahkah saya berjalan di-track yang saya cita-citakan, mempersiapkan masa pensiun mulai dari sekarang?

 

Author: Adelina

I Love Yoga, Photograph and Travelling around the world (someday)

33 thoughts on “Mempersiapkan Masa Pensiun”

  1. Saya juga kadang jealous liat anak muda jaman sekarang sudah berani berwiraswasta. Tapi belum ada yang terlambat mba. Panggilan itu akan indah pada waktunya πŸ™‚
    Semangat mba πŸ™‚

    1. jadi malu, wkwkwk habis ini ditabok. pengennya sich usaha dibidang pertanian. aku suka bercocok tanam (organik) dan kearah hidup sehat gitu mas ryan. sama satu lagi yg pasti jadi guru yoga punya studio yoga disuatu hari nanti.. aminnn. Kalau mas apa?

      1. Wahh. Hebat tuh mba. Sekarang agroponik lagi booming. Palagi yang ke arah sehat. Tambah kata organik langsung tambah harga jauh. Hahaha

        Pengen coffeeshop.

          1. Oo gitu yach. Tp kl pny image dan ciri khas sendiri pasti lbh dilirik mas. Baru ngeh sekarang knp mas ryan nulis mengenai brand image pasti ada hubungan dgn usaha yg mau dirintis yach. Hehehe

          2. brand image? Yang seri keuangankah maksudmu?
            hahahahaha. gak juga sih. cuma minggu lalu iseng bongkar post blog. Seri Keuanganku cuma 1. hahaha

          3. Tapi entah napa, beberapa blog yang saya baca hari ini memang membahas soal branding, niche blog dan sebagainya. Terus Mba nyebut ini juga. Apakah ini tanda?

          4. Tanda bahwa saat ini branding benar2 menjadi perhatian banyak orang. Kegelisahan byk orang untuk lepas dr jerat pegawai sejati. Bahwa peluang wiraswasta akhir2 ini jadi pertimbangan byk orang. Atau…. Wkwkwk maaf sotoy.

  2. Usia pensiun di Indonesia lumayan muda loh. Di sini usia 67 tahun baru bisa pensiun – dalam artian mendapatkan uang pensiun dari negara dan perusahaan/organisasi tempat bekerja. Memang mesti dipersiapkan dari kita muda kalau mau pensiun itu. Saya banyak ketemu dengan org Belanda yang masa tuanya mereka malah berlibur ke negara berkembang seperti Indonesia (Filipina biasanya lebih menarik buat mereka karena imigrasi gak seribet di Indonesia). Pas masa muda mereka bener-bener simpan uang untuk hidup nyaman di masa tua…
    semoga sukses menyiapkan rencana pensiun πŸ™‚

    1. Untuk beberapa perusahaan ada yg usia 60 tahun sich indah tp jarang sich.

      Disana uang jaminan hari tua nya bagus sehingga mereka bisa libur atau benar2 makai uang tabungan mereka sendiri?

      Benar bangat indah memang hrsnya dr muda sudah ngeh mempersuipkan masa pensiun. Knp nga dr dulu yach? Wkwkwkwk…

      1. Di Belanda ada uang pensiun dari negara, jadi negara sudah nyiapin buat warga negara-nya sejak mereka usia 15 tahunan. Makanya pajak di sini tinggi tapi akhirnya balik lagi ke rakyat gitu. Biasanya gak banyak kalau uang pensiunan dari negara. Tapi kalau kerja di perusahaan, bisa dapat lagi pensiun dari tempat kerja. Nah, ini mesti didiskusiin sama employer, soalnya setahu saya ada beberapa yg gak dpt pensiun dari employer-nya tapi ada yg dapat..

    1. Halo johan. Salam kenal yach. Asyikk ketemu saudara dan keluarga di blog. Aku nga pny group sesama marga tampubolon nich. Seru juga kalau ada group yach.

      Hehehe terima kasih. Boleh dong share blog mu. Biar kita saling mengunjungi hehehe…

Leave a Reply