Optatissimus

Producer: Heru Winanto
Executive Producer : Dicky Rampengan
Sutradara: Dirmawan Hatta
Pemeran: Rio Dewanto, Nadhira Suryadi, Landung Simatupang

optatissimus 1

Akan ditayangkan serentak pada tanggal 23 Mei 2013 di Bioskop.

optatissimus 2

Rio Dewanto dan Nadhira Suryadi

optatissimus 3

Produser: Heru Winanto

optatissimus 4

Pers Conference

Tanggal 21 Mei 2013 tepatnya jam 21:00 di XXI Planet Hollywood Jakarta saya menghadiri Gala Premiere film “Optatissimus”. Crew film dan semua yang terlibat dalam film tersebut menghadiri pagelaran acara. Dimulai dengan pers conference dan kemudian acara inti yaitu nonton bersama.

Film ini bercerita mengenai seseorang pemuda bernama Andreas yang berusaha memaknai hidupnya dengan mengurai kembali semua petanda yang telah dia alami. Akhirnya dia menemukan perjumpaan dengan Tuhan yang pada awalnya hanya dianggap sebagai suatu kebetulan-kebetulan semata.

Kisah Nyata kehidupan Alex AbrahanTanuseputera

Film ini terinspirasi oleh kisah nyata kehidupan Bapak Alex Abraham Tanuseputera. Yang mengalami pergumulan yang sangat luar biasa ketika dia menabrak seorang anak dimana anak tersebut hampir meninggal. Ditengah keputusasaannya, beliau berikrar akan menyerahkan seluruh kehidupannya untuk melayani Tuhan jika anak tersebut hidup dan pulih dari kecelakaan.

Doa Pertama “Optatissimus” yang dia ucapkan menjadi awal dari seluruh pelayanannya kepada Tuhan.

Point penting yang paling saya suka dari film ini adalah cinematography nya sangat indah. Dengan latar belakang Gunung Batok, Ranu Pane dan Padang Savana Bromo membuat memori saya kembali kepada kisah petualangan saya di Bromo.

Begitu banyaknya film belakangan ini yang saya lihat dengan menampilkan latar belakang keindahan alam Indonesia merupakan suatu hal positif yang sangat saya sukai, dan terutama Bromo membuat mata kita terkagum-kagum. “ohh ini syutingnya di Indonesia yach?”

Didalam film ini banyak menggunakan kata-kata yang dilantunkan penuh dengan bahasa puisi. Sederhana namun indah tapi penuh dengan makna.

yang terpenting tak terlihat oleh mata, hanya hati yang mampu melihatnya. (Little Prince, Antoine St. De Exupery).

 

Akordeon telah membawaku padanya. Musik adalah kuilku, dan aku memainkannya dengan sungguh-sungguh. Sampai kemudian,kusadari bahwa batinnya berumah ditempat yang berbeda (kutipan dari ayat 68 “optatissimus” )

Juga yang tidak kalah pentingnya adalah Accordion. Menurut saya ini ide yang sangat jenius. Seorang pemuda bermain alat musik accordion disebuah cafe menurut saya itu suatu hal yang sangat jarang ditampilkan di film manapun.

Awalnya Andreas bermain accordion sebagai mata pencaharian nya tapi setelah dia menemukan apa yang dia cari, accordion tersebut kemudian dia mainkan sebagai alat musik pengiring yang menemaninya melayani di gereja.

Dengan durasi 108 menit. Anda akan dimanjakan dengan pemandangan alam, puisi dan lantunan musik yang indah. Demikian sedikit ulasan saya mengenai film Optatissimus. Semoga menikmati dan jangan lupa menontonnya di bioskop favorite Anda.

Author: Adelina

I Love Yoga, Photograph and Travelling around the world (someday)

Leave a Reply