Perayaan Cap Go Meh di Candra Naya 24 Februari 2013

Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari.

Perayaan Cap Go Meh tahun ini saya ikut merayakan di Gedung Candra Naya, yaitu di Jalan Gajah Mada No. 188 Jakarta Barat. Waktu saya membaca petunjuk lokasi gedung tersebut, saya sempat bingung ini bangunan tepat nya dimana yach? Ternyata Gedung Candra Naya berada diantara Novotel Gajah Mada dan superblok Grand Central City. Dan tadinya saya mengira bahwa acara nya terbuka untuk umum ternyata acanya tertutup dan khusus tamu undangan saja. Tapi hal tersebut tidak mengurungkan niat saya, teman saya dan beberapa fotografer lainnya untuk tetap berada di area gedung tersebut. Acaranya berlangsung pukul 14:00 – 17:00, dimulai dengan acara kesenian khas Tionghoa Betawi. Para pemain pun mulai memainkan alat tiup dan drum mereka.

 

13

Di area depan lobby bangunan tersebut berjejer boneka wayang potehi. Potehi berasal dari kata pou 布 (kain), te 袋 (kantong) dan hi 戯 (wayang). Wayang Potehi adalah wayang boneka yang terbuat dari kain. Sang dalang akan memasukkan tangan mereka ke dalam kain tersebut dan memainkannya layaknya wayang jenis lain. Wayang Potehi merupakan salah satu budaya kesenian khas Tionghoa yang mana sekarang sudah diakui menjadi kebudayaan khas Indonesia. Lakon atau cerita yang sering dipertunjukkan adalah kisah Sie Djin Koei.

Sie Djin Koei diambil dari tokoh salah satu jendral pada zaman Dinasti Tang di masa pemerintahan Kaisar Taizong yang sangat terkenal. Kisah kepahlawanan Sie Djin Koei yang identik dengan baju dan kuda berwarna putih ini selama masa hidupnya sangat digemari karena memberikan inspirasi bagi banyak orang.

 

15

 

img-228092658

 

3

 

4

 

16

 

5

Gedung Candra Naya adalah rumah seorang mayor China yang bertugas mengurusi kepentingan masyarakat Tionghoa di Batavia pada jaman penjajahan. Bangunan ini dibangun oleh keluarga Khouw Tian Sek yang merupakan tuan tanah pada masa itu. Dan disinilah lahir perkumpulan sosial Sin Ming Hui (perkumpulan Sinar Baru) yang bertujuan memberikan bantuan dan penerangan bagi orang yang membutuhkan pertolongan akibat perang dengan tugas mewakili masyarakat Tionghoa dalam kehidupan sosial masyarakat di Jakarta.

 

6

Ekterior dan Landscape disekitar Gedung Candra Naya. Dengan background kolom/tiang pendukung Grand Central City. Sungguh ironis sekali, hanya tersisa secuil sejarah diantara kemegahan modernisasi.

 

7

Jika kita masuk kebagian dalam gedung ini, terdapat sebuah ruangan besar yang terhubung dengan beberapa ruangan lainnya. Di dalamnya terdapat banyak kaligrafi bahasa Mandarin, ornamen pada pintu dan jendela khas Tionghoa masih terawat dengan baik.

Disebelah kiri dan kanan bangunan inti terdapat ruangan-ruangan lain, dimana saat itu diisi dengan pameran batik/baju, makanan sesuai dengan nuansa Cap Go Meh. Diantara gedung Candra Naya (tepatnya dibelakang gedung ini) terdapat kolam ikan lengkap dengan koi warna-warni dan pancuran dari mulut patung katak. Dan disini dibuat prasmanan untuk melayani tamu undangan makan dan bersilaturami dan dibuat seperti pesta taman di sore hari.

 

8

 

9

 

11

 

Sumber : Wikipedia dan Detik Travel

 

Adelina Tampubolon – GOD is good all the time

 

Author: Adelina

I Love Yoga, Photograph and Travelling around the world (someday)

Leave a Reply