Happy Chinese New Year 10 Februari 2013

Setiap tahun perayaan Imlek, saya selalu datang mengunjungi klenteng ini. Selain buat hunting foto saya merasa seru saja berada di keramaian orang yang merayakan nuansa keagamaan yang bukan saya anut. Saya merasa bahwa keanekaragaman agama, budaya dan sosial yang ada di negara kita memperkaya diri kita untuk saling hormat menghormati dan saling menghargai.

Kebanyakan teman-teman saya adalah keturunan Tionghoa, tapi hanya sedikit dari mereka yang masih merayakan. Walaupun merayakan perayaan Imlek, mereka merayakan nya bukan sebagai perayaan agama tetapi tradisi berkumpul bersama keluarga. Sayang yach.. kan saya bisa dapat banyak angpao seandainya mereka masih merayakan..hehehehe (becanda)

Dan kebetulan tahun ini perayaan Imlek jatuh pada hari Minggu. Selesai ibadah di salah satu gereja di daerah Sudirman saya melangkahkan kaki menuju Pancoran, Kota.

 

DSC_0096 copy

 

Berhubung saya berada di suasana Imlek di salah satu klenteng tertua di Jakarta, saya jadi ingin tahu sejarah dan latar belakang klenteng ini. Oleh karena ini saya coba cari dan saya cantumkan disini sehingga saya ingat dan juga membantu teman-teman yang lain untuk membaca, hehehehe..

 

DSC_0114 copy

 

Letaknya di Jalan Kemenangan Tiga, dulu namanya Jalan Klenteng di daerah Pecinan, Glodok, Jakarta Barat. Di sebelah kanan klenteng ini, dulunya ada sebuah menara, dalam bahasa Belanda disebut toren. Oleh masyarakat setempat, kata tersebut dilafalkan “Torong” sehingga ada Gang Torong.

 

DSC_0106 copy

 

Klenteng ini pertama kali dibangun pada tahun 1650 oleh seorang Letnan Tionghoa bernama Kwee Hoen dan dinamakannya Koan Im Teng (Paviliun Koan Im).

Dalam perkembangannya hampir seabad kemudian klenteng ini ikut dirusak dan dibakar dalam peristiwa pembantaian etnis Tionghoa terbesar dalam sejarah penjajahan Belanda di Indonesia. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 9 – 12 Oktober 1740 ini mengakibatkan terbunuhnya sekitar 10.000 jiwa warga yang tidak bersalah, yang kemudian terkenal dengan sebutan Tragedi Pembantaian Angke.

Klenteng dipugar kembali pada tahun 1755 oleh Kapten Oei Tjhie dan diberi nama “Kim Tek Ie”. Dengan sejarah tidak kurang dari 350 tahun, dapat dipastikan gedung ini beserta artifak-nya merupakan salah satu peninggalan sejarah yang sangat berharga.

Kata “Kim Tek Ie” yang berarti “Kelenteng Kebajikan Emas” mengingatkan manusia agar tidak hanya mementingkan kehidupan materialisme tetapi lebih mementingkan kebajikan antar manusia.

Dengan luas tanahnya sebesar 3000 m² Kim Tek Ie termasuk biara besar (Tay Bio).

Pada saat ini, Klenteng Kim Tek Ie bukan saja terpelihara dengan baik sebagai tempat yang suci bagi pengikut Buddhis Mahayana, bahkan Tay Bio ini terus dipugar agar dapat terus menyamai kemegahannya seperti saat ia didirikan beberapa abad silam.

Selain gedung klenteng yang sudah berumur 247 tahun, Kim Tek Ie juga memiliki sejumlah artifak yang kurang lebih seumur dengan bangunannya.

Kelenteng ini juga merupakan salah satu dari empat kelenteng besar yang berada di bawah pengelolaan Kong Koan atau Dewan Tionghoa. Keempat kelenteng itu adalah Kelenteng Goenoeng Sari, Kelenteng Toa Peh Kong (di Ancol), Kelenteng Jin Deyuan sendiri serta kelenteng Hian Thian Shang Te Bio di Tanah Tandjoeng yang sekarang sudah musnah.

 

Adapun ritual sembahyang adalah dengan terlebih dahulu menyalakan dupa, lalu meletakkan sesajen berupa buah-buahan dan kue mangkok tepat di depan patung Dewi Kwan Im. Tak heran, Dewi Kwan Im adalah ‘tuan rumah’ dari Vihara Dharma Bakti.

Setelah itu, para warga Tionghoa akan membakar kertas doa, menuang minyak ke dalam gelas untuk dibakar sumbunya, dan menunggu Ketua Pengurus Yayasan di kelenteng tersebut untuk mengocok Ciam Si. Ciam Si merupakan prediksi secara umum untuk tahun mendatang. Pada tahun ini, Ciam Si akan diisi dengan berbagai prediksi seputar keuangan dan bisnis. Setelah mendapat Ciam Si, masing-masing orang akan meminum air suci agar mendapat berkah dari Dewi Kwan Im.

Selesai melakukan ritual di kelenteng ini, warga Tionghoa bisa mengunjungi dua kelenteng lain yang masih satu komplek dengan Jin DeYuan. Letaknya persis di sebelah kanan dan kiri kelenteng utama, serta ‘dihuni’ oleh dewa yang berbeda pula. Salah satunya bernama Hui Tek Tun Ong, dengan tuan rumah Dewa Elang. Di kelenteng ini terdapat Lilin Sumur Tujuh, tempat masyarakat Tionghoa berdoa untuk kesehatan, pekerjaan, juga kelancaran hidup sepanjang tahun.

Kelenteng ketiga di komplek ini bernama Wihara Dharma Sakti, dengan ‘tuan rumah’ Dewa Karma. “Di sinilah para umat berdoa agar diberikan karma yang baik di kehidupan selanjutnya, karena kami menganut kepercayaan reinkarnasi,” tutur A Yau sebagai pengurus Vihara Dharma Sakti.

 

DSC_0139 copy

 

DSC_0150 copy

 

DSC_0167 copy

 

DSC_0169 copy

 

DSC_0186 copy

 

Untuk kesempatan di tahun depan saya akan mengusahakan meliput klenteng lain yang ada di Jakarta, untuk memperkaya pengetahuan saya akan klenteng-klenteng lain yang ada disekitar kita.

 

DSC_0189 copy

 

Sumber Wikipedia dan Detik Travel

 

Adelina Tampubolon – GOD is good all the time

 

 

Author: Adelina

I Love Yoga, Photograph and Travelling around the world (someday)

Leave a Reply