Pianemo, surga tersembunyi di Raja Ampat (Trip Day-2)

Kabupaten Raja Ampat adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua Barat, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Waisai. Kabupaten ini memiliki 610 pulau. Empat di antaranya, yakni Pulau Misool, Salawati, Batanta dan Waigeo, merupakan pulau-pulau besar. Dari seluruh pulau hanya 35 pulau yang berpenghuni sedangkan pulau lainnya tidak berpenghuni dan sebagian besar belum memiliki nama. Wikipedia

Sebagai daerah kepulauan, satu-satunya transportasi antar pulau dan penunjang kegiatan masyarakat Raja Ampat adalah angkutan laut. Demikian juga untuk menjangkau Waisai, ibu kota kabupaten.

Bila menggunakan pesawat udara, lebih dulu menuju Kota Sorong. Setelah itu, dari Sorong perjalanan ke Waisai dilanjutkan dengan transportasi laut. Sarana yang tersedia adalah kapal cepat berkapasitas 10, 15 atau 30 orang. Waisai dapat dijangkau dalam waktu 1,5 hingga 2 jam.

Berdasarkan sejarah, di Kepulauan Raja Ampat terdapat empat kerajaan tradisional, masing-masing adalah kerajaan Waigeo, dengan pusat kekuasaannya di Wewayai, pulau Waigeo; kerajaan Salawati, dengan pusat kekuasaan di Samate, pulau Salawati Utara; kerajaan Sailolof dengan pusat kekuasaan di Sailolof, pulau Salawati Selatan, dan kerajaan Misol, dengan pusat kekuasaan di Lilinta, pulau Misol. Wikipedia

Kisah Legenda Empat Raja

Terdapat beberapa versi cerita mengenai asal-usul penamaan Raja Ampat yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi di dalam kehidupan masyarakat asli kepulauan Raja Ampat. Salah satu versi dari cerita ini adalah sebagai berikut:

Pada suatu saat di Teluk Kabui Kampung Wawiyai ada sepasang suami istri pergi ke hutan (sebagai perambah hutan) untuk mencari makanan, ketika mereka tiba di tepi Sungai Waikeo(Wai artinya air, kew artinya teluk) mereka menemukan enam butir telur naga.

Telur-telur tersebut disimpan dalam noken (kantong) dan dibawa pulang, sesampainya di rumah telur-telur tersebut disimpan dalam kamar. Ketika malam hari mereka mendengar suara bisik-bisik, betapa kagetnya mereka ketika mereka melihat di dalam kamar ternyata ke-lima butir telur telah menetas berwujud empat anak laki-laki dan satu anak perempuan, semuanya berpakaian halus yang menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan raja.

Sampai saat ini belum jelas siapa yang memberikan nama kepada anak-anak tersebut tapi kemudian diketahui bahwa masing-masing anak bernama :
1. War menjadi Raja di Waigeo.
2. Betani menjadi Raja di Salawati.
3. Dohar menjadi Raja di Lilinta (Misool)
4. Mohamad menjadi Raja di Waigama (Batanta)

Sedangkan anak yang perempuan (bernama Pintolee), pada suatu ketika anak perempuan tersebut diketahui sedang hamil dan oleh kakak-kakaknya Pintolee diletakkan dalam kulit bia(kerang) besar kemudian dihanyutkan hingga terdampar di Pulau Numfor.

Satu telur lagi tidak menetas dan menjadi batu yang diberi nama Kapatnai dan diperlakukan sebagai raja bahkan di beri ruangan tempat bersemayam lengkap dengan dua batu yang berfungsi sebagai pengawal di kanan-kiri pintu masuk bahkan setiap tahunnya dimandikan dan air mandinya disiramkan kepada masyarakat sebagai babtisan untuk Suku Kawe. Tidak setiap saat batu tersebut bisa dilihat kecuali satu tahun sekali yaitu saat dimandikan.

Oleh karena masyarakat sangat menghormati keberadaan telur tersebut maka dibangunlah sebuah rumah ditepi Sungai Waikeo sebagai tempat tinggalnya dan hingga kini masih menjadi objek pemujaan masyarakat. (Wikipedia)

pianemo perjalanan raja ampat hari kedua 7

Kapal menyandar di Bukit Pianemo, selanjutnya kita beriringan menaiki bukit.

pianemo raja ampat 1

Di Raja Ampat sendiri terdapat ribuan gugusan bukit karst yang sangat cantik. Dengan air yang jernih dan bersih, sehingga kita dapat dengan jelas melihat terumbu karang yang ada hanya dari atas kapal.

Icon Raja Ampat sendiri adalah Wayag, untuk menuju ke wayag dibutuhkan waktu 3 jam dari Waisai. Hanya pada saat kami berkunjung ke Wayag lokasi tersebut sedang ditutup dan dipalang oleh masyarakat setempat. Dikarenakan adanya konflik antara warga setempat dan Pemerintah. Dan kamipun dibawa ke Pianemo, gugusan bukit karst yang tidak kalah cantik dengan wayag. Jarak tempuh dari Waisai ke Pianemo kurang dari 2 jam.

pianemo raja ampat 3

Sungguh pemandangan yang sangat indah. Terbayar sudah perjuangan menuju kesini.

Untuk naik ke Pianemo kita mesti menanjak bukit dengan kemiringan 80 derajat. Dimana jika tidak hati-hati maka akan terpeleset dan sudah pasti mendapatkan lecet-lecet. Ada baiknya kita mempersiapkan diri dengan kondisi fisik yang baik, menggunakan sendal gunung ataupun sepatu dan jangan lupa sarung tangan. Persiapan fisik dan kelengkapan yang baik akan sangat membantu memperlancar perjalanan kita ke bukit Pianemo.

Dan sebaiknya datanglah di pagi hari, sehingga tidak terjadi penumpukan wisatawan. Karena lokasi diatas puncak bukit sangat terbatas yang ada kita harus mengantri untuk naik, dikarenakan pengunjung yang lain sudah menanti dibawah. Sehingga waktu untuk bernarsis ria dan mengambil foto pemandangan akan sangat terbatas.

Waktu yang dibutuhkan untuk naik, mengantri dan turun serta menunggu peserta trip yang lain mengumpul diperkirakan sekitar 3-4 jam. Setelah semua peserta sudah lengkap berada di kapal kami pun menuju desa Arborek untuk makan siang. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang dan perutpun keroncongan karena lapar.

Perjalanan selanjutnya: Desa Arborek, Raja Ampat Dive Lodge, waiwo dan saonekmonde akan saya lanjutkan di halaman berikutnya.

pianemo raja ampat 2

Author: Adelina

I Love Yoga, Photograph and Travelling around the world (someday)

18 thoughts on “Pianemo, surga tersembunyi di Raja Ampat (Trip Day-2)”

Leave a Reply