Perayaan Imlek 2013

Setiap tahun perayaan Imlek, saya selalu datang mengunjungi klenteng ini. Selain buat hunting foto saya merasa seru saja berada di keramaian orang yang merayakan nuansa keagamaan yang bukan saya anut. Saya merasa bahwa keanekaragaman agama, budaya dan sosial yang ada di negara kita memperkaya diri kita untuk saling hormat menghormati dan saling menghargai.

Kebanyakan teman-teman saya adalah keturunan Tionghoa, tapi hanya sedikit dari mereka yang masih merayakan. Walaupun merayakan perayaan Imlek, mereka merayakan nya bukan sebagai perayaan agama tetapi tradisi berkumpul bersama keluarga. Sayang yach.. kan saya bisa dapat banyak angpao seandainya mereka masih merayakan..hehehehe (becanda)

Dan kebetulan tahun ini perayaan Imlek jatuh pada hari Minggu. Selesai ibadah di salah satu gereja di daerah Sudirman saya melangkahkan kaki menuju Pancoran, Kota.

 

DSC_0096 copy

Perayaan Imlek di Klenteng Pancoran.

Berhubung saya berada di suasana Imlek di salah satu klenteng tertua di Jakarta, saya jadi ingin tahu sejarah dan latar belakang klenteng ini. Oleh karena ini saya coba cari dan saya cantumkan disini sehingga saya ingat dan juga membantu teman-teman yang lain untuk membaca, hehehehe..

 

DSC_0114 copy

Letaknya di Jalan Kemenangan Tiga, dulu namanya Jalan Klenteng di daerah Pecinan, Glodok, Jakarta Barat. Di sebelah kanan klenteng ini, dulunya ada sebuah menara, dalam bahasa Belanda disebut toren. Oleh masyarakat setempat, kata tersebut dilafalkan “Torong” sehingga ada Gang Torong.

DSC_0106 copy

Klenteng ini pertama kali dibangun pada tahun 1650 oleh seorang Letnan Tionghoa bernama Kwee Hoen dan dinamakannya Koan Im Teng (Paviliun Koan Im).

Dalam perkembangannya hampir seabad kemudian klenteng ini ikut dirusak dan dibakar dalam peristiwa pembantaian etnis Tionghoa terbesar dalam sejarah penjajahan Belanda di Indonesia. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 9 – 12 Oktober 1740 ini mengakibatkan terbunuhnya sekitar 10.000 jiwa warga yang tidak bersalah, yang kemudian terkenal dengan sebutan Tragedi Pembantaian Angke.

Klenteng dipugar kembali pada tahun 1755 oleh Kapten Oei Tjhie dan diberi nama “Kim Tek Ie”. Dengan sejarah tidak kurang dari 350 tahun, dapat dipastikan gedung ini beserta artifak-nya merupakan salah satu peninggalan sejarah yang sangat berharga.

 

Menikmati Keberagaman melalui Perayaan Imlek.

Adapun ritual sembahyang adalah dengan terlebih dahulu menyalakan dupa, lalu meletakkan sesajen berupa buah-buahan dan kue mangkok tepat di depan patung Dewi Kwan Im. Tak heran, Dewi Kwan Im adalah ‘tuan rumah’ dari Vihara Dharma Bakti.

Setelah itu, para warga Tionghoa akan membakar kertas doa, menuang minyak ke dalam gelas untuk dibakar sumbunya, dan menunggu Ketua Pengurus Yayasan di kelenteng tersebut untuk mengocok Ciam Si. Ciam Si merupakan prediksi secara umum untuk tahun mendatang. Pada tahun ini, Ciam Si akan diisi dengan berbagai prediksi seputar keuangan dan bisnis. Setelah mendapat Ciam Si, masing-masing orang akan meminum air suci agar mendapat berkah dari Dewi Kwan Im.

Selesai melakukan ritual di kelenteng ini, warga Tionghoa bisa mengunjungi dua kelenteng lain yang masih satu komplek dengan Jin DeYuan. Letaknya persis di sebelah kanan dan kiri kelenteng utama, serta ‘dihuni’ oleh dewa yang berbeda pula. Salah satunya bernama Hui Tek Tun Ong, dengan tuan rumah Dewa Elang. Di kelenteng ini terdapat Lilin Sumur Tujuh, tempat masyarakat Tionghoa berdoa untuk kesehatan, pekerjaan, juga kelancaran hidup sepanjang tahun.

DSC_0139 copy

 

DSC_0150 copy

 

DSC_0167 copy

DSC_0169 copy

DSC_0186 copy

Untuk kesempatan perayaan Imlek di tahun depan, saya akan mengusahakan meliput klenteng lain yang ada di Jakarta. Untuk memperkaya pengetahuan saya akan klenteng-klenteng lain yang ada disekitar kita.

DSC_0189 copy

 

Author: Adelina

I Love Yoga, Photograph and Travelling around the world (someday)

Tinggalkan Balasan